Kamis, 01 Juli 2021

Menciptakan Generasi Restorasi melalui Youth Virtual Conference 2021 #UntukmuBumiku

Pada 06 Juni 2021, aku berpatisipasi dalam acara Youth Virtual Conference 2021 dengan tema “Untukmu, Bumiku.” Acaranya sangat seru dan aku banyak belajar hal baru, serta bertemu dengan orang baru yang luar biasa keren-keren. Oiya, sebelumnya kamu udah tahu belum nih, Youth Virtual Conference itu apa? Ok, jadi Youth Virtual Conference merupakan acara yang diselenggrakan oleh Tempo Media Grup bersama orang muda Indonesia dengan 9 inspirator di berbagai bidang untuk menyuarakan keadilan iklim.



Seperti yang sudah kita tahu bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja, pandemi Covid-19 mengepung masyarakat dunia, perubahan iklim nampak jelas terjadi yang membuat dunia mempunyai urgensi untuk menyelamatkan bumi. Oleh karena itu, sebagai orang muda Indonesia kita harus berkontribusi, menyatukan gagasan, harapan, energi, berdiskusi mengatasi masalah ini. Maka, Youth Virtual Conference menjadi wadah untuk menyatakan aspirasi dan inspirasi. Menghadirkan 9 inspirator, yaitu kak Abex (Ecotraveler), Soraya Cassandra (Kebun Kumara), Ramon Tungka (Aktor), Lasma Natalia (Perempuan Penjaga Bumi Pilihan Tempo), Kynan Tegar (Pemuda Adat Sungai Utik), Agni Pratisha (Mantan Putri Indonesia), Rara Sekar (Penyanyi), Duanyam (Green Business, Green Living), dan KPop4Planet (Pecinta K-Pop yang Peduli Lingkungan). 9 inspirator tersebut membahas bagaimana kita bisa berkontribusi menjaga bumi secara eksklusif bersama peserta terpilih.

Oiya jadi untuk berpatisipasi pada acara ini, para peserta mendaftarkan diri terlebih dahulu dan memilih ingin berdiskusi secara eksklusif bersama siapa. Saat mendaftar, kita juga harus memberikan alasan yang kuat mengapa kita mau mengikuti acara ini. Kalau aku saat itu memilih berdiskusi dengan kak Abex sang ecotraveler alasannya karena aku pribadi sangat menyukai traveling, tertarik untuk traveling sambil tetap menjaga bumi, dan ingin menambah insight baru dari sisi kak Abex bagaimana dia yang mencintai traveling (khususnya mendaki gunung) sambil tetap menjaga lingkungan.

Setelah menunggu beberapa hari, aku pun mendapat email yang menyatakan bahwa aku terpilih menjadi peserta Youth Virtual Conference. Aku senang sekali! Kemudian, aku pun bergabung di grup WhatsApp bersama para peserta lain yang memilih kak Abex juga. Seminggu sebelum acara, kak Alya selaku co fasilitator Youth Virtual Conference mengajak kami berdiskusi seputar traveling, menjaga bumi, krisis iklim, dan sejenisnya. Dari sini, aku jadi bisa menambah wawasan baru dari peserta lain yang berasal dari berbagai latar belakang dan tersebar di berbagai daerah.

Di hari-H acara, aku bertemu dengan seluruh peserta, co fasilitator, dan para inspirator secara virtual. Jadi, teknis acaranya adalah kita disatukan dalam ruang zoom, lalu dipecah ke dalam ruang-ruang yang sesuai dengan inspirator yang kita pilih. Setelah itu, kita bisa memilih ruang inspirator lain untuk ikut bergabung juga. Pokoknya seru banget deh!



Di ruang bersama inspirator yang aku pilih, yaitu kak Abex, kami pun berdiskusi. Kak Abex sendiri menceritakan pengalamannya yang sudah menyukai traveling dan mendaki gunung sejak kecil. Ketika mendaki gunung, kak Abex merasa risih dengan kebiasaan para pendaki, yaitu kebiasaan membuang sampah sembarangan. Bagi kak Abex, ketika mendaki gunung bisa dianalogikan seperti kita sedang bertamu ke rumah orang lain, maka kita harus menjaga sopan santun kita, termasuk menjaga kebersihan rumah tersebut. Oleh karena itu, ia pun mengatakan bahwa jangan sampai kita meninggalkan jejak selain telapak kaki dan jangan sampai alam ternodai dengan sampah-sampah para pendaki yang tak bertanggungjawab.

Sungguh ironi sekali melihat bahwa tren mendaki gunung saat ini karena ternyata sangat sering ditemukan para pendaki yang tak tahu diri membuang sampah sembarangan. Hal-hal kecil seperti ini jika dibiarkan pun akan menjadi hal besar. Bahkan citra pendaki Indonesia pun tercoreng di mancanegara karena kebiasaannya yang suka membuang sampah sembarangan. Traveling juga harus ada aturannya, alam harus tetap terjaga kelestariannya. Kita sebagai manusia bertanggungjawab untuk membuat bumi tetap lestari.

Setelah selesai sesi bersama kak Abex, aku pun berpindah ke ruang lain dan aku memilih ruang bersama KPop4planet. Aku juga pernah menulis tentang KPop4Planet di sini. Aku kagum pada para pecinta K-POP yang inisiatif untuk menggagas KPop4Planet. Dari sini, aku juga belajar bahwa mencintai suatu hal juga harus kritis, mencintai itu jangan apa adanya, mencintai harus saling membangun agar hal-hal yang dirasa mengganggu dapat segera diatasi. KPop4Planet merupakan manifestasi dari cinta yang tulus pada idola, tetapi tetap selaras dengan cinta pada bumi tempat yang kita pihaki. Figur-figur Kpop juga banyak yang mencintai bumi dan menjadi inspirasi untuk menggagas berbagai campaign Kpop4Planet. Sungguh keren sekali!

Acara Youth Virtual Conference menghasilkan “Manifesto Orang Muda untuk Perubahan Iklim”, yang dirumuskan oleh 223 orang muda dari seluruh Indonesia. Manifesto ini menegaskan komitmen orang muda untuk ambil bagian dalam restorasi lingkungan dan mengambil langkah antisipasi dan pencegahan dampak sosial-ekonomi perubahan iklim.








Seperti kata Robi Navicula bahwa setiap generasi punya revolusinya sendiri. Generasi saat ini punya revolusi membenahi lingkungan dan meredam dampak dari perubahan iklim. Maka kita adalah generasi restorasi yang mempunyai tanggung jawab menyebarkan semangat revolusi yang berpihak pada kelestarian bumi tempat kita berpijak. Revolusi bisa dimulai dari diri kita sendiri, dari hal kecil sekecil memulai hidup ramah lingkungan dan terus mengedukasi diri sendiri tentang pentingnya menjaga bumi. Setelah itu, kita bisa menyebarkan semangat ini pada orang sekitar. Kita bisa bergandengan tangan walaupun kita berbeda latar belakang maupun pandangan. Kita bisa bersama-sama berkontribusi menjaga bumi. Mari menyuarakan dan menyerukan pada dunia bahwa pertumbuhan bisa dan harus selaras dengan upaya menjaga dan merestorasi lingkungan.

Untukmu, Bumiku. Demi bumi yang lestari!

 

Baca Selengkapnya

Kamis, 10 Juni 2021

Cara Mudah Mencegah Karhutla dan Pandemi, Kira-Kira Bagaimana ya?

Halo teman-teman... Apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan sehat ya dan semoga masih semangat mencintai bumi. 😊

Ngomong-ngomong soal bumi nih, bulan Juni ada hari penting loh terkait bumi. Apa itu? Nah, tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia! Kenapa ya Hari Lingkungan Hidup harus diperingati? Ok terlepas dari sejarahnya, dari dulu memang sudah ada kesadaran negara-negara untuk berkomitmen menjaga lingkungan agar tetap lestari. Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi trigger bagi kita untuk merenungi lagi dan menyadari tentang pentingnya menjaga alam dan lingkungan. Keseimbangan ekosistem alam dan lingkungan harus dijaga karena di sinilah kita menumpang hidup. Mengingat fakta bahwa sampai saat ini bumilah yang menjadi planet ideal untuk ditempati manusia, berarti sebagai konsekuensinya kita harus bertanggung jawab terhadap kelestariannya karena hanya ada satu bumi.

Menurut UN Environment Program, tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini adalah  Restorasi Ekosistem. Apa aja sih bentuk restorasi ekosistem itu?

Di antaranya adalah reboisasi, menanam pohon, menghijaukan kota, mengubah pola makan, membersihkan sungai dan pantai. Tujuan restorasi ekosistem adalah membentuk generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan berdamai dengan alam.

Restorasi ekosistem itu penting loh karena seperti sudah kita tahu bahwa beberapa tahun ini kebakaran hutan dan lahan kian masif terjadi dan dilakukan. Selain itu, banyak bencana alam yang terjadi akibat ulah tangan manusia, termasuk pandemi Covid-19 yang tengah melanda dunia juga erat kaitannya disebabkan oleh perubahan tatanam ekosistem akibat kebakaran hutan loh!

Pada hari Jumat 4 Juni, aku mengikuti acara Eco Blogger Squad Online Gathering dengan tema “Cegah Karhutla, Cegah Pandemi” dalam rangka menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Tentunya acara ini sangat seru dan materinya “daging” banget, tidak kalah seru dengan online gathering sebelumnya. Apalagi pada gathering kali ini mengundang pembicara yang kompeten di bidangnya, yaitu Dedy Sukmara selaku Direktur Informasi dan Data Auriga Nusantara yang kali ini membahas tentang bencana tahunan kebakaran hutan dan lahan, serta ada dokter Alvi Muldani selaku Direktur Klinik di Yayasan Asri (Alam Sehat Lestari). Acara ini semakin seru karena dipandu oleh kak Fransiska Soraya dari Blogger Perempuan Network.



Bencana Karhutla yang Terus Melanda Indonesia Setiap Tahunnya

Selama dua dekade terakhir, bencana karhutla yang paling mengkhawatirkan terjadi pada dua tahun lalu atau pada tahun 2019 yang menyebabkan 1,6 hektar hutan dan lahan hangus dilalap api. Asap dari kebakaran hutan selalu memicu berbagai penyakit dan masalah, bahkan memanaskan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara tetangga. Tak heran jika bencana karhutla yang sering melanda menyebabkan Indonesia masuk ke dalam penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.

Pemicu karhutla sering dituding karena pengaruh kemarau panjang (El Nino) yang terjadi tiap tahunnya. Namun faktanya, karhutla terus terjadi bahkan di tahun-tahun tanpa kemarau panjang. Oleh karena itu, ada faktor lain yang dituding sebagai pemicu karhutla, yaitu ulah tangan manusia baik karena disengaja atau karena lalai. Kebakaran hutan dan lahan terus terjadi tiap tahunnya sehingga bencana ini menyebabkan Indonesia berkontribusi dalam kenaikan karbon yang signifikan secara global. Provinsi api yang sering terjadi karhutla dan menyumbang terjadinya kabut asap adalah Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Papua. 

Lalu, sebenarnya apa saja sih yang menyebabkan terjadinya karhutla?

Ada beberapa faktor penyebab karhutla yang bisa dibagi dua, yaitu faktor alami dan faktor tangan manusia. Faktor alami yang terjadi karena petir, aktivitas vulkanis, dan ground fire. Sementara itu, faktor tangan manusia terjadi karena adanya pembukaan lahan secara masif dengan cara membakar, perburuan, penggembalaan, konflik lahan, dan aktivitas lainnya. Faktanya adalah karhutla di Indonesia hanya satu persennya saja yang terjadi karena faktor alami loh, sedangkan 99% disebabkan oleh ulah tangan manusia, baik disengaja atau memang lalai. Miris sekali bukan?



Ada beberapa dampak yang terjadi akibat karhutla, di antaranya adalah dari segi biodiversitas menyebabkan hilangnya habitat dan penuruan populasi tumbuhan dan hewan. Selain itu, karhutla juga berdampak pada kesehatan, pendidikan, dan transportasi karena karhutla memicu adanya bencana kabut asap yang berpengaruh pada aspek kesehatan, sekolah yang terpaksa harus diliburkan, dan jarak pandang terganggu sehingga mempengaruhi transportasi. Karhutla juga berkontribusi pada cepatnya perubahan iklim dan pemanasan global. Aspek ekonomi juga ikut terdampak karena akibat karhutla sepanjang 2019, Indonesia mengalami kerugian sebanyak Rp72, 95 triliun.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah karhutla? Cara mudah yang bisa kita sebagai individu mencegah karhutlah adalah jangan membeli produk dari perusahaan yang melakukan kejahatan lingkungan, seperti melakukan praktik kebakaran hutan, merusak alam, dan aktivitas lain yang merusak hutan.

1. Membeli produk yang terdapat eco/green lable

2. Menanam pohon

Beberapa hal yang harus kita lakukan untuk menanggulangi karhutla.

1. Memperluas moratorium hutan dan gambut

2. Meningkatkan penegakkan hukum

3. Restorasi hutan dan gambut terdegredasi

4. Mendukung komunitas pemadam kebakaran dan kapabilitas pemantauan

5. Membangun infrastruktur hidrologis dan mendorong kapasitas respon dini

6. Memberi insentif ekonomi untuk tidak membakar.

Kaitan antara Karhutla dan Pandemi yang Melanda Dunia

Kebakaran hutan juga berkaitan dengan deforestasi. Keduanya saling berkorelasi dan berpengaruh pada kesehatan karena manusia dan lingkungan itu saring berkait erat. Masalah kesehatan yang timbul akibat dari kerusakan lingkungan itu sangat banyak loh! Salah satunya pandemi Covid-19 yang tengah melanda dunia.  Pandemi Covid-19 sendiri dipercaya dipicu oleh transmisi virus dari hewan ke manusia. Hewan terpaksa meninggalkan habitat aslinya karena meningkatnya kerusakan lingkungan.

Faktor penyebab pandemi:

Pandemi disebabkan oleh organisme spesifik dan telah berada bersamaan dalam beberapa ribu tahun, tetapi tidak menyebabkan penyakit. Kemudian, terjadilah kontak makhluk liar dengan manusia melalui domestikasi (harusnya hewan liar ada di alam), habitat liar terganggu, dan perdagangan hewan liar. Hal tersebut dipercepat dengan perjalanan udara, urbanisasi, dan perubahan iklim sehingga wabah pun menyebar dengan cepat.

Apa sih penyakit zoonosis itu?

Zoonosis adalah penyakit atau infeksi yang secara alami bisa ditransmisikan dari vertebrata ke manusia. Ada lebih dari 200 penyakit zoonosis, di antaranya ada rabies, HIV, ebola, salmonellosis, dan Covid-19.

Pencegahan dan kontrol:

1. Guideline yang aman dan sesuai dalam perawatan hewan di sektor agrikultur.

2. Kampanye mencuci tangan yang benar.

3. Menjaga hutan dan lingkungan

Deforestasi dan fragmentasi habitat

-         Sekitar 1,6 milyar manusia menggantungkan hidupnya pada hutan sehingga resiko bertemu kehidupan liar lebih tinggi.

-         Penebangan pohon mengubah lingkungan, ekosistem, dan mempengaruhi kemunculan penyakit dan transmisinya (Taylor, 1997).

 

Dari sini bisa kita pahami bahwa ada kaitan erat antara fragmentasi dan deforestasi dengan terjadinya pandemi. Kerusakan lingkungan menyebabkan ekosistem tidak lagi seimbang sehingga habitat hewan dan tanaman pun ikut terancam. Ketika hal ini terjadi maka hewan dengan mudah bermigrasi ke lingkungan manusia, maka penularan virus pun terjadi dan wabah lebih cepat menyebar.

Kita tahu bahwa saat ini bumi sedang tidak baik-baik saja. Sebagai manusia yang menumpang hidup di bumi, maka sudah selayaknya kita menghormati makhluk hidup lainnya. Kita harus memiliki akhlak yang baik terhadap alam dan belajar bahwa ada entitas lain yang berada di sekitar kita yang hidup dan perlu dihormati.

Sebagai generasi restorasi, mari kita berkontribusi dalam mengobati bumi yang sedang sakit dengan cara menjaga alam dan lingkungan. Karena sejatinya, menjaga bumi sama dengan menjaga keselamatan kita semua sebagai manusia. Maka biarkanlah hutan tetap hijau tanpa karhutla dan biarkanlah langit tetap membiru tanpa kabut asap! Salam lestari kawan! 


Baca Selengkapnya

Minggu, 09 Mei 2021

Mini Soft Cookies ala New York Style: Rekomendasi Kue Lebaran edisi Support Produk Lokal

Bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri membawa berkah untuk kita semua, tak terkecuali bagi pelaku bisnis. Ada banyak orang yang memanfaatkan momentum Ramadan dan Lebaran untuk menjalankan bisnis seasonal, dari mulai berjualan bermacam-macam takjil, perlengkapan sholat, busana muslim, hingga hampers dan parsel lebaran. Biasanya nih dalam sebuah hampers dan atau parsel isinya itu pasti minimal terdiri dari berbagai macam kue kering, ya nggak? Meskipun ada juga yang mengkombinasikannya dengan berbagai pernak-pernik atau benda lainnya.

Berbicara tentang kue kering nih, biasanya yang pasti ada di Hari Raya sebagai kudapan yang disajikan di meja terdiri dari nastar, kastangel, putri salju, lidah kucing, dan masih banyak lagi. Namun, pernah nggak sih kamu merasa bosan dengan kudapan yang itu-itu saja? Atau kamu pengen kudapan kue kering yang berbeda untuk mewarnai Lebaran-mu kali ini? Nah, aku mau merekomendasikan kudapan Lebaran yang berbeda, tapi tetap istimewa. Kira-kira apa ya? Hihihi ini masih kue kering juga kok! Tadaaaaa cookies a.k.a kukis.😆



Yup, ini cookies alias kukis yang merupakan kue kering yang dipanggang dengan berbentuk tipis dan rasanya manis. Cookies ini aku beli dari kawanku di satupersatu.official. Aku suka banget sama cookies ini karena unik banget alias berbeda dengan kebanyakan cookies yang beredar di pasaran. Rasa manisnya pas, agak chewy, sangat soft di dalam, tapi crispy di luar, dan taburan chocochips-nya nggak pelit! Pokoknya yummy sekali! Good to go!

Meskipun handmade, dalam proses pembuatannya menggunakan bahan-bahan yang premium loh sehingga menghasilkan rasa yang nggak diragukan lagi dan pastinya berkualitas. Cookies ini berbentuk kecil sehingga dinamakan mini soft cookies. Mini soft cookies ini kiblatnya ke New York Style soft cookies, loh! Tau nggak itu apa? Kalau biasanya kita makan cookies itu kesannya pasti crunchy atau renyah kan?! Nah kalo cookies ala New York Style itu kesannya soft di dalam dan crunchy di luar (crunchy on the outside, but soft or melted on the inside).



Oiya, cookies ini juga berwarna merah dengan rasa red velvet yang original. Tau nggak rasa red velvet itu rasa apa? Yang pasti bukan rasa yang pernah ada ya….😄 Jadi, red velvet merupakan rasa yang dihasilkan dari percampuran cacao powder, soda, dan cuka sehingga terbentuklah rasa red velvet yang unik ini! Selain rasa redvelvet original, ada beberapa varian lainnya loh! di antaranya ada red velvet cheese dan red velvet marshmallow. Menarik yaaa, pasti nggak sabar buat nyobain ketiga varian rasanya 😊

Redvelvet cookies ini merupakan produk utama dari satupersatu.official. Satu Persatu merupakan project buat praktik kuliah tata boga kawanku loh. Nah semoga aja dari jualan karena praktik kuliah bisa jadi titik awal untuk terjun sebagai entrepreneur yang sukses dan bisa berkembang sampai bisa membuka lapangan pekerjaan. Buat temen-temen yang penasaran dengan produk dari satupersatu, silakan cek aja di akun instagramnya di sini dan jangan ragu kontak aja buat beli produknya ya!



Cookies bisa menjadi salah satu kudapan istimewa kamu dalam menyambut dan merayakan Hari Kemenangan. Kita juga bisa menunjukkan dukungan kita untuk pelaku usaha, UMKM, dan bangga buatan Indonesia dengan cara membeli hasil produk mereka sebagai kontribusi kita untuk memajukan ekonomi lokal. Yuk saling membantu untuk Indonesia yang lebih maju!

Baca Selengkapnya

Jumat, 07 Mei 2021

Kpop4Planet: Mencintai K-Pop sambil Menyebarkan Kesadaran tentang Krisis Iklim

Dewasa ini, krisis iklim menjadi isu penting yang harus digaungkan oleh siapapun, kapanpun, dan dimanapun mengingat bahwa kondisi bumi saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Sejalan dengan itu, banyak pula para selebritis, artis, public figure yang juga punya kepedulian besar terhadap isu lingkungan dan krisis iklim yang tengah melanda. Tak terkecuali bagi para K-Pop idol yang juga menunjukkan kepedulian yang sama. Tak sedikit dari K-Pop idol gencar menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan yang tercermin dari beberapa perilaku, baik melalui penerapan green lifestyle, melalui karya seni, ataupun berkampanye secara langsung.



Adapun beberapa bintang K-POP yang rajin menggaungkan kepedulian terhadap bumi di antaranya adalah sebagai berikut.

Lee Hyori 

Lee Hyori merupakan penyanyi asal Korea Selatan yang menunjukkan kepedulian terhadap bumi. Hal ini tercermin dari gaya hidupnya yang menerapkan green lifestyle. Rumahnya pun dirancang sedemikian rupa sehingga ramah lingkungan, di antaranya menggunakan material dari alam, menggunakan panel surya, dan membangun taman yang asri. Lee Hyori juga peduli terhadap kesejahteraan hewan, ia pun mengadopsi beberapa ekor anjing dan kucing. Lee Hyori berkontribusi pada lingkungan dan vokal dalam menyuarakan isu lingkungan. Tindakannya juga akan memberikan dampak baik karena dari level individu, ia bisa menyebarkan semangat untuk peduli bumi, mengedukasi, dan menyebarkan informasi tentang isu lingkungan pada para penggemarnya dan orang-orang di sekitarnya.

Red Velvet

Red Velvet telah terpilih sebagai Duta Hari Udara Bersih Internasional oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 7 September 2020. Tugas Red Velvet atas terpilihnya meraka sebagai Duta Hari Udara Bersih Internasional adalah menyadarkan masyarakat bahwa bumi yang kita tinggali penuh dengan polusi udara yang beracun. Red Velvet berusaha mengajak para generasi muda untuk mengatasi masalah polusi udara dan perubahan iklim dengan cara melakukan perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengurangi pemakaian kendaraan pribadi dan meminimalisir penggunaan kantong plastik sekali pakai. Pemilihan Red Velvet yang notabene K-POP Idol terkenal di dunia akan memberikan pengaruh baik bagi banyak orang sehingga masyarakat luas pada umumnya maupun penggemar Red Velvet pada khususnya memiliki kesadaran terhadap isu lingkungan dan krisis iklim.

BLACKPINK

BLACKPINK terpilih sebagai duta iklim dari 26th UN Climate Change Conference of the Parties (COP26). BLACKPINK berhasil membuat video kampanye untuk menyadarkan generasi muda dalam mengatasi perubahan iklim. Mereka pun mendapatkan pujian dari Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson atas keberhasilan tersebut. This is our planet. This is our future. Climate change affects us all,” kata Lisa pada video tersebut.

Tak heran BLACKPINK merupakan artis global yang digemari oleh setiap generasi sehingga terpilihnya mereka sebagai duta iklim diharapkan dapat mengedukasi dan memberikan informasi kepada lebih banyak orang terkait isu perubahan iklim dan urgensinya.



BLACKPINK juga memiliki perhatian khusus terhadap isu lingkungan. Hal ini tercermin dari aksi mereka yang sering membantu masyarakat yang terdampak bencana alam. Salah satu contohnya, mereka mendonasikan 40 juta won untuk korban kebakaran hutan yang melanda Provinsi Gangwon pada 2019 silam. Selain itu, Rose juga mengajak para penggemarnya untuk berdonasi bagi satwa liar yang menjadi korban kebakaran hutan di Australia pada 2020 lalu.

Mamamoo

Mamamoo merupakan idol K-POP pertama yang menyuarakan isu climate strike melalui music video berjudul Hip. Adegan climate strike tersebut dapat dilihat dari poster yang isinya menuntut tindakan nyata bagi bumi. Hal ini tentu saja membuat bangga para penggemar Mamamoo karena idol mereka berkontribusi dalam menggaungkan darurat iklim melalui cara yang kreatif sehingga lebih mudah untuk meningkatkan awareness khalayak umum. Tindakan mengkampanyekan isu lingkungan melalui karya seni (dalam hal ini music video) dapat memicu pembicaraan dan kesadaran para penonton (baik penggemar maupun bukan) tentang isu lingkungan dengan lebih efektif. Apalagi para penggemar K-POP kerapkali membagikan karya idol-nya melalui berbagi platform media sosial sehingga kemungkinan orang yang aware akan lebih banyak lagi.



Dengan banyaknya K-POP Idol yang memiliki kepedulian besar terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim membuat para penggemar K-POP pun terpengaruh dan tersadar juga akan urgensi hal ini. Bentuk loyalitas penggemar K-POP bukan hanya dari tindakan mengikuti idol-nya melalui media sosial saja, tetapi juga turut terpengaruh pemikiran semangat positif yang selalu disebarkan oleh sang idol. Salah satunya adalah terbentuknya platform Kpop4Planet. Kpop4Planet merupakan platform digital yang dibuat oleh para penggemar K-Pop dengan misi melindungi Bumi. Kpop4Planet dibuat sebagai tempat berbagai fandom K-Pop berkumpul untuk mendiskusikan kecintaan mereka pada K-Pop, planet ini, dan belajar tentang krisis iklim, serta mengambil tindakan dengan fandom yang peduli dengan bumi.

Peluncuran platform Kpop4planet sudah dilakukan sejak Maret 2021 hingga penyelenggaraan KTT Iklim PBB ke-26 (COP26) pada bulan November 2021. Kpop4planet mendapat dukungan dari Global Compact Network Korea/UNGC Korea. Kpop4Planet juga memiliki situs web resmi di www.Kpop4planet.com dan juga aktif di Twitter dan Instagram.

Sejumlah kegiatan peduli lingkungan juga dilakukan oleh Kpop4planet, bekerja sama dengan beberapa fandom, antara lain gerakan menanam pohon, misalnya pada momen anniversary seorang idol atau untuk merayakan comeback dari idol.

Adapun aksi sosial lainnya tercermin dari tindakan enam fanclub K-Pop di Indonesia yang menggalang dana untuk masyarakat yang terdampak banjir besar di Kalimantan Selatan dan gempa bumi di Sulawesi Barat. Dana yang terkumpul mencapai angka hamper USD 100.000 atau Rp1 Miliar.




“Deforestasi di Indonesia menjadi salah satu penyebab utama krisis iklim. Hal ini juga menjadi concern kami. Semua pihak perlu bergerak untuk mulai menjaga hutan dan menghentikan deforestasi, dibarengi dengan penanaman pohon,” kata Nurul Sarifah, organizer Kpop4planet.

Nurul menjelaskan, penggemar K-pop sering sekali streaming lagu dan video. Ternyata kegiatan ini memiliki dampak tersendiri bagi lingkungan, karena energi listrik berdaya tinggi yang digunakan oleh pusat data/data center saat ini masih didominasi sumber energi fosil, seperti batu bara dan minyak. Kekhawatiran akan menyakiti bumi menghadirkan rasa tidak nyaman dan rasa bersalah pada diri penggemar K-pop.

Menyadari data center menyerap begitu banyak listrik, para penggemar K-pop pun tergerak untuk mengajak perusahaan besar yang memilih idol Korea sebagai brand ambassador, untuk ambil bagian dalam pemanfaatan energi terbarukan, energi yang lebih ramah lingkungan. Tokopedia menjadi brand awal yang mendapat kehormatan sebagai brand terpilih, dan diharapkan siap menerapkan serta bisa menjadi pioneer dalam penggunaan energi bersih sepenuhnya pada tahun 2030. Para penggemar Kpop juga mengajak kamu untuk berpartisipasi dengan menandatangani petisi yang digagas Kpop4planet tersebut di https://tokopedia4bumi.kpop4planet.com/. Tokopedia 4 Bumi adalah kampanye keadilan iklim pertama dalam rangkaian acara tahunan Kpop4planet. Yuk ikut berpartisipasi! 

 

 


Baca Selengkapnya

Minggu, 18 April 2021

Alasan Mengapa Hari Bumi Harus diperingati

Halo teman-teman, kali ini aku mau nulis tentang konten acara Eco Blogger Gathering yang diselenggarakan pada Rabu, 14 April 2021. Eits tunggu, Eco Blogger Gathering itu apa? Jadi, Eco Blogger Gathering itu acara yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network bekerjasama dengan Walhi, Lingkar Temu Kabupaten Lestari, dan Hutan Itu Indonesia. Terus kok aku bisa ikutan gathering ini? Nah, jadi aku terpilih menjadi bagian dari Eco Blogger Squad.

Duh apaan lagi sih itu Eco Blogger Squad? Eco Blogger Squad adalah komunitas yang beranggotakan para blogger yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan hidup, terutama perubahan iklim dan perlindungan hutan. Di komunitas ini, para blogger bisa saling belajar tentang isu lingkungan hidup, meningkatkan berbagai keterampilan, berjejaring dengan blogger lainnya, dan tentunya bersenang-senang.

Pada gathering kali ini menghadirkan tiga pembicara yang keren-keren, ada siapa aja sih? Pertama ada Pak Yuyun Harmono selaku manajer kampanye keadilan iklim Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), kak Gita Syahrani selaku kepala sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), dan kak Christian Natalie selaku manajer program Hutan Itu Indonesia. Acara ini semakin seru karena dipandu oleh kak Fransiska Soraya dari Blogger Perempuan Network.

Eco Blogger Gathering pertama ini mengangkat topik “Hutan Indonesia sebagai Solusi dalam Mitigasi Iklim.” Acara ini diselenggarakan dalam rangka menyambut hari bumi, acara tahunan yang jatuh pada tanggal 22 April dan dirayakan di seluruh dunia. Lalu, mengapa hari bumi penting untuk dirayakan? Simak tulisan ini sampai akhir ya!

“Hari bumi itu dirayakan bukan tentang menyelamatkan bumi, tetapi tentang menyelamatkan manusia.” Kak Gita Syahrani – Kepala sekretariat  Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL)

Dokumentasi Acara Eco Blogger Gathering 

Pak Yuyun Harmono: Perubahan Iklim dan Peran Hutan Indonesia

Perubahan iklim yang terjadi saat ini tak lepas dari perilaku kita sebagai manusia yang merupakan salah satu penghuni planet hijau ini. Perilaku kita sebagai individu atau ekonomi, sosial, model produksi atau konsumsi telah berperan penting pada kondisi bumi. Terjadinya perubahan iklim, pemanasan global, sampai dengan kebakaran hutan tak lepas dari ulah tangan manusia yang katanya adalah khalifah. Dari sini kita bisa melihat bahwa apa yang kita lakukan tidak hanya berpengaruh pada diri kita sendiri atau lingkungan sekitar kita, tetapi juga pada bumi kita.

Pak Yuyun Harmono menyinggung tentang seorang scientist di UK yang menyatakan bahwa perubahan suhu bumi telah meningkat drastis, yakni sudah naik hingga akan mendekati 1,5°C. Penting bagi kita untuk melihat konteks iklim dengan rata-rata suhu bumi karena dampaknya sangat luar biasa. Pada 2017 saja suhu bumi sudah mencapai 1°C loh! Lalu, apa yang akan terjadi apabila suhu bumi sudah menyentuh 1,5°C? Simak gambar di bawah ini untuk mengetahui info lengkapnya ya!

Dampak Pemanasan Global

Dari gambar di atas kita bisa melihat bahwa perubahan iklim akan mengancam eksistensi kita sebagai manusia di bumi tempat tinggal kita. Kemudian, pemanasan global juga mengancam biodiversitas/ekosistem. Oleh karena itu, membatasi pemanasan suhu hingga 1,5 °C akan secara signifikan mengurangi risiko dampak yang ditimbulkan oleh iklim terhadap keanekaragam hayati dan ekosistem, termasuk hilangnya spesies dan kepunahan. Apa saja sih keuntungan lain yang bisa didapatkan ketika kita bisa menekan laju kenaikan suhu bumi?

1. Membatasi pemanasan suhu hingga 1,5°C akan mencegah prediksi pengurangan 50% untuk tanaman dan vertebrata dan 66% untuk serangga. Sementara, jika suhu melebihi 1,5 °C akan berdampak pada beberapa spesies, ekosistem, fungsi ekologi, dan layanan mereka kepada manusia, bahkan jika pemanasan global akhirnya stabil pada suhu 1,5 °C di tahun 2100.

2. Membatasi pemanasan hingga 1,5°C akan mengurangi  kasus kelangkaan air, seperti yang melanda kawasan Mediterania, Afrika Selatan, dan banyak negara kepulauan kecil yang mengalami kekurangan air bersih.

3. Pemanasan global pun mempengaruhi bahan pangan kita, yakni banyaknya kasus gagal panen atau kekurangan pangan. Menurut laporan IPCC, membatasi pemanasan global hingga 1,5°C dibandingkan dengan 2 °C akan mengurangi risiko gagal panen, berkurangnya kandungan nutrisi pangan, dan risiko yang lebih rendah terhadap produksi tanaman di Afrika Sub-Sahara, Asia Tenggara, Amerika Tengah dan Selatan.

4. Pada bidang kesehatan, IPCC menjelaskan bahwa setiap peningkatan pemanasan lobal akan berdampak pada kesehatan manusia, khususnya di daerah perkotaan, karena daerah perkotaan lebih hangat daripada daerah pedesaan sekitarnya. Hal ini akan menyebabkan peningkatan risiko beberapa penyakit yang ditularkan melalui vektor, seperti malaria dan demam berdarah. Namun, risiko penyakit terkait panas dan kematian berkurang pada suhu 1,5 °C dibandingkan dengan 2 °C. Bahkan Covid-19 yang terjadi pun dapat dikaitkan dengan kerusakan lingkungan karena akibat ruang hidup sampah yang awalnya inang virus tidak terjadi kemudian ekspan ke ruang hidup manusia.

Perubahan iklim juga menyebabkan terjadinya berbagai macam bencana. Tren bencana di Indonesia saat ini adalah 6 dari 10 bencana merupakan bencana hidrometereologi, seperti banjir, longsor, dan puting beliung yang dipicu oleh faktor perubahan iklim. Bencana hidrometereologi tersebut selama 10 tahun terakhir mengalami peningkatan. Beberapa kasus terakhir adalah di Kalimantan Selatan, di NTT, dan NTB. Dalam upaya melakukan mitigasi iklim, kita harus melihat prinsip energi  berkeadilan. Apa aja sih prinsip energi berkeadilan? Simak gambar di bawah ini ya.


Prinsip Energi Berkeadilan

Dalam konteks ini, WALHI melihat bahwa membangun energi berkeadilan itu berarti tidak ada yang ditinggalkan, termasuk buruh dan pekerja yang layak. Transisi berkeadilan itu berarti kedaulatan pangan dan melindungi hutan serta keanekaragaman hayati kita. Menjaga hutan akan berimbas pada keuntungan lainnya yang akan kita dapatkan.  

Ketika hutan dirusak akan berkontribusi pada perubahan iklim, tetapi ketika kelestariannya terjaga maka akan menjadi solusi atas krisis iklim yang terjadi. Penting bagi kita untuk terus menjaga hutan Indonesia agar tetap lestari dan terhindar dari ekspansi industri perkebunan skala besar (baik sawit, kayu, dan sebagainya) dan ekspansi pertambangan. Jadi menjaga hutan tetap lestari penting bagi upaya mitigasi iklim dan sekaligus pengakuan hak atas hutan kepada masyarakat adat dan masyarakat lokal. Ketika hutan lestari, maka akan mendukung ekonomi terjaga, karena hutan itu sumber pangan dan sumber energi.

Setelah kita mengetahui kondisi iklim global dan khususnya perubahan suhu yang terjadi di Indonesia, apa saja yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan bumi kita? Jawabannya tentu saja hutan Indonesia sebagai solusi untuk menyelamatkan bumi. Hutan bukan hanya dijaga, tetapi juga harus diselamatkan kelestariannya agar masyarakat adat/sosial menjadi sejahtera dan hutan juga bisa memberikan kontribusi yang baik bagi ekonomi kita. 

Kak Gita Syahrani: Visi Ekonomi Lestari Demi Mewujudkan Lingkungan yang Terjaga dan Masyarakat Sejahtera


Tahukah kamu bahwa transaksi e-commerce terus melonjak tajam hampir 80% yang berarti pola ekonomi Indonesia saat ini di dominasi oleh perdagangan online. Namun, mirisya mayoritas produk yang kita beli bukan produk buatan Indonesia. Padahal Indonesia memiliki komoditas lokal yang sangat menjanjikan. Hutan Indonesia menghasilkan banyak komoditas yang melimpah dan potensi pasarnya pun terbuka lebar. Kita harus membuka mata kita bahwa hasil hutan bukan hanya kayu saja, ataupun hanya bahan mentah yang belum diolah. Banyak sekali masyarakat adat ataupun UMKM yang mengolah hasil hutan menjadi produk berkelanjutan.

Konsep ekonomi lestari dapat diterapkan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan menyejahterakan masyarakat lokal. Dalam hal ini, ekonomi lestari menawarkan keseimbangan aspek lingkungan, sosial, ekonomi dalam kebijakan, perencanaan, dan program. Ekonomi lestari juga bertujuan untuk meningkatkan pendapatan daerah, mengurangi kemiskinan, dan pengangguran. Pada tahap selanjutnya akan menuju pada nol deforestasi dan degredasi hutan dan gambut. Dengan begitu, daya saing daerah pun akan meningkat karena memanfaatkan komoditas lokal yang akan diolah secara lestari dan memperhatikan aspek lingkungan. Dari sini terlihat bahwa visi ekonomi lestari ideal diterapkan untuk Indonesia yang mempunyai potensi komoditas lokal melimpah, dari mulai madu, tengkawang, damar, cendana, pegagan, kayu putih, kopi, daun kelor, dan masih banyak lagi. Jangan sampai hasil hutan hanya dikenal kayu saja atau bahan mentah yang belum diolah. Komoditas lokal dapat diolah menjadi produk berkelanjutan, baik untuk makanan, industri kecantikan, pakaian, kerajinan, dan lain-lain.


Doughnut Economy Kate Raworth

Konsep ekonomi lestari kurang lebih sejalan dengan teori ekonomi donat yang dikemukakan Kate Raworth (doughnut economy) pada tahun 2012. Dalam konsep ekonomi donat, Kate Raworth mempertimbangkan aspek kelestarian lingkungan yang terbatas dan eksistensi manusia di bumi yang akan terancam akibat terjadinya krisis iklim dan atau krisis sosial. Oleh karena itu, kita tidak bisa selamanya bergantung pada konsep ekonomi konvensional yang diperkenalkan oleh ekonom terkemuka, seperti Max Weber.

Konsep ekonomi donat berbentuk seperti donat, yakni terdiri dari dua lingkaran. Lingkaran dalam menggambarkan sumber daya yang cukup bagi manusia untuk memiliki kehidupan baik, seperti makanan, air bersih, tempat tinggal, sanitasi, dan sebagainya. Sementara itu, lingkaran luar menggambarkan batasan-batasan alam yang dimiliki bumi, seperti potensi terjadinya krisis iklim, polusi, penipisan ozon, gas rumah kaca, punahnya spesies, dan sebagainya. Lalu ada ruang yang berada di antara keduanya, nah di ruang ini manusia harus berjuang untuk dapat hidup sejahtera karena di sini merupakan ruang aman secara ekologis dan adil secara sosial.

Christian Natalie: Hutan adalah Jawaban untuk Menghentikan Krisis Iklim

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan dalam misi menyelamatkan hutan, salah satunya dengan kampanye. Mengapa kampanye hutan itu penting? Karena perspektif masyarakat perkotaan terhadap hutan itu sebagai sesuatu yang jauh (out of sight, out of mind), kemudian karena hutan terlalu jauh sehingga tidak terkoneksi, dan yang terakhir filtered information yang membuat informasi tentang hutan tidak selalu bisa kita lihat. Hal tersebut membuat obrolan tentang hutan harus dinaikkan agar semakin banyak orang yang “mengenal” hutan. Dalam hal ini Hutan Itu Indonesia (HII) sebagai gerakan terbuka yang percaya akan kekuatan pesan positif untuk memberikan cinta kepada hutan Indonesia yang berpengaruh pada kehidupan manusia, sehingga berusaha untuk mengkampanyekan hutan dalam rangka mendekatkan hutan dan menumbuhkan cinta. Wujud nyata kampanya HII tercermin dari beberapa program yang berupa kampanye jaga hutan, cerita dari hutan, adopsi pohon, produk hutan non-kayu, dan jalan-jalan ke hutan.


Hutan adalah jawaban

Sekali lagi dapat ditegaskan bahwa hasil hutan bukan hanya kayu karena hutan juga menghasilkan komoditas pangan (bahan baku dan olahan makanan, minuman), komoditas kerajinan (bahan olahan hasil hutan yang dibuat untuk aksesoris maupun digunakan untuk hasil sekunder lainnya), dan pengelola jasa lingkungan (komunitas masyarakat maupun individu di sekitar hutan dengan memperhatikan perlindungan biodiversitas, kekayaan budaya, dan pelestarian air, udara, dan lain-lain). Adapun hasil hutan kayu yang legal adalah dengan mencantumkan beberapa label atau sertifikasi eco label, seperti FSC, Forests for All Forever, Indonesian Legal Wood, Bangga Buatan Indonesia.

Momentum Hari Bumi memberikan trigger yang baik bagi kita. Dalam meningkatkan kampanye dan narasi tentang hutan dengan konsisten terlepas dari latar belakang kita, maka kita akan bisa menyelamatkan eksistensi kita sebagai manusia dan bumi sebagai tempat tinggal kita. Hutan itu bukan hanya pohon, tetapi hutan juga menyimpan flora, fauna, budaya, wisata, pangan sehingga jika hutan punah, maka akan sulit tergantikan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tetap menjaga kelestarian hutan Indonesia. 

Dapat disimpulkan bahwa hutan memiliki peranan penting dalam menyelamatkan bumi dari krisis iklim yang tengah terjadi. Perlu digarisbawahi juga perilaku kita sebagai manusia berkontribusi dalam menyumbang terjadinya krisis iklim ini. Kita bisa berkolaborasi untuk berkontribusi menjaga hutan Indonesia, kita memiliki irisan kepentingan yang kuat atas isu hutan terlepas dari apapun latar belakang kita.

Jika kita bisa berkontribusi dan berperan sesuai profesi kita masing-masing, maka narasi tentang pentingnya hutan dalam mitigasi perubahan iklim akan terdengar oleh lebih banyak orang. Dengan begitu, akan semakin banyak orang yang sadar bahwa kondisi bumi sekarang ini sedang tidak baik-baik saja. Ketika kita bisa memperlakukan hutan dengan baik, mengolah hasilnya secara lestari dan berkeadilan, maka lingkungan akan terjaga, kondisi bumi akan membaik, dan manusia akan sejahtera. Maka kembali lagi pada pernyataan awal bahwa sejatinya merayakan hari bumi itu untuk menyelamatkan manusia karena pada dasarnya bumi akan tetap baik-baik saja walaupun tanpa ada manusia di dalamnya.

Sampai di sini catatan Eco Blogger Gathering pertama dalam rangka memperingati Hari Bumi. Terima kasih ya sudah membaca tulisanku, semoga bermanfat dan jangan lupa bagikan tentang informasi ini agar semakin banyak orang yang tahu tentang mengapa kita perlu menjaga hutan dan alasan mengapa hari bumi diperingati. Selamat Hari Bumi!😊

 


Baca Selengkapnya

Minggu, 11 April 2021

Pentingnya Memilih Produk Skincare Ramah Lingkungan dan Ramah Sosial

Halo semuanya, apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan sehat ya 😊 

Kali ini aku mau nulis tentang konten acara #LestarikanCantikmu online blogger gathering yang diselenggarakan pada hari Jumat, 09 April 2021. Eits tunggu… ini acara apa sih? Kalian pasti tahu kan kemarin aku ikutan kompetisi blog #LestarikanCantikmu yang ini nih  tulisanku. Acara tersebut diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network, Kabupaten Lestari, dan Madani Berkelanjutan. Nah, Alhamdulillah aku menjadi salah satu yang terpilih buat ikut Online Gathering tersebut.

Di acara online blogger gathering ini, selain mengumumkan pemenang kompetisi blog #LestarikanCantikmu, juga menghadirkan pembicara yang keren-keren. Siapa aja sih emang pembicaranya? Yang pertama ada kak Danang Wisnu yang merupakan seorang skincare creator yang vokal membahas bahan baku kosmetik yang ramah lingkungan. Yang kedua ada kak Gita Syahrani yang merupakan kepala sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL). Yang terakhir ada Mbak Christine, perwakilan dari Segara Naturals, pegiat produk beauty and wellness yang memanfaatkan komoditas lokal Indonesia sebagai bahan baku utama. Acara ini tambah seru lagi karena dipandu oleh kak Fransika Soraya yang tentu saja membagikan seputar sustainable beauty and wellness.

Acara dibuka dengan games tebak kata yang membuat suasana jadi cair dan seru.  Tentunya games-nya juga masih berhubungan dengan tema acara ini, yaitu hubungan kecantikan dengan alam. Kemudian dilanjut dengan pemutaran video dari LTKL tentang pendapat 17 orang berusia 21 – 30 tahun yang berdomisili di Jakarta terhadap produk kecantikan yang ramah lingkungan dan ramah sosial. Ternyata tren penggunaan dan pembelian produk berbasis alam kian meningkat, termasuk di sektor kecantikan. Salah satu pemicunya adalah kondisi lingkungan saat ini yang memprihatinkan (Amberg dan Fogarassy, 2019). Dalam video ini juga dijelaskan bahwa suatu produk disebut ramah lingkungan dan ramah sosial jika keseluruhan proses produksinya, mulai dari pengambilan bahan baku, formulasi, konsumsi, daur ulang kemasan hingga sistem pembuangan sampah mengikuti prinsip ramah lingkungan dan ramah sosial.

“Produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial dapat menyejahterakan masyarakat, menjaga lingkungan, dan membantu pembangunan ekonomi negara.” (Tolnay, dkk., 2018).

Berikut merupakan kesimpulan talk session dari ketiga pembicara

Kak Danang Wisnu: Pentingnya Mengetahui Bahan Baku Produk Skincare yang Kita Pakai

Perbincangan pertama dibuka oleh kak Danang Wisnu, bahwa kita penting memperhatikan bahan baku dalam produk skincare. Pada dasarnya karena saat kita memilih untuk memakai suatu produk skincare, maka seharusnya kita sudah tahu apa tujuannya. Oleh karena itu sebelum memilih produknya, maka kita harus mengetahui dan mengerti bahan-bahan dalam produk skincare tersebut sehingga dapat memberikan hasil yang efektif dan mengetahui cara kerjanya. Kita sebagai konsumen harus cerdas dalam mengetahui kandungan produk skincare yang kita pilih agar bisa mengerti cara kerjanya di tubuh kita dan memberikan hasil yang sesuai ekspektasi.


Kemudian, kak Danang juga menjelaskan bahwa ada kaitan antara bahan baku yang ramah lingkungan dengan kesehatan kulit kita. Bahan baku skincare yang aman itu standarnya sudah bersertifikasi BPOM. Sebagai konsumen kita harus jeli dan teliti. Bahwa memperhatikan bahan skincare yang kita pakai itu penting banget, jangan sampai hanya tergiur iklan dan iming-iming belaka. Bahan baku yang ramah lingkungan itu sangat berkaitan dengan kesehatan kulit. Dewasa ini, sudah mulai ada tren dan ketertarikan untuk memilih produk skincare dan kecantikan yang ramah lingkungan.

“Pakai skincare itu harus bikin kita senang, pake make up itu harus bikin kita bahagia. Ketika produk yang kita pakai itu diproses dengan bagus, dari sumber yang bagus, bahkan kita bisa saling menolong sesama, maka hal itu semakin membuat kita bahagia.” Danang Wisnu – Skincare content creator C Channel Class Vol.5 “Be an expert for your skin” (5 Desember 2020). 

Kak Gita Syahrani: Brand Kecantikan Harus Bercerita Tentang Komoditas yang Mereka Pakai

Saat ini sudah ada kesadaran konsumen memilih produk skincare yang ramah lingkungan. Studi konsumen dari LTKL, Madani, dan C. Channel tentang pertimbangan konsumen saat membeli produk kecantikan itu ada beberapa hal, yaitu kualitas produk, harga produk sesuai budget, bahan dalam produk, kemasan dan promosi, sertifikasi halal, dan review dari influencer. Dari enam hal tersebut, banyak yang peduli terhadap bahan dalam produk skincare. Apa yang membuat mereka peduli dan sadar? Ternyata ada concern besar terkait polusi dan bagaimana produk yang mereka pilih akan memperparah polusi, bagaimana dari produk itu dibuat sampai dikemas itu seperti apa.



Ada tiga aspek utama produk ramah lingkungan dan ramah sosial, yaitu menjaga fungsi alam tanpa bencana (menjaga ekosistem), petani/pekebun/pekerja sejahtera, energi dan limbah produksi terjaga. Beberapa potensi komoditas ramah lingkungan dan ramah sosial di Indonesia, di antaranya adalah beras, nanas, tengkawang, bunga telang, asam maram, kunyit, ekstrak albumin ikan gabus, kelapa sawit, kopi, cokelat, lidah buaya, pegagan, madu, coconut oil. Komoditas lokal itu tidak serta merta ramah lingkungan dan ramah sosial karena kita juga harus melihat aspek produksinya dari awal, ditanamnya seperti apa, siapa saja yang terlibat, apakah petaninya sejahtera, apakah menggunakan praktik pertanian yang baik, apakah UMKM-nya mendapat harga yang layak atau tidak. Kemudian apakah saat diproduksi, produknya bisa mempertanggungjawabkan energi dan limbah yang dihasilkan.

6 langkah yang bisa kita lakukan: baca label, kenali bahan, pahami komoditas asal, apa dampaknya?, pilih yang lestari, berbagi cerita kamu!

Yang berarti: baca dulu labelnya, kenali apa aja sih bahannya, komoditasnya apa sih yang terlibat, apa dampaknya sih komoditasnya itu (riset dulu), pilih aja yang lestari, dan berbagilah tentang pengalamanmu memilih produk tersebut.

Pilihlah produk yang “bercerita”, dari mana produk berasal, dibeli dari mana, bagaimana cara komoditas diproses. Semakin brand bercerita, semakin membuat konsumen lebih gampang dan paham.

Salah satu komoditas lokal yang ramah lingkungan adalah kelapa sawit. Kalau kelapa sawit yang sustainable itu ada standar RSPO-nya dan ISPO, tapi tidak semua label mencantumkannya! Jadi sebaiknya brand harus bercerita nih! Konsumen akan lebih senang karena bisa lebih paham apa saja kandungannya. Kalau pun tidak ada label standarnya, cari saja brand yang bercerita biar kita yakin sama kandungannya. Brand harus berinovasi dan punya semangat memberitahu pada konsumen tentang komoditas apa dalam produknya sehingga menjadi brand yang bagus, bukan hanya untuk tubuh kita, tetapi juga untuk jiwa kita.



Mbak Christine: Segara Naturals sebagai Pilihan Produk Skincare yang Memanfaatkan Komoditas Lokal Indonesia

Segara Naturals merupakan pegiat produk beauty and wellness mengusung produk yang ramah lingkungan. Berawal dari kegelisahan Mbak Christine melihat indahnya Indonesia, tetapi hutannya banyak yang gundul dan lautnya banyak mengandung sampah. Mbak Christine mencari solusi agar gampang bertraveling tanpa merusak alam dan menyumbang sampah ke lingkungan. Oleh karena itu, ia mulai menciptakan produk Segara Naturals yang mencoba memberikan solusi atas masalah ini sehingga diharapkan produknya bisa ramah lingkungan. Mbak Christine memandang bahwa kita sebagai konsumen banyak sekali dibombardir oleh informasi. Oleh karena itu, kita sebagai konsumen harus bisa mengedukasi diri kita sendiri.



Segara Naturals juga memanfaatkan komoditas lokal yang ramah lingkungan dalam formulasi produk-produknya. Mbak Christine melihat bahwa Indonesia punya banyak potensi komoditas lokal untuk dimanfaatkan dalam produk kecantikan. Ramah lingkungan dalam hal ini proses dari hulu ke hilir harus transparan tanpa merusak alam. Singkatnya, Segara memiliki prinsip kesinambungan hulu – hilir karena mengingat jumlah sampah plastik dari industri kecantikan mencapai 120 miliar.  Segara Naturals juga meminimalisir zero waste yang terlihat dari kemasannya yang dirancang menggunakan bahan kaleng aluminium. Segara menghitung berapa besar sampah yang mereka hasilkan dan berapa yang bisa didaur ulang. Dalam hal bahan baku pun mereka menjelaskan sejelas mungkin sehingga diharapkan konsumen bisa memahami apa saja komoditas yang mereka pakai dalam produknya. Hal ini terlihat di label produknya yang “bercerita”. Secara singkat, Segara Naturals mengusung konsep minim sampah, anti tumpah, kulit sehat alami.

Nah, itulah ilmu yang aku dapatkan dari online blogger gathering #LestarikanCantikmu. Kalau boleh aku simpulkan, kita sebagai konsumen harus bisa mengedukasi diri sendiri sebelum memilih produk skincare yang kita pakai. Produk skincare yang ramah sosial dan ramah lingkungan itu adalah yang menggunakan komoditas lokal berkelanjutan dan mempertimbangkan aspek sosial dari mulai proses produksinya hingga menjadi produk siap pakai (dari hulu ke hilir). Indonesia menawarkan beragam komoditas lokal yang bisa dimanfaatkan oleh industri kecantikan. Nah, kita tinggal memilih produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial. Ketika kita bisa memilih produk kecantikan yang ramah lingkungan dan ramah sosial, maka kita pun telah berkontribusi melindungi bumi dan menyejahterakan masyarakat. Lingkungan pun akan terjaga, dengan begitu masyarakat pun ikut sejahtera.

Aku senang sekali bisa mengikuti acara ini karena banyak hal baru yang bisa aku pelajari dan bisa aku tulis di sini. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisanku. Semoga informasi ini bisa berguna buat kalian semua dan aku akan terus membagikan hal baik yang kudapatkan melalui tulisanku. Semoga kalian suka ya, au revoir! 😊




Baca Selengkapnya