Kamis, 18 November 2021

Mengenal Lebih Jauh tentang Biofuel

Halo teman-teman, apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan baik ya 😊

Aku mau sharing tentang materi Eco Blogger Gathering minggu lalu (12/11/2021) nih hehehe. Di gathering kemarin membicarakan seputar mengenal lebih jaul tentang biofuel, loh. Cukup berat bahasannya bagiku karena banyak istilah asing yang sebelumnya tidak kuketahui, tapi secara keseluruhan materinya daging banget. Hal ini tidak diragukan lagi karena pada gathering ini mengundang pembicara yang mumpuni di bidangnya, yaitu kak Ricky dari Traction Energy Asia dan kak Kukuh dari Madani Berkelanjutan. Tentu saja acara ini semakin menarik dan seru karena dipandu oleh kak Fransiska Soraya dan bertemu dengan teman-teman blogger lainnya yang menambah insight baru seputar biofuel. Nah langsung saja aku bahas ya, baca sampai akhir!



Sebagai orang Indonesia, tentu saja kita tidak asing dengan makanan yang digoreng. Makanan Indonesia memang didominasi oleh sesuatu yang digoreng, seperti nasi goreng, ayam goreng, bahkan gorengan yang banyak jenisnya. Makanan ini tentu saja nikmat dan membuat kita ketagihan. Namun, tahukah kamu minyak bekas makanan yang digoreng punya potensi untuk dimanfaatkan untuk program biofuel?

Sebelumnya, biofuel merupakan bahan bakar nabati (BBN) yang berasal dari bahan-bahan nabati atau dihasilkan dari bahan-bahan organik lain. Jenis bahan bakar nabati yang sering dikenal adalah biodiesel dan etanol. Bahan bakar nabati digunakan untuk mengganti bahan bakar fosil karena bahan bakar nabati termasuk ramah lingkungan dibandingkan dengan bahan bakar fosil yang berdampak pada kerusakan lingkungan hingga memicu krisis iklim.

Pemerintah Indonesia sendiri telah mencanangkan peraturan pengganti bahan bakar fosil melalui pengembangan bahan bakar nabati berbasis sawit, seperti biodiesel. Mengapa bahan bakar nabati harus dikembangkan? Hal ini dilakukan karena bahan bakar nabati hanya menghasilkan seperempat dari karbondioksida (CO2) yang dihasilkan dari bahan bakar fosil. Selain itu, minyak sawit juga merupakan tanaman penghasil minyak nabati terproduktif dan paling ekonomis.

Meskipun begitu, penggunaan minyak sawit untuk bahan bakar nabati menimbulkan kontroversi karena minyak sawit sering dikaitkan dengan deforestasi. Hal ini karena perkebunan kelapa sawit ilegal sering membuka lahan hutan sehingga menimbulkan punahnya beragam keanekaragaman hayati dan memicu terjadinya krisis iklim. Selain itu, sektor ini merupakan penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di Indonesia karena pembukaan lahan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Dari hal ini, kita bisa melihat bahwa penggunaan kelapa sawit sebagai bahan bakar nabati sangat dilematis. Oleh karena itu, dibutuhkan keselarasan kebijakan bahan bakar nabati dengan komitmen iklim. Pada praktiknya, deforestasi merupakan dampak dari pengggunaan kebijakan bahan bakar nabati. Namun, melarang penggunaan bahan baku sawit pun bukan solusi. Diperlukan peraturan penggunaan sawit secara berkelanjutan sebagai solusi untuk mengatasi dilema sawit di Indonesia.

Bahan bakar nabati merupakan masa depan penggunaan bahan bakar yang potensial karena berperan penting sebagai energi terbarukan dan alternatif yang akan memberikan dampak luar biasa untuk manusia dan lingkungan, sehingga perlu dimanfaatkan secara bijaksana dan berkelanjutan. Perkebunan sawit mandiri pun perlu dilibatkan dalam rantai pasok biodiesel mengingat bahwa 40% lahan sawit didominasi oleh perkebunan sawit mandiri. Memasukkan mereka ke dalam rantai pasok biodiesel akan berdampak pada kesejahteraan para petani sawit, mengurangi deforestasi, dan menjaga hutan alam yang tersisa. 

Nah, seperti yang disinggung di awal bahwa minyak goreng sisa pun bisa dimanfaatkan sebagai biodiesel loh! Menurut data dari Traction Energy Asia, konsumsi minyak goreng di Indonesia (2019) mencapai 13 juta ton atau 16,2 juta kilo liter. Hanya kurang dari 18, 5% sisa konsumsi minyak goreng yang dapat dikumpulkan sebagai bahan baku minyak jelantah. Lalu kemana mengalirnya minyak sisa yang telah digunakan? Jadi, dari total 3 juta KL minyak jelantah, hanya kurang dari 570 ribu KL yang dimanfaatkan sebagai biodisel maupun kebutuhan lainnya. Sebagian besarnya digunakan untuk minyak goreng daur ulang dan ekspor. Jika minyak jelantah dikelola dengan baik, maka berpotensi untuk memenuhi 32% kebutuhan biodiesel nasional, loh! Selain itu, dapat berkontribusi dalam mengurangi 91,7% emisi karbondioksida. Wah banyak juga ya manfaatnya!

Nah itu tadi seputar biofuel dan beragam manfaatnya. Semoga sedikit yang aku tulis bisa menambah pengetahuan teman-teman ya! sampai jumpa ditulisan berikutnya!

Baca Selengkapnya

Minggu, 17 Oktober 2021

5 Hal yang Bisa Kita Lakukan dalam Menghadapi Pemanasan Global

Halo teman-teman, apa kabar? Semoga dalam keadaan baik-baik saja ya. Di tulisan kali ini aku mau membahas tentang konten Eco Blogger Gathering kemarin (15/10/2021). Pada gathering Eco Blogger Squad kemarin mengangkat tema “Bumi Semakin Panas, Kode Merah Bagi Kemanusiaan” dengan pembicara kak Anggi dari Madani Berkelanjutan dengan dipandu oleh kak Fransiska Soraya seperti biasa. Acaranya seru sekali dan tentu saja materinya pun “daging” banget. Selain itu, kita juga bisa bertukar pikiran dan pendapat antar blogger, sehingga kitab isa saling mendapatkan insight baru.



Kamu merasa nggak sih saat ini cuaca sangat panas sekali? Tapi kadang-kadang tiba-tiba hujan deras terus tiba-tiba panas lagi. Kira-kira kenapa ya? Mungkin Sebagian dari kita sadar bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja, yah betul this is the red code for humanity! Menurut Laporan dari IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), suhu permukaan global 1,09C lebih tinggi dalam sepuluh tahun antara 2011 – 2020 dan lima tahun terakhir ini adalah suhu terpanas dalam sejarah sejak 1850, loh! Menurut Paris Agreement seharusnya pemanasan global tak melebihi 1,5 derajat celcius.

Selain itu, ternyata pengaruh manusia sangat mungkin menjadi alasan utama dalam terjadinya krisis iklim. Indonesia juga merupakan yang “highly vulnerable” terhadap dampak krisis iklim. Namun sayangnya, Indonesia sendiri merupakan negara ter-denial dalam hal ketidakpercayaan bahwa pemanasan global dipicu oleh manusia (Berdasarkan survey yang dilakukan oleh YouGove, perusahaan analitik data di Inggris, sebagai bagian dari Proyek Globalisme YouGove-Cambridge dan The Guardian pada 2019). Lalu, sebagai generasi muda, apa yang bisa kita lakukan? Simak tulisan ini sampai habis ya!

1. Eat less meat

Pasti kamu sudah tidak asing lagi dengan pernyataan bahwa salah satu cara menekan pemanasan global adalah dengan mengurangi makan daging. Yup, hal ini senada dengan laporan IPCC bahwa memerangi pemanasan global bisa dimulai dengan urusan kita dalam memilih makanan, loh! Menurut Food and Algiculture Organization, daging merupakan salah satu produk pangan dengan emisi terbesar, misalnya daging sapi per kilogramnya bisa menghasilkan 26,5 kilogram gas emisi.

Faktor penyebabnya antara lain karena produksi pangan sapi, kotoran ternak, distribusi daging, pembukaan lahan untuk peternakan. Ketika lahan makin berkurang, populasi semakin bertambah, dibungkus dengan iklim yang semakin memanas, maka ini merupakan kombinasi yang mengkhawatirkan.

Namun masalahnya adalah di negara yang masih berkembang seperti di Indonesia sendiri masyarakatnya masih kekurangan dalam mengonsumsi daging. Sementara itu, di negara maju masyarakatnya terlalu banyak makan daging. Hal ini menunjukkan bahwa kelas menengah ke atas masih terlalu banyak mengonsumsi daging, sedangkan kalangan kelas bawah masih kekurangan. Oleh karena itu dibutuhkan terlebih dahulu kesadaran tentang hal ini. Berita baiknya saat ini tren vegan dan vegetarian meningkat secara signifikan, banyak orang yang mulai sadar tentang gaya hidup ini, dan banyak juga restoran yang mulai menyediakan menu atau berkonsep vegan dan vegetarian, loh. Semoga semakin banyak lagi orang yang sadar akan korelasi antara konsumsi daging dengan pemanasan global, sehingga kita semua sebagai penduduk bumi bisa menekan pemanasan global.

2. Say no to plastic bags

Di keseharian kita pasti kerap menemukan plastik, baik dalam bentuk kantong plastik maupun botol hingga sedotan. Tahukah kamu bahwa plastik mengandung metana dan etilena yang merupakan senyawa berbahaya. Hal inilah yang berkontribusi dalam pemanasan global karena senyawa tersebut menghasilkan gas rumah kaca. Belum lagi plastik sangat amat sulit terurai, karena dibutuhkan waktu ratusan hingga ribuan tahun. Apalagi pernah ada penemuan sebuah tumpukan besar plastik di Samudera Pasifik. Sampah plastik tersebut sangat berpotensi mengganggu dan mencemari keseimbangan ekosistem laut. Contohnya pernah ada Paus yang mati dan terdampar di Wakatobi yang ternyata di dalam perutnya penuh dengan sampah plastik. Sangat mengenaskan bukan?

Nah, jadi yuk mulai kebiasaan diet plastik, misalnya dengan selalu membawa kantong belanjaan sendiri dan membawa botol sendiri. Jika kita terpaksa menggunakan plastik, maka jangan langsung membuangnya, tetapi simpan dan gunakan lagi untuk nanti. Memang sulit untuk memulai kebiasaan baik dan simple ini, tetapi kalau tidak mulai sekarang kapan lagi? Bahkan kalau kita tidak melakukan tindakan pencegahan pun pemanasan global akan tetap terjadi.

 

3. Stop food waste

Hayo siapa di sini yang kalau makan sering nggak habis? Hehehe aku adalah salah satunya. Tahukah kamu bahwa ternyata menyisakan makanan dan membuangnya begitu saja ternyata berdampak besar buat lingkungan, mengapa begitu? Mari kita lihat data! Menurut The Economist Intelligece unit, sepertiga dari seluruh makanan di dunia (1,3 juta ton makanan) terbuang sia-sia. Kemudian, setiap orang di Indonesia ternyata menghasilkan 300 kg sampah makanan per tahunnya, loh. Sangat banyak ya?!

Lalu apa kaitannya dengan pemanasan global? Jadi, ternyata makanan yang terbuang sia-sia dan tertimbun di tanah akan terurai dan menghasilkan metana yang merupakan gas rumah kaca. Hal inilah yang menyebabkan naiknya suhu bumi, karena faktanya gas metana 25 kali lebih kuat dalam memerangkap panas matahari dibandingkan dengan karbondioksida. Belun lagi dalam proses pembuatan pangan pun berarti harus terbuang sia-sia karena makanan yang tersisa.

Sungguh memprihatinkan juga karena ternyata kita sebagai individu yang masih bisa makan dengan mudah tetapi masih juga membuang-buang makanan. Sementara itu, di luar sana masih banyak orang yang kurang beruntung dan bahkan kekurangan gizi. Oleh karena itu, kita harus lebih peduli dan sadar tentang dampak dari kebiasaan food waste ini. Yuk mulai perubahan kecil dari diri sendiri!

4. Thrift the clothes 

Tahukah kamu bahwa ternyata thrifting bukan cuma ramah di kantong, tetapi thrifting juga punya manfaat lainnya buat lingkungan, loh. Apalagi saat ini tren belanja baju bekas sedang melonjak tinggi di kalangan anak muda dan semakin populer di kalangan masyarakat luas. Lalu sebenarnya apa peran thrifthing buat lingkungan? Hal ini karena industri fashion seringkali mengeluarkan banyak desain baru dalam waktu singkat, sehingga membuat masyarakat lebih konsumtif dalam membelanjakan pakaian agar selalu mengikuti tren. Sementara itu, industri fashion juga menyumbang limbah yang banyak dan sulit terurai, misalnya dalam membuat satu celana jeans saja dibutuhkan beberapa ratus air galon. Oleh karena itu, membeli pakaian bekas alias thrifting sama saja membuat kita berperan dalam mengurangi pencemaran limbah dan menjaga lingkungan.

5. Speak up! 

Cara yang paling mudah adalah speak up! Sering-seringlah menyuarakan tentang isu lingkungan, krisis iklim, dan pemanasan global kepada orang di sekitar tentang betapa mendesak dan pentingnya isu ini. Kamu juga bisa mengikuti beragam komunitas yang peduli terhadap isu lingkungan, baik di sekolah, kampus, atau di manapun. Dengan menyuarakan ini, maka akan berdampak pada tumbuhnya kesadaran orang-orang di sekitarmu yang belum paham akan isu lingkungan dan pemanasan global. Yuk jadikan isu lingkungan sebagai bahan obrolan di tongkrongan!

 

Nah, itu dia lima hal sederhana yang bis akita lakukan dalam menghadapi pemanasan global. Semoga bermanfaat ya teman-teman! 😊

Salam generasi restorasi, untukmu bumiku! 💚

 

Baca Selengkapnya

Minggu, 05 September 2021

Menikmati Nasi Jamblang, Kuliner Otentik Cirebon

Halo teman-teman, apa kabar?

Semoga sehat selalu ya! Sudah lama juga aku nggak menulis tentang segmen "jajan-jajan". Nah, kali ini aku mau bahas salah satu kuliner otentik dari Cirebon, Jawa Barat, yaitu nasi Jamblang. Kamu sudah pernah mendengarnya? Atau bahkan makanan ini terdengar asing bagimu? Tenang, di tulisan ini aku akan membahas kuliner khas Cirebon ini. Baca sampai habis ya! Enjoy!

 

Sekilas Sejarah Nasi Jamblang

Nasi Jamblang atau disebut juga Sega Jamblang merupakan nasi yang disajikan dengan beragam lauk-pauk yang bisa kita pilih sesuai selera. Hal yang menjadikannya khas adalah nasi ini dibungkus dengan daun jati. Digunakannya daun jati sebagai alas atau pembungkus membuat nasi ini memiliki aroma sedap, rasanya menjadi semakin gurih, dan membuat nasi tak cepat basi. Oiya, kata "Jamblang" sendiri merujuk pada daerah Jamblang (Desa Jamblang) yang terletak di sebelah barat Kabupaten Cirebon, loh. Jadi, istilah Jamblang tidak berkaitan dengan buah jamblang alias duwet (Syzygium cumini). Nasi Jamblang biasanya dijajakan secara prasmanan dengan beragam menu lauk pauk, yang di antaranya adalah daging, telur dadar/goreng/bulat, perkedel, cumi, tahu, tempe, berbagai jenis ikan, sambal goreng, dan masih banyak lagi.

 


Lalu sebenarnya asal-usul nasi Jamblang itu bagaimana ya? Melansir dari Indonesia Kaya, ada banyak versi tentang asal usul nasi Jamblang. Namun, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa nasi Jamblang tercipta pada masa penjajahan Belanda, tepatnya saat ada proyek pembangunan jalan Anyer – Panarukan yang juga melewati Cirebon. Pembangunan Jalan Raya Pos tersebut menerapkan sistem kerja paksa, sehingga para pekerja tidak diberi upah maupun makanan. Terciptalah nasi yang dibungkus dengan daun jati yang bertujuan agar nasi bisa bertahan lebih lama saat dibawa sebagai bekal untuk bekerja. Itulah mengapa nasi Jamblang sebenarnya seperti nasi pada umumnya dengan berbagai lauk rumahan. Namun yang membuatnya berbeda adalah daun jatinya yang membuatnya memiliki aroma khas dan menjadikan cita rasanya semakin gurih.

 

Nasi Jamblang Mang Dul yang Melegendaris

Setelah sekian lama, nasi jamblang pun diperjualbelikan dengan cara keliling atau di kedai sendiri. Ada banyak juga pilihan tempat yang menjajakan nasi Jamblang dengan beragam lauk pauk yang istimewa. Salah satunya adalah Nasi Jamblang Mang Dul yang sudah berdiri sejak tahun 1970. Tak heran jika tempat ini selalu ramai dikunjungi banyak orang. Letaknya di tengah kota semakin membuat tempat ini mudah dijangkau. Tepatnya di Jalan DR. Cipto Mangunkusumo No.8, Pekiringan, Kec. Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat.



Dari banyaknya tempat yang menjual nasi jamblang, tetapi Nasi Jamblang Mang Dul selalu menjadi primadona. Hal ini disebabkan oleh cita rasanya yang tetap terjaga kelezatannya sejak berdiri hingga kini dikelola oleh generasi kedua. Selain itu, di sini juga menawarkan lebih dari 20 lauk pauk yang bisa kita pilih sesuka hati, dari mulai berbagai telor, tahu, tempe, balakutak, cumi, berbagai jenis ikan, pepes, sambal goreng, dan masih banyak lagi. Karena tetap mempertahankan keontetikannya, Nasi Jamblang Mang Dul telah menjadi langganan Mantan Presiden loh, yaitu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

Jadi penasaran kan seenak apa sih nasi Jamblang? Nah, buat kamu yang berkesempatan mengunjungi Cirebon jangan lupa ya mampir untuk mencicipi kuliner khas Cirebon yang satu ini. Harganya juga cukup terjangkau karena disesuaikan dengan lauk yang kita pilih loh. Oiya, nasi Jamblang juga bisa ditake-away menggunakan daun jati yang merupakan ciri khasnya loh, jadi bisa untuk oleh-oleh untuk dibawa pulang juga. Super duper yummy & simple!

Baca Selengkapnya

Minggu, 15 Agustus 2021

Jagakali Art Festival: Merawat Lingkungan, Menjaga Seni Budaya demi Bumi yang Lestari

Sejak zaman dahulu, sungai memiliki peranan signifikan dalam peradaban umat manusia. Sungai Nil yang menjadi sumber peradaban Mesir, Mesopotamia, Sumeria, sungai Eufrat, dan sungai Indus di Pakistan-India. Di Indonesia sendiri, kerajaan-kerajaan maritim Nusantara zaman dahulu telah menggunakan sungai sebagai lalu lintas manusia, bahan baku hingga budaya. Tak heran peradaban besar di dunia bahkan di Indonesia pun lahir di tepi sungai. Sebut saja Sriwijaya, Batanghari, Musi hingga Batavia yang lahir, tumbuh, dan besar di tepi sungai.



Pada masa lalu, sungai punya peranan vital sebagai jalur perdagangan, migrasi, dan transportasi. Namun, saat ini sungai seperti tak ternilai lagi. Hal ini disebabkan oleh manusia yang mengalihfungsikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah raksasa. Alhasil sungai pun menjadi tak terawat, airnya tak sejernih dulu lagi, alamnya tak lestari. Pengetahuan yang masih kurang dan minimnya kepedulian merawat alam disinyalir menjadi faktor yang membuat hal ini terjadi. Desakan ekonomi dan pembangunan yang tak berkelanjutan pun telah menyebabkan kemiskinan dan datangnya bencana bagi manusia dan ekosistem di sekitarnya.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengkampanyekan kepedulian terhadap lingkungan dan edukasi pentingnya menjaga alam agar tetap lestari. Setiap dari kita bisa berperan dalam memberikan kontribusi nyata untuk lingkungan terlepas dari latar belakang kita. Dimulai dari kesadaran diri sendiri, menyadarkan orang di sekitar kita, sampai dengan menyadarkan masyarakat luas. Salah satu cara yang menarik adalah dengan mengadakan festival seni dan budaya yang mengangkat isu lingkungan. Seni dan budaya merupakan sesuatu yang indah dan lekat dengan kita, sehingga menyadarkan banyak orang mengenai isu lingkungan melalui seni dan budaya dinilai lebih efektif dan efesien.

Salah satu festival seni dan budaya bertemakan kelestarian lingkungan adalah “Jagakali Art Festival” yang digelar di kota Cirebon, Jawa Barat sejak 2006 silam. “Jagakali” bermakna “menjaga sungai”, sebuah konsep festival yang bertujuan untuk menyadarkan banyak orang tentang pentingnya sungai sebagai sumber kehidupan dan sumber peradaban sejak zaman dahulu. Namun, sungai pada saat ini telah tercemar dan jauh dari peradaban. Manusia yang tak bertanggungjawab telah mengubah sungai sedemikian tercemarnya sehingga sungai menjadi tempat sampah raksasa. Melihat keresahan ini, Mas Nico Broer selaku penggagas "Jagakali Art Festival” ingin mengampanyekan pentingnya menjaga lingkungan dan mengemasnya melalui seni dan budaya, sehingga diharapkan kita bisa merenungi tentang kondisi lingkungan saat ini yang sedang tidak baik-baik saja.





Jagakali Art Festival merupakan event tahunan yang terdiri dari banyak sekali rangkaian acaranya, dari mulai workshop pengolahan sampah, workshop seni rupa, mendongeng, beragam lomba, bersih-bersih sungai, menanam pohon sampai acara puncaknya yang berupa pertunjukkan berbagai macam seni. Tak heran acara ini pun digelar selama beberapa hari dan dihadiri oleh beragam komunitas, baik komunitas di Cirebon sendiri maupun dari luar kota. Dari mulai komunitas seni, budaya, musik, pecinta kucing, dan masih banyak lagi. Bahkan pada 2019 lalu, acara Jagakali Art Festival ini dihadiri juga oleh peserta dari berbagai negara loh, di antaranya adalah Algeria, Azerbaijan, Ekuador, Hungaria, Inggris, Iran, Malawi, Meksiko, Mesir, Rusia, Slovakia, Timor Leste, Tunisia, Timor Leste, dan masih banyak lagi. Hal ini membuat acara ini semakin banyak menyerap atensi masyarakat sehingga dibubuhkan kata tambahan pada event 2019 kemarin, yaitu menjadi “Jagakali International Art Festival” atas partisipasi berbagai negara yang menampilkan pertunjukkan seni dan workshop di event ini.

Setiap tahunnya, Jagakali Art Festival mengangkat tema yang berbeda. Pada tahun 2019, yang merupakan event pertama berskala Internasional dan sekaligus acara terakhir sebelum pandemi Covid-19 melanda, mengangkat tema “Cinta Sejati.” Tema tersebut dipilih karena ketua pelaksana melihat bahwa pada 2019 lalu terdapat banyak isu yang terjadi di Indonesia, dari mulai politik hingga lingkungan. Kita dihadapkan pada berbagai isu perselisihan antar manusia, polemik antar agama, isu rasial, dan kerusakan lingkungan yang terus terjadi membuat manusia yang seharusnya berperan sebagai khalifah di bumi kehilangan tujuannya untuk menyeimbangkan ekosistem lingkungan. Jika ditarik kesimpulan, sebenarnya isu tersebut mencuat karena kurangnya rasa cinta kepada Tuhan, cinta pada sesama, dan cinta pada lingkungan. Jika kita mampu mencintai Tuhan seutuhnya, maka kita juga akan mencintai makhluk ciptaan-Nya.

Pada event tahun 2019 diselenggarakan di Cadas Ngampar, Kopiluhur, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Lokasi tersebut merupakan dataran tertinggi di Kota Cirebon dan sekaligus berdekatan dengan Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Kopi Luhur. Sebagai informasi, TPA Kopi Luhur menampung seluruh sampah dari kota Cirebon dan terus bertambah setiap tahunnya. Menurut Kompas, jumlah sampah yang terus meningkat membuat TPA Kopi Luhur diperkirakan penuh tiga tahun lagi. Jika tanpa pengelolaan sampah di masyarakat, maka TPA tersebut tidak akan digunakan lagi. Oleh karena itu, pelaksana memutuskan event Jagakali Art Festival pun digelar di tempat tersebut yang diharapkan dapat mengedukasi masyarakat sekitar dan mencari solusi bagi permasalahan lingkungan yang tengah terjadi. 



Dari festival ini, kita bisa melihat bahwa ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk membangkitkan kepedulian kita terhadap lingkungan. Seni dan budaya adalah media yang bisa menarik banyak atensi publik. Kita semua memiliki irisan kepentingan yang sama untuk menjaga bumi terlepas dari apapun latar belakang kita. Selain itu, dengan adanya pertunjukkan beragam seni dan budaya, maka kita juga turut menjaga kelestariannya. Melestarikan budaya artinya ikut menjaga lingkungan.

Seniman memiliki rasa dan kepekaan tersendiri, terutama tentang alam dan lingkungan karena alam adalah sumber inspirasi. Seniman dan alam saling berkaitan erat. Kampanye menjaga lingkungan melalui festival oleh seniman dinilai efektif dalam membangkitkan kesadaran masyarakat tentang kondisi lingkungan yang sedang tidak baik-baik saja, sehingga diharapkan semakin banyak yang peduli lagi dan mau berkontribusi dalam menjaga bumi.

Untukmu bumiku, demi bumi yang lestari.


Referensi:

About Cirebon. (2019). Jagakali Internasional Art Festival, Kampanyekan Lingkungan Hidup Melalui Seni Budaya. Diakses melalui https://aboutcirebon.id/jagakali-internasional-art-festival-kampanyekan-lingkungan-hidup-melalui-seni-budaya/ pada 15 Agustus 2021

Ashri, Abdullah Fikri. (2021). Tanpa Pengelolaan Sampah, Usia TPA Cirebon Tersisa Tiga Tahun. Diakses melalui https://www.kompas.id/baca/nusantara/2021/06/07/tanpa-pengelolaan-sampah-usia-tpa-kota-cirebon-tersisa-tiga-tahun pada 15 Agustus 2021

Cirebon Kota. (2021). Tentang Cirebon. Diakses melalui https://www.cirebonkota.go.id/tentang-cirebon/geografis/ pada 15 Agustus 2021

Jagakali Art Festival [@jagakaliartfest]. 30 Oktober 2019. Dokumentasi Jagakali Art Festival 2019 [Foto Instagram]. Diakses melalui https://www.instagram.com/p/B4PgvegDC3V/?utm_medium=copy_link pada 01 Agustus 2021.


Baca Selengkapnya

Minggu, 08 Agustus 2021

5 Alasan Pentingnya Lahan Gambut yang Jarang disebut

Halo teman-teman apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan sehat ya di situasi pandemi yang tidak pasti ini. Kali ini aku mau sharing tentang keseruan online gathering Eco Blogger Squad di bulan Agustus ini. Pada gathering kali ini mengangkat topik "Lindungi Lahan Gambut, Lindungi Fauna Indonesia", keren banget kan topiknya walaupun acara sebelumnya juga tidak kalah keren hehehe. 



Aku juga sangat tertarik dengan topik kali ini karena aku selama ini selalu penasaran dengan gambut dan mengapa sering terjadi kebakaran di lahan gambut. Setelah mengikuti gathering, aku mendapat insight dan pengetahuan baru tentang seluk beluk gambut yang jarang tersebut. Acara ini tentunya menghadirkan pembicara yang expert di bidangnya, yaitu Iola Abas selaku Koordinator Nasional Pantau Gambut dan Dr. Herlina Agustin selaku Peneliti Pusat Studi Komunikasi Lingkungan Fakultas Komunikasi Universitas Padjadjaran, serta acara ini semakin seru karena dipandu oleh kak Ocha (Fransiska Soraya). Nah, aku mau share di sini pengetahuan tentang gambut yang aku dapatkan sehingga harapannya semakin banyak orang yang tercerahkan tentang pentingnya gambut yang jarang disebut. 😊


Apa itu gambut dan bagaimana proses terbentuknya?

Menurut Pantau Gambut, gambut adalah lahan basah yang terbentuk dari timbunan materi organik yang berasal dari sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut, dan jasad hewan yang membusuk. Timbunan tersebut menumpuk dan dibutuhkan waktu ribuan tahun loh hingga membentuk endapan yang tebal yang disebut lahan gambut. Pada umumnya, gambut ditemukan di area genangan air, seperti rawa, cekungan antara sungai, maupun daerah pesisir.



Gambut memegang peranan penting dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Gambut juga merupakan rumah bagi cadangan karbon dunia yang tersimpan di dalam tanah dan tempat bagi ekosistem yang sangat kaya. Lalu, apa saja sih sebenarnya peran penting gambut untuk kehidupan kita? Nah, untuk lebih lengkapnya simak penjelasannya di bawah ini!


1. Indonesia memiliki lahan gambut terbesar kedua di dunia

Secara keseluruhan, lahan gambut Indonesia menempati peringkat keempat terbesar di dunia dengan luar sekitar 15 – 20 juta Ha. Sementara itu berdasarkan parameter lahan gambut tropis, Indonesia menempati peringkat terbesar kedua di dunia setelah lahan gambut Amazon di Brazil. Lahan gambut tersebar di Sumatera, Kalimantan, hingga Papua. Sayangnya, lahan gambut Indonesia sedang terancam karena kerusakan yang sangat masif dilakukan. Hal ini dipicu karena banyak orang yang menganggap bahwa lahan gambut seperti lahan terbuang yang dapat dikeringkan dan dialihfungsikan.

Penebangan skala besar untuk mengosongkan lahan pun terus menerus dilakukan untuk kepentingan pertanian dan perkebunan. Dampaknya, lahan gambut pun semakin mongering sehingga keseimbangan air dan karbon pun terus terancam. Hal tersebut yang akan memicu punahnya lahan gambut dan  jika terus-menerus dikeringkan, maka akan memicu kebakaran. Keadaan gambut yang mengenaskan membuat kita harus bisa melakukan restorasi karena sebagai salah satu pemegang lahan gambut terluas, Indonesia punya peran penting dalam menjaga keseimbangan iklim. Lahan gambut Indonesia mempunyai karakteristik unik, yaitu mampu menyimpan karbon 20 kali lipat lebih banyak daripada hutan hujan tropis atau tanah yang bermineral dan 90% di antaranya tersimpan di dalam tanah.   


2. Gambut sebagai pencegah dampak banjir dan kemarau

Lahan gambut memiliki daya serap yang tinggi sehingga berfungsi sebagai tandon air. Gambut seperti spons, yang mampu menyerap dan menampung air sebesar 480 – 850 persen dari bobot keringnya. Hal inilah yang membuat gambut berperan dalam mengurangi dampak bencana banjir dan kemarau. Ketika musim kemarau tiba, gambut memiliki cadangan air sehingga mencegah terjadinya kekeringan. Sebaliknya, ketika musim hujan pun gambut dapat menyerap air sehingga mencegah terjadinya banjir. Ketika gambut dikeringkan dan dialihfungsikan, maka gambut kehilangan daya serapnya. Oleh karena itu, tak heran jika kita melihat bahwa bencana banjir terjadi di daerah yang seharusnya bisa dicegah dengan adanya lahan gambut, contohnya bencana banjir di Kalimantan Selatan pada awal tahun 2021 ini yang diperparah oleh rusaknya ekosistem gambut. Banjir tersebut tercatat sebagai banjir yang terparah di Kalimantan Selatan. Gambut yang seharusnya berfungsi sebagai penyerap air menjadi tidak optimal karena ekosistemnya dirusak dan terjadi alih fungsi lahan, sungguh ironis bukan?

3. Habitat keanekaragaman hayati

Lahan gambut telah menjadi rumah bagi berbagai macam flora dan fauna. Hal ini dipengaruhi oleh karakteristik lahan gambut yang merupakan ekosistem unik dengan pH asam, miskin hara, bahan organik yang tebal, dan selalu terendam air. Dengan demikian, hanya flora dan fauna tertentu yang mampu beradaptasi dalam kondisi tersebut. Gambut merupakan rumah bagi pohon-pohon kayu besar dan tumbuhan bawah yang lebat. Jenis flora yang dapat ditemukan di lahan gambut di antaranya adalah ramin (Gonystylus Bancanus), jelutung rawa (Dyera Costulata), punak (Tetramerista Glabra), bungur (Lagerstroemia Speciosa), dan meranti rawa (Shorea Pauciflora).

Gambut juga merupakan habitat dari fauna asli yang hidup di darat dan di laut. Berdasarkan data WWF pada tahun 2009 yang dipublikasikan CIFOR.org, tercatat sebanyak 35 spesies mamalia, 150 spesies burung, dan 34 spesies ikan ditemukan di lahan gambut. Beberapa fauna tergolong ke dalam spesies endemik dan dilindungi, seperti halnya buaya sinyulong, langur, orangutan, harimau Sumatera, dan beruang madu.

4. Penunjang ekonomi masyarakat lokal

Seperti yang sudah disebut di poin sebelumnya bahwa lahan gambut menyimpan keanekaragaman hayati yang sangat kaya. Berbagai flora dan fauna yang habitatnya di lahan gambut dapat menjadi sumber pangan dan menunjang ekonomi masyarakat lokal. Mereka bergantung pada lahan gambut karena kekayaannya dapat dimanfaatkan untuk beternak, budidaya ikan, dan bertani bagi masyarakat yang tinggal di wilayah gambut. Ekosistem gambut cocok untuk dikembangbiakan berbagai jenis ikan dan ditumbuhi berbagai jenis tanaman. Namun, ketika gambut terdegradasi maka akan berdampak juga pada ekonomi masyarakat lokal. Misalnya, masyarakat Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, yang terdampak pengeringan gambut oleh perusahaan perkebunan. Masyarakat tersebut yang dahulunya menanam padi dan beternak ikan menjadi terpengaruh karena air gambut menyebabkan bencana banjir sehingga mereka tidak bisa lagi bertani dan berternak. Dengan begitu, perekonomian mereka pun terancam.

5. Mencegah perubahan iklim

Seperti yang sudah disebutkan bahwa lahan gambut kaya akan karbon. Cadangan karbon yang disimpan di lahan gambut mencapai angka dua kali lebih banyak dari hutan yang ada di seluruh dunia. Oleh karena itu,  ketika lahan gambut dikeringkan, diganggu, dan dialihfungsikan, maka cadangan karbon tersebut akan terlepas ke udara dan menjadi sumber utama gas rumah kaca.

 

Nah, itu dia alasan penting peran gambut untuk kehidupan kita dan entitas lainnya yang berada di sekitar gambut. Seperti yang sudah disebutkan bahwa ternyata gambut sedang terancam karena dialihfungsikan dan dikeringkan. Jika situasi ini terus berlanjut, maka akan mengancam kehidupan kita dan memperparah krisis iklim yang tengah melanda. Oleh karena itu, dibutuhkan restorasi gambut untuk mengembalikan fungsi ekologinya dan untuk kesejahteraan ekosistem dan kita semua.

 

Dibutuhkan waktu ribuan tahun untuk membentuk lahan gambut, tapi ironisnya hanya butuh waktu sesaat untuk merusaknya. Ayo semangat menebarkan dan mengedukasi orang-orang tentang pentingnya gambut yang jarang disebut!

Salam lestari generasi restorasi! 💚


Referensi:

https://www.pantaugambut.id/

https://www2.cifor.org/ipn-toolbox/wp-content/uploads/pdf/C1.pdf

Baca Selengkapnya

Kamis, 01 Juli 2021

Menciptakan Generasi Restorasi melalui Youth Virtual Conference 2021 #UntukmuBumiku

Pada 06 Juni 2021, aku berpatisipasi dalam acara Youth Virtual Conference 2021 dengan tema “Untukmu, Bumiku.” Acaranya sangat seru dan aku banyak belajar hal baru, serta bertemu dengan orang baru yang luar biasa keren-keren. Oiya, sebelumnya kamu udah tahu belum nih, Youth Virtual Conference itu apa? Ok, jadi Youth Virtual Conference merupakan acara yang diselenggrakan oleh Tempo Media Grup bersama orang muda Indonesia dengan 9 inspirator di berbagai bidang untuk menyuarakan keadilan iklim.



Seperti yang sudah kita tahu bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja, pandemi Covid-19 mengepung masyarakat dunia, perubahan iklim nampak jelas terjadi yang membuat dunia mempunyai urgensi untuk menyelamatkan bumi. Oleh karena itu, sebagai orang muda Indonesia kita harus berkontribusi, menyatukan gagasan, harapan, energi, berdiskusi mengatasi masalah ini. Maka, Youth Virtual Conference menjadi wadah untuk menyatakan aspirasi dan inspirasi. Menghadirkan 9 inspirator, yaitu kak Abex (Ecotraveler), Soraya Cassandra (Kebun Kumara), Ramon Tungka (Aktor), Lasma Natalia (Perempuan Penjaga Bumi Pilihan Tempo), Kynan Tegar (Pemuda Adat Sungai Utik), Agni Pratisha (Mantan Putri Indonesia), Rara Sekar (Penyanyi), Duanyam (Green Business, Green Living), dan KPop4Planet (Pecinta K-Pop yang Peduli Lingkungan). 9 inspirator tersebut membahas bagaimana kita bisa berkontribusi menjaga bumi secara eksklusif bersama peserta terpilih.

Oiya jadi untuk berpatisipasi pada acara ini, para peserta mendaftarkan diri terlebih dahulu dan memilih ingin berdiskusi secara eksklusif bersama siapa. Saat mendaftar, kita juga harus memberikan alasan yang kuat mengapa kita mau mengikuti acara ini. Kalau aku saat itu memilih berdiskusi dengan kak Abex sang ecotraveler alasannya karena aku pribadi sangat menyukai traveling, tertarik untuk traveling sambil tetap menjaga bumi, dan ingin menambah insight baru dari sisi kak Abex bagaimana dia yang mencintai traveling (khususnya mendaki gunung) sambil tetap menjaga lingkungan.

Setelah menunggu beberapa hari, aku pun mendapat email yang menyatakan bahwa aku terpilih menjadi peserta Youth Virtual Conference. Aku senang sekali! Kemudian, aku pun bergabung di grup WhatsApp bersama para peserta lain yang memilih kak Abex juga. Seminggu sebelum acara, kak Alya selaku co fasilitator Youth Virtual Conference mengajak kami berdiskusi seputar traveling, menjaga bumi, krisis iklim, dan sejenisnya. Dari sini, aku jadi bisa menambah wawasan baru dari peserta lain yang berasal dari berbagai latar belakang dan tersebar di berbagai daerah.

Di hari-H acara, aku bertemu dengan seluruh peserta, co fasilitator, dan para inspirator secara virtual. Jadi, teknis acaranya adalah kita disatukan dalam ruang zoom, lalu dipecah ke dalam ruang-ruang yang sesuai dengan inspirator yang kita pilih. Setelah itu, kita bisa memilih ruang inspirator lain untuk ikut bergabung juga. Pokoknya seru banget deh!



Di ruang bersama inspirator yang aku pilih, yaitu kak Abex, kami pun berdiskusi. Kak Abex sendiri menceritakan pengalamannya yang sudah menyukai traveling dan mendaki gunung sejak kecil. Ketika mendaki gunung, kak Abex merasa risih dengan kebiasaan para pendaki, yaitu kebiasaan membuang sampah sembarangan. Bagi kak Abex, ketika mendaki gunung bisa dianalogikan seperti kita sedang bertamu ke rumah orang lain, maka kita harus menjaga sopan santun kita, termasuk menjaga kebersihan rumah tersebut. Oleh karena itu, ia pun mengatakan bahwa jangan sampai kita meninggalkan jejak selain telapak kaki dan jangan sampai alam ternodai dengan sampah-sampah para pendaki yang tak bertanggungjawab.

Sungguh ironi sekali melihat bahwa tren mendaki gunung saat ini karena ternyata sangat sering ditemukan para pendaki yang tak tahu diri membuang sampah sembarangan. Hal-hal kecil seperti ini jika dibiarkan pun akan menjadi hal besar. Bahkan citra pendaki Indonesia pun tercoreng di mancanegara karena kebiasaannya yang suka membuang sampah sembarangan. Traveling juga harus ada aturannya, alam harus tetap terjaga kelestariannya. Kita sebagai manusia bertanggungjawab untuk membuat bumi tetap lestari.

Setelah selesai sesi bersama kak Abex, aku pun berpindah ke ruang lain dan aku memilih ruang bersama KPop4planet. Aku juga pernah menulis tentang KPop4Planet di sini. Aku kagum pada para pecinta K-POP yang inisiatif untuk menggagas KPop4Planet. Dari sini, aku juga belajar bahwa mencintai suatu hal juga harus kritis, mencintai itu jangan apa adanya, mencintai harus saling membangun agar hal-hal yang dirasa mengganggu dapat segera diatasi. KPop4Planet merupakan manifestasi dari cinta yang tulus pada idola, tetapi tetap selaras dengan cinta pada bumi tempat yang kita pihaki. Figur-figur Kpop juga banyak yang mencintai bumi dan menjadi inspirasi untuk menggagas berbagai campaign Kpop4Planet. Sungguh keren sekali!

Acara Youth Virtual Conference menghasilkan “Manifesto Orang Muda untuk Perubahan Iklim”, yang dirumuskan oleh 223 orang muda dari seluruh Indonesia. Manifesto ini menegaskan komitmen orang muda untuk ambil bagian dalam restorasi lingkungan dan mengambil langkah antisipasi dan pencegahan dampak sosial-ekonomi perubahan iklim.








Seperti kata Robi Navicula bahwa setiap generasi punya revolusinya sendiri. Generasi saat ini punya revolusi membenahi lingkungan dan meredam dampak dari perubahan iklim. Maka kita adalah generasi restorasi yang mempunyai tanggung jawab menyebarkan semangat revolusi yang berpihak pada kelestarian bumi tempat kita berpijak. Revolusi bisa dimulai dari diri kita sendiri, dari hal kecil sekecil memulai hidup ramah lingkungan dan terus mengedukasi diri sendiri tentang pentingnya menjaga bumi. Setelah itu, kita bisa menyebarkan semangat ini pada orang sekitar. Kita bisa bergandengan tangan walaupun kita berbeda latar belakang maupun pandangan. Kita bisa bersama-sama berkontribusi menjaga bumi. Mari menyuarakan dan menyerukan pada dunia bahwa pertumbuhan bisa dan harus selaras dengan upaya menjaga dan merestorasi lingkungan.

Untukmu, Bumiku. Demi bumi yang lestari!

 

Baca Selengkapnya

Kamis, 10 Juni 2021

Cara Mudah Mencegah Karhutla dan Pandemi, Kira-Kira Bagaimana ya?

Halo teman-teman... Apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan sehat ya dan semoga masih semangat mencintai bumi. 😊

Ngomong-ngomong soal bumi nih, bulan Juni ada hari penting loh terkait bumi. Apa itu? Nah, tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia! Kenapa ya Hari Lingkungan Hidup harus diperingati? Ok terlepas dari sejarahnya, dari dulu memang sudah ada kesadaran negara-negara untuk berkomitmen menjaga lingkungan agar tetap lestari. Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi trigger bagi kita untuk merenungi lagi dan menyadari tentang pentingnya menjaga alam dan lingkungan. Keseimbangan ekosistem alam dan lingkungan harus dijaga karena di sinilah kita menumpang hidup. Mengingat fakta bahwa sampai saat ini bumilah yang menjadi planet ideal untuk ditempati manusia, berarti sebagai konsekuensinya kita harus bertanggung jawab terhadap kelestariannya karena hanya ada satu bumi.

Menurut UN Environment Program, tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini adalah  Restorasi Ekosistem. Apa aja sih bentuk restorasi ekosistem itu?

Di antaranya adalah reboisasi, menanam pohon, menghijaukan kota, mengubah pola makan, membersihkan sungai dan pantai. Tujuan restorasi ekosistem adalah membentuk generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan berdamai dengan alam.

Restorasi ekosistem itu penting loh karena seperti sudah kita tahu bahwa beberapa tahun ini kebakaran hutan dan lahan kian masif terjadi dan dilakukan. Selain itu, banyak bencana alam yang terjadi akibat ulah tangan manusia, termasuk pandemi Covid-19 yang tengah melanda dunia juga erat kaitannya disebabkan oleh perubahan tatanam ekosistem akibat kebakaran hutan loh!

Pada hari Jumat 4 Juni, aku mengikuti acara Eco Blogger Squad Online Gathering dengan tema “Cegah Karhutla, Cegah Pandemi” dalam rangka menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Tentunya acara ini sangat seru dan materinya “daging” banget, tidak kalah seru dengan online gathering sebelumnya. Apalagi pada gathering kali ini mengundang pembicara yang kompeten di bidangnya, yaitu Dedy Sukmara selaku Direktur Informasi dan Data Auriga Nusantara yang kali ini membahas tentang bencana tahunan kebakaran hutan dan lahan, serta ada dokter Alvi Muldani selaku Direktur Klinik di Yayasan Asri (Alam Sehat Lestari). Acara ini semakin seru karena dipandu oleh kak Fransiska Soraya dari Blogger Perempuan Network.



Bencana Karhutla yang Terus Melanda Indonesia Setiap Tahunnya

Selama dua dekade terakhir, bencana karhutla yang paling mengkhawatirkan terjadi pada dua tahun lalu atau pada tahun 2019 yang menyebabkan 1,6 hektar hutan dan lahan hangus dilalap api. Asap dari kebakaran hutan selalu memicu berbagai penyakit dan masalah, bahkan memanaskan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara tetangga. Tak heran jika bencana karhutla yang sering melanda menyebabkan Indonesia masuk ke dalam penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.

Pemicu karhutla sering dituding karena pengaruh kemarau panjang (El Nino) yang terjadi tiap tahunnya. Namun faktanya, karhutla terus terjadi bahkan di tahun-tahun tanpa kemarau panjang. Oleh karena itu, ada faktor lain yang dituding sebagai pemicu karhutla, yaitu ulah tangan manusia baik karena disengaja atau karena lalai. Kebakaran hutan dan lahan terus terjadi tiap tahunnya sehingga bencana ini menyebabkan Indonesia berkontribusi dalam kenaikan karbon yang signifikan secara global. Provinsi api yang sering terjadi karhutla dan menyumbang terjadinya kabut asap adalah Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Papua. 

Lalu, sebenarnya apa saja sih yang menyebabkan terjadinya karhutla?

Ada beberapa faktor penyebab karhutla yang bisa dibagi dua, yaitu faktor alami dan faktor tangan manusia. Faktor alami yang terjadi karena petir, aktivitas vulkanis, dan ground fire. Sementara itu, faktor tangan manusia terjadi karena adanya pembukaan lahan secara masif dengan cara membakar, perburuan, penggembalaan, konflik lahan, dan aktivitas lainnya. Faktanya adalah karhutla di Indonesia hanya satu persennya saja yang terjadi karena faktor alami loh, sedangkan 99% disebabkan oleh ulah tangan manusia, baik disengaja atau memang lalai. Miris sekali bukan?



Ada beberapa dampak yang terjadi akibat karhutla, di antaranya adalah dari segi biodiversitas menyebabkan hilangnya habitat dan penuruan populasi tumbuhan dan hewan. Selain itu, karhutla juga berdampak pada kesehatan, pendidikan, dan transportasi karena karhutla memicu adanya bencana kabut asap yang berpengaruh pada aspek kesehatan, sekolah yang terpaksa harus diliburkan, dan jarak pandang terganggu sehingga mempengaruhi transportasi. Karhutla juga berkontribusi pada cepatnya perubahan iklim dan pemanasan global. Aspek ekonomi juga ikut terdampak karena akibat karhutla sepanjang 2019, Indonesia mengalami kerugian sebanyak Rp72, 95 triliun.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah karhutla? Cara mudah yang bisa kita sebagai individu mencegah karhutlah adalah jangan membeli produk dari perusahaan yang melakukan kejahatan lingkungan, seperti melakukan praktik kebakaran hutan, merusak alam, dan aktivitas lain yang merusak hutan.

1. Membeli produk yang terdapat eco/green lable

2. Menanam pohon

Beberapa hal yang harus kita lakukan untuk menanggulangi karhutla.

1. Memperluas moratorium hutan dan gambut

2. Meningkatkan penegakkan hukum

3. Restorasi hutan dan gambut terdegredasi

4. Mendukung komunitas pemadam kebakaran dan kapabilitas pemantauan

5. Membangun infrastruktur hidrologis dan mendorong kapasitas respon dini

6. Memberi insentif ekonomi untuk tidak membakar.

Kaitan antara Karhutla dan Pandemi yang Melanda Dunia

Kebakaran hutan juga berkaitan dengan deforestasi. Keduanya saling berkorelasi dan berpengaruh pada kesehatan karena manusia dan lingkungan itu saring berkait erat. Masalah kesehatan yang timbul akibat dari kerusakan lingkungan itu sangat banyak loh! Salah satunya pandemi Covid-19 yang tengah melanda dunia.  Pandemi Covid-19 sendiri dipercaya dipicu oleh transmisi virus dari hewan ke manusia. Hewan terpaksa meninggalkan habitat aslinya karena meningkatnya kerusakan lingkungan.

Faktor penyebab pandemi:

Pandemi disebabkan oleh organisme spesifik dan telah berada bersamaan dalam beberapa ribu tahun, tetapi tidak menyebabkan penyakit. Kemudian, terjadilah kontak makhluk liar dengan manusia melalui domestikasi (harusnya hewan liar ada di alam), habitat liar terganggu, dan perdagangan hewan liar. Hal tersebut dipercepat dengan perjalanan udara, urbanisasi, dan perubahan iklim sehingga wabah pun menyebar dengan cepat.

Apa sih penyakit zoonosis itu?

Zoonosis adalah penyakit atau infeksi yang secara alami bisa ditransmisikan dari vertebrata ke manusia. Ada lebih dari 200 penyakit zoonosis, di antaranya ada rabies, HIV, ebola, salmonellosis, dan Covid-19.

Pencegahan dan kontrol:

1. Guideline yang aman dan sesuai dalam perawatan hewan di sektor agrikultur.

2. Kampanye mencuci tangan yang benar.

3. Menjaga hutan dan lingkungan

Deforestasi dan fragmentasi habitat

-         Sekitar 1,6 milyar manusia menggantungkan hidupnya pada hutan sehingga resiko bertemu kehidupan liar lebih tinggi.

-         Penebangan pohon mengubah lingkungan, ekosistem, dan mempengaruhi kemunculan penyakit dan transmisinya (Taylor, 1997).

 

Dari sini bisa kita pahami bahwa ada kaitan erat antara fragmentasi dan deforestasi dengan terjadinya pandemi. Kerusakan lingkungan menyebabkan ekosistem tidak lagi seimbang sehingga habitat hewan dan tanaman pun ikut terancam. Ketika hal ini terjadi maka hewan dengan mudah bermigrasi ke lingkungan manusia, maka penularan virus pun terjadi dan wabah lebih cepat menyebar.

Kita tahu bahwa saat ini bumi sedang tidak baik-baik saja. Sebagai manusia yang menumpang hidup di bumi, maka sudah selayaknya kita menghormati makhluk hidup lainnya. Kita harus memiliki akhlak yang baik terhadap alam dan belajar bahwa ada entitas lain yang berada di sekitar kita yang hidup dan perlu dihormati.

Sebagai generasi restorasi, mari kita berkontribusi dalam mengobati bumi yang sedang sakit dengan cara menjaga alam dan lingkungan. Karena sejatinya, menjaga bumi sama dengan menjaga keselamatan kita semua sebagai manusia. Maka biarkanlah hutan tetap hijau tanpa karhutla dan biarkanlah langit tetap membiru tanpa kabut asap! Salam lestari kawan! 


Baca Selengkapnya