Sabtu, 15 Januari 2022

Menikmati Tempo Gelato Khas Italia di Yogyakarta

Hari itu cuaca di Yogyakarta sangat amat terik, maka menikmati es krim adalah cara terbaik untuk duduk kembali di tempat teduh dan bersantai setelah hari yang panjang menjelajahi kota. Aku memutuskan untuk menikmati gelato khas Italia yang sedang digandrungi banyak orang. Pasti teman-teman sudah tidak asing lagi dengan gelato, kan?

Kata gelato sendiri merupakan bahasa Italia yang berarti es krim. Il tempo del gelato - waktu untuk menikmati es krim - oui, il est temps de dΓ©guster des glaces! πŸ˜†

Apa sih bedanya gelato dengan es krim yang biasa kita temui dan cicipi? Melansir dari sini dari segi rasa dan tekstur antara es krim dan gelato cenderung mirip. Namun, yang membedakannya adalah bahan, cara pembuatan, dan kandungan. Gelato mengandung lebih banyak susu daripada krim dan umumnya tidak mengandung kuning telur atau proporsinya sedikit. Sementara itu, es krim mengandung lebih banyak krim, kuning telur, dan lebih sedikit susu. Dengan begitu, gelato mengandung lemak yang lebih sedikit daripada es krim. Gelato disajikan pada suhu yang sedikit lebih hangat daripada es krim, sehingga teksturnya tetap lebih halus dan lembut.





Gerai gelato bertebaran di mana-mana, termasuk di Yogya. Aku dan kedua temanku memilih untuk menikmati Tempo Gelato - Il Tempo del Gelato yang berada di jalan Prawirotaman. Dari luar sudah terlihat parkiran padat mengingat bahwa saat itu bertepatan dengan akhir pekan. Saat memasuki kedai gelato pun terlihat pengunjung sangat ramai, sampai-sampai tidak ada tempat untuk duduk. Ya ampun... penuh sekaliiii, antrean pun mengular. Setelah beberapa saat, kami langsung ikut mengantre di kasir. Aku memilih yang cup ukuran medium dengan tiga pilihan rasa seharga 45 ribu. Harga yang terbilang murah untuk gelato yang senikmat ini dengan porsi yang tentu saja berlimpah dan pastinya halal. Setelah itu, baru memilih rasa gelato yang sudah terjajar di bagian etalase.



Terdapat banyak sekali pilihan rasa gelato, dari mulai vanilla, chocolate, caramel, yogurt, beragam rasa buah sampai dengan rasa yang unik seperti kemangi, lemon grass, spicy choco, dan masih banyak lagi. Dengan banyaknya pilihan rasa ini sanggup membuat kita bingung untuk memilih yang mana dan ingin mencoba semuanya karena terlihat enak semua πŸ˜†

Setelah lumayan lama memilih dan mengantre, akhirnya kami pun mendapatkan tempat duduk. Aku pun mengamati interior Tempo Gelato yang sangat bergaya Eropa ini, tapi tentu masih ada sentuhan Indonesianya. Hal yang perlu digarisbawahi adalah Tempo Gelato memang sangat cozy dan fancy, sehingga wajar saja pengunjung pun ramai berdatangan dan mau menghabiskan waktu berlama-lama di sini. Instagramable adalah koentji di era digital bisnis saat ini. Namun, tentu saja kekhasan dan nikmatnya rasa tetap yang utama.

Lalu, aku pun berpikir lagi dengan kedai seluas ini dan dikonsep se-cozy ini hanya untuk menikmati cup of gelato atau cone of gelato, maka teringat pada budaya menikmati kopi di Prancis. Jika ditilik dari segi sejarah, budaya menikmati gelato layaknya budaya kopi. First form dari gelato modern diciptakan pada abad ke-16 dan scoop pertama disajikan oleh Francesco Procopio di kedai kopi terkenal dan tertua di Paris, yaitu Café Procope. Saat itu, para bangsawan menikmati gelato bersama-sama untuk acara special. Saat ini, kita menikmati gelato bersama-sama sambil bercengkrama. Maka tidak heran bahwa gelato dan kedai ini dikonsep untuk menyatukan momen kebersamaan kita. Jadi, kapan ke Yogya untuk menikmati kelezatan gelato di sini?😊



Baca Selengkapnya

Kamis, 23 Desember 2021

Ada Apa di Dunia Shopie?

Hai, sudah pernah dengan tentang Dunia Shopie? Atau mungkin istilah ini masih terdengar asing di telinga kamu?

Jadi, dunia Sophie merupakan sebuah novel filsafat yang ditulis oleh Jostein Gaarder. Novel ini pertama kali diterbitkan pada 1991 dalam bahasa Norwegia dengan judul Sofie’s Verden. Hingga kini, novel ini telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasa di seluruh dunia dan tentu saja membuatnya menjadi novel bestseller. Hal tersebut didapat tentu saja karena novel ini sangat unik, yaitu menyampaikan cerita sejarah filsafat dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti. Nah, ini nih penampakan bukunya! 


Aku pertama kali baca novel ini saat masih sekolah, mungkin saat kelas 11. Ketika itu, aku memutuskan dan tertarik dengan novel ini karena rekomendasi dari salah satu tutor Zenius, yaitu bang Sabda (Rekomendasi Buku)First impression membaca novel ini adalah aku pikir novel ini sungguh absurd, tidak dapat mengerti, tapi sebenarnya sangat menarik! Mengapa begitu? Karena novel ini menceritakan tentang sejarah filsafat!

Dunia Sophie bercerita tentang seorang gadis berusia 15 tahun bernama Sophie yang dikejutkan oleh surat-surat misterius yang terus diterimanya. Isi surat tersebut hanya sebuah pertanyaan-pertanyaan mendasar yang belum pernah dipikirkannya, seperti “siapa kamu”, “dari mana datangnya dunia”, dan sebagainya. Pertanyaan tersebut lantas membuatnya heran dan tersentak sehingga ia mulai mencoba mencari jawabannya. Siapa sangka ternyata pengirimnya merupakan seorang filsuf yang kemudian memberikan kelas filsafat dengan mengajarkan sejarahnya dari mulai zaman Yunani, abad pertengahan, renaissance, abad pencerahan, hingga zaman modern (abad ke dua puluh).

Membaca Dunia Sophie memberikan pengalaman baru bagiku saat itu. Aku merasa mendapatkan apa yang Sophie dapatkan, yaitu mempelajari filsafat. Mungkin saat itu aku belum begitu paham tentang filsafat, tetapi dengan membaca novel ini membuatku berpikir bahwa filsafat sangat menarik untuk dipelajari. Filsafat dapat diartikan secara sederhana sebagai suatu gerak pikiran yang wajar, sealamiah kita bernapas, dan sesederhana rasa ingin tahu yang besar yang telah kita miliki sejak masa kecil. Membaca novel ini sama halnya dengan membaca buku sejarah, tetapi tidak disajikan secara monoton dan membosankan. Sebaliknya, novel ini justru memberikan kita keinginan untuk terus menerus membaca hingga tuntas karena disajikan dengan menarik, sangat menghibur, dan memberikan pesan filosofis yang menantang daya pikir.

Dunia Sophie menjadi pilihan yang baik bagi kalian yang ingin belajar filsafat dengan cara yang berbeda. Kita akan bertemu dengan tokoh-tokoh filsuf dari zaman Yunani, abad pertengahan, hingga zaman modern. Meskipun tentu saja disajikan dengan gaya Eropa sentris sehingga tidak menyinggung banyak tentang filsafat Timur (India, Tiongkok, Islam). Efeknya adalah kita dapat merefleksikan apa yang telah kita baca dalam novel ini dan memiliki dorongan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang makna dan tujuan hidup.

Menariknya, novel ini juga cukup membantuku saat kuliah di kelas filsafat karena aku cukup memiliki gambaran umum tentang sejarah filsafat dari novel ini, meskipun masih harus membaca lebih banyak buku pengantar filsafat lagi. Pelajaran yang dapat aku ambil dari membaca buku ini adalah betul bahwa setiap tokoh filsuf dengan gagasan, pemikiran, dan ilmunya bisa jadi cocok atau tidak cocok dengan kehidupan kita. Kita sendirilah, sebagai pembaca, yang bisa memilah dan memilih segala hal yang bisa kita terima; memfilternya mana yang dirasa bisa diterima dan mana yang tidak. Tidak semua yang baik itu sesuai dengan kehidupan kita. Banyak hal baik yang mungkin kurang kompatibel dengan situasi hidup kita saat ini. Masing-masing gagasan atau pemikiran setiap filsuf memiliki jatah benarnya sendiri sesuai dengan konteksnya.
Secara keseluruhan, novel ini sangat direkomendasikan untuk kalian yang ingin mengetahui sejarah filsafat yang dikemas dengan bahasa yang sederhana dan penceritaan yang unik.

“Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya.” Goethe

Baca Selengkapnya

Kamis, 18 November 2021

Mengenal Lebih Jauh tentang Biofuel

Halo teman-teman, apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan baik ya 😊

Aku mau sharing tentang materi Eco Blogger Gathering minggu lalu (12/11/2021) nih hehehe. Di gathering kemarin membicarakan seputar mengenal lebih jaul tentang biofuel, loh. Cukup berat bahasannya bagiku karena banyak istilah asing yang sebelumnya tidak kuketahui, tapi secara keseluruhan materinya daging banget. Hal ini tidak diragukan lagi karena pada gathering ini mengundang pembicara yang mumpuni di bidangnya, yaitu kak Ricky dari Traction Energy Asia dan kak Kukuh dari Madani Berkelanjutan. Tentu saja acara ini semakin menarik dan seru karena dipandu oleh kak Fransiska Soraya dan bertemu dengan teman-teman blogger lainnya yang menambah insight baru seputar biofuel. Nah langsung saja aku bahas ya, baca sampai akhir!



Sebagai orang Indonesia, tentu saja kita tidak asing dengan makanan yang digoreng. Makanan Indonesia memang didominasi oleh sesuatu yang digoreng, seperti nasi goreng, ayam goreng, bahkan gorengan yang banyak jenisnya. Makanan ini tentu saja nikmat dan membuat kita ketagihan. Namun, tahukah kamu minyak bekas makanan yang digoreng punya potensi untuk dimanfaatkan untuk program biofuel?

Sebelumnya, biofuel merupakan bahan bakar nabati (BBN) yang berasal dari bahan-bahan nabati atau dihasilkan dari bahan-bahan organik lain. Jenis bahan bakar nabati yang sering dikenal adalah biodiesel dan etanol. Bahan bakar nabati digunakan untuk mengganti bahan bakar fosil karena bahan bakar nabati termasuk ramah lingkungan dibandingkan dengan bahan bakar fosil yang berdampak pada kerusakan lingkungan hingga memicu krisis iklim.

Pemerintah Indonesia sendiri telah mencanangkan peraturan pengganti bahan bakar fosil melalui pengembangan bahan bakar nabati berbasis sawit, seperti biodiesel. Mengapa bahan bakar nabati harus dikembangkan? Hal ini dilakukan karena bahan bakar nabati hanya menghasilkan seperempat dari karbondioksida (CO2) yang dihasilkan dari bahan bakar fosil. Selain itu, minyak sawit juga merupakan tanaman penghasil minyak nabati terproduktif dan paling ekonomis.

Meskipun begitu, penggunaan minyak sawit untuk bahan bakar nabati menimbulkan kontroversi karena minyak sawit sering dikaitkan dengan deforestasi. Hal ini karena perkebunan kelapa sawit ilegal sering membuka lahan hutan sehingga menimbulkan punahnya beragam keanekaragaman hayati dan memicu terjadinya krisis iklim. Selain itu, sektor ini merupakan penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di Indonesia karena pembukaan lahan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Dari hal ini, kita bisa melihat bahwa penggunaan kelapa sawit sebagai bahan bakar nabati sangat dilematis. Oleh karena itu, dibutuhkan keselarasan kebijakan bahan bakar nabati dengan komitmen iklim. Pada praktiknya, deforestasi merupakan dampak dari pengggunaan kebijakan bahan bakar nabati. Namun, melarang penggunaan bahan baku sawit pun bukan solusi. Diperlukan peraturan penggunaan sawit secara berkelanjutan sebagai solusi untuk mengatasi dilema sawit di Indonesia.

Bahan bakar nabati merupakan masa depan penggunaan bahan bakar yang potensial karena berperan penting sebagai energi terbarukan dan alternatif yang akan memberikan dampak luar biasa untuk manusia dan lingkungan, sehingga perlu dimanfaatkan secara bijaksana dan berkelanjutan. Perkebunan sawit mandiri pun perlu dilibatkan dalam rantai pasok biodiesel mengingat bahwa 40% lahan sawit didominasi oleh perkebunan sawit mandiri. Memasukkan mereka ke dalam rantai pasok biodiesel akan berdampak pada kesejahteraan para petani sawit, mengurangi deforestasi, dan menjaga hutan alam yang tersisa. 

Nah, seperti yang disinggung di awal bahwa minyak goreng sisa pun bisa dimanfaatkan sebagai biodiesel loh! Menurut data dari Traction Energy Asia, konsumsi minyak goreng di Indonesia (2019) mencapai 13 juta ton atau 16,2 juta kilo liter. Hanya kurang dari 18, 5% sisa konsumsi minyak goreng yang dapat dikumpulkan sebagai bahan baku minyak jelantah. Lalu kemana mengalirnya minyak sisa yang telah digunakan? Jadi, dari total 3 juta KL minyak jelantah, hanya kurang dari 570 ribu KL yang dimanfaatkan sebagai biodisel maupun kebutuhan lainnya. Sebagian besarnya digunakan untuk minyak goreng daur ulang dan ekspor. Jika minyak jelantah dikelola dengan baik, maka berpotensi untuk memenuhi 32% kebutuhan biodiesel nasional, loh! Selain itu, dapat berkontribusi dalam mengurangi 91,7% emisi karbondioksida. Wah banyak juga ya manfaatnya!

Nah itu tadi seputar biofuel dan beragam manfaatnya. Semoga sedikit yang aku tulis bisa menambah pengetahuan teman-teman ya! sampai jumpa ditulisan berikutnya!

Baca Selengkapnya

Minggu, 17 Oktober 2021

5 Hal yang Bisa Kita Lakukan dalam Menghadapi Pemanasan Global

Halo teman-teman, apa kabar? Semoga dalam keadaan baik-baik saja ya. Di tulisan kali ini aku mau membahas tentang konten Eco Blogger Gathering kemarin (15/10/2021). Pada gathering Eco Blogger Squad kemarin mengangkat tema “Bumi Semakin Panas, Kode Merah Bagi Kemanusiaan” dengan pembicara kak Anggi dari Madani Berkelanjutan dengan dipandu oleh kak Fransiska Soraya seperti biasa. Acaranya seru sekali dan tentu saja materinya pun “daging” banget. Selain itu, kita juga bisa bertukar pikiran dan pendapat antar blogger, sehingga kitab isa saling mendapatkan insight baru.



Kamu merasa nggak sih saat ini cuaca sangat panas sekali? Tapi kadang-kadang tiba-tiba hujan deras terus tiba-tiba panas lagi. Kira-kira kenapa ya? Mungkin Sebagian dari kita sadar bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja, yah betul this is the red code for humanity! Menurut Laporan dari IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), suhu permukaan global 1,09C lebih tinggi dalam sepuluh tahun antara 2011 – 2020 dan lima tahun terakhir ini adalah suhu terpanas dalam sejarah sejak 1850, loh! Menurut Paris Agreement seharusnya pemanasan global tak melebihi 1,5 derajat celcius.

Selain itu, ternyata pengaruh manusia sangat mungkin menjadi alasan utama dalam terjadinya krisis iklim. Indonesia juga merupakan yang “highly vulnerable” terhadap dampak krisis iklim. Namun sayangnya, Indonesia sendiri merupakan negara ter-denial dalam hal ketidakpercayaan bahwa pemanasan global dipicu oleh manusia (Berdasarkan survey yang dilakukan oleh YouGove, perusahaan analitik data di Inggris, sebagai bagian dari Proyek Globalisme YouGove-Cambridge dan The Guardian pada 2019). Lalu, sebagai generasi muda, apa yang bisa kita lakukan? Simak tulisan ini sampai habis ya!

1. Eat less meat

Pasti kamu sudah tidak asing lagi dengan pernyataan bahwa salah satu cara menekan pemanasan global adalah dengan mengurangi makan daging. Yup, hal ini senada dengan laporan IPCC bahwa memerangi pemanasan global bisa dimulai dengan urusan kita dalam memilih makanan, loh! Menurut Food and Algiculture Organization, daging merupakan salah satu produk pangan dengan emisi terbesar, misalnya daging sapi per kilogramnya bisa menghasilkan 26,5 kilogram gas emisi.

Faktor penyebabnya antara lain karena produksi pangan sapi, kotoran ternak, distribusi daging, pembukaan lahan untuk peternakan. Ketika lahan makin berkurang, populasi semakin bertambah, dibungkus dengan iklim yang semakin memanas, maka ini merupakan kombinasi yang mengkhawatirkan.

Namun masalahnya adalah di negara yang masih berkembang seperti di Indonesia sendiri masyarakatnya masih kekurangan dalam mengonsumsi daging. Sementara itu, di negara maju masyarakatnya terlalu banyak makan daging. Hal ini menunjukkan bahwa kelas menengah ke atas masih terlalu banyak mengonsumsi daging, sedangkan kalangan kelas bawah masih kekurangan. Oleh karena itu dibutuhkan terlebih dahulu kesadaran tentang hal ini. Berita baiknya saat ini tren vegan dan vegetarian meningkat secara signifikan, banyak orang yang mulai sadar tentang gaya hidup ini, dan banyak juga restoran yang mulai menyediakan menu atau berkonsep vegan dan vegetarian, loh. Semoga semakin banyak lagi orang yang sadar akan korelasi antara konsumsi daging dengan pemanasan global, sehingga kita semua sebagai penduduk bumi bisa menekan pemanasan global.

2. Say no to plastic bags

Di keseharian kita pasti kerap menemukan plastik, baik dalam bentuk kantong plastik maupun botol hingga sedotan. Tahukah kamu bahwa plastik mengandung metana dan etilena yang merupakan senyawa berbahaya. Hal inilah yang berkontribusi dalam pemanasan global karena senyawa tersebut menghasilkan gas rumah kaca. Belum lagi plastik sangat amat sulit terurai, karena dibutuhkan waktu ratusan hingga ribuan tahun. Apalagi pernah ada penemuan sebuah tumpukan besar plastik di Samudera Pasifik. Sampah plastik tersebut sangat berpotensi mengganggu dan mencemari keseimbangan ekosistem laut. Contohnya pernah ada Paus yang mati dan terdampar di Wakatobi yang ternyata di dalam perutnya penuh dengan sampah plastik. Sangat mengenaskan bukan?

Nah, jadi yuk mulai kebiasaan diet plastik, misalnya dengan selalu membawa kantong belanjaan sendiri dan membawa botol sendiri. Jika kita terpaksa menggunakan plastik, maka jangan langsung membuangnya, tetapi simpan dan gunakan lagi untuk nanti. Memang sulit untuk memulai kebiasaan baik dan simple ini, tetapi kalau tidak mulai sekarang kapan lagi? Bahkan kalau kita tidak melakukan tindakan pencegahan pun pemanasan global akan tetap terjadi.

 

3. Stop food waste

Hayo siapa di sini yang kalau makan sering nggak habis? Hehehe aku adalah salah satunya. Tahukah kamu bahwa ternyata menyisakan makanan dan membuangnya begitu saja ternyata berdampak besar buat lingkungan, mengapa begitu? Mari kita lihat data! Menurut The Economist Intelligece unit, sepertiga dari seluruh makanan di dunia (1,3 juta ton makanan) terbuang sia-sia. Kemudian, setiap orang di Indonesia ternyata menghasilkan 300 kg sampah makanan per tahunnya, loh. Sangat banyak ya?!

Lalu apa kaitannya dengan pemanasan global? Jadi, ternyata makanan yang terbuang sia-sia dan tertimbun di tanah akan terurai dan menghasilkan metana yang merupakan gas rumah kaca. Hal inilah yang menyebabkan naiknya suhu bumi, karena faktanya gas metana 25 kali lebih kuat dalam memerangkap panas matahari dibandingkan dengan karbondioksida. Belun lagi dalam proses pembuatan pangan pun berarti harus terbuang sia-sia karena makanan yang tersisa.

Sungguh memprihatinkan juga karena ternyata kita sebagai individu yang masih bisa makan dengan mudah tetapi masih juga membuang-buang makanan. Sementara itu, di luar sana masih banyak orang yang kurang beruntung dan bahkan kekurangan gizi. Oleh karena itu, kita harus lebih peduli dan sadar tentang dampak dari kebiasaan food waste ini. Yuk mulai perubahan kecil dari diri sendiri!

4. Thrift the clothes 

Tahukah kamu bahwa ternyata thrifting bukan cuma ramah di kantong, tetapi thrifting juga punya manfaat lainnya buat lingkungan, loh. Apalagi saat ini tren belanja baju bekas sedang melonjak tinggi di kalangan anak muda dan semakin populer di kalangan masyarakat luas. Lalu sebenarnya apa peran thrifthing buat lingkungan? Hal ini karena industri fashion seringkali mengeluarkan banyak desain baru dalam waktu singkat, sehingga membuat masyarakat lebih konsumtif dalam membelanjakan pakaian agar selalu mengikuti tren. Sementara itu, industri fashion juga menyumbang limbah yang banyak dan sulit terurai, misalnya dalam membuat satu celana jeans saja dibutuhkan beberapa ratus air galon. Oleh karena itu, membeli pakaian bekas alias thrifting sama saja membuat kita berperan dalam mengurangi pencemaran limbah dan menjaga lingkungan.

5. Speak up! 

Cara yang paling mudah adalah speak up! Sering-seringlah menyuarakan tentang isu lingkungan, krisis iklim, dan pemanasan global kepada orang di sekitar tentang betapa mendesak dan pentingnya isu ini. Kamu juga bisa mengikuti beragam komunitas yang peduli terhadap isu lingkungan, baik di sekolah, kampus, atau di manapun. Dengan menyuarakan ini, maka akan berdampak pada tumbuhnya kesadaran orang-orang di sekitarmu yang belum paham akan isu lingkungan dan pemanasan global. Yuk jadikan isu lingkungan sebagai bahan obrolan di tongkrongan!

 

Nah, itu dia lima hal sederhana yang bis akita lakukan dalam menghadapi pemanasan global. Semoga bermanfaat ya teman-teman! 😊

Salam generasi restorasi, untukmu bumiku! πŸ’š

 

Baca Selengkapnya

Minggu, 05 September 2021

Menikmati Nasi Jamblang, Kuliner Otentik Cirebon

Halo teman-teman, apa kabar?

Semoga sehat selalu ya! Sudah lama juga aku nggak menulis tentang segmen "jajan-jajan". Nah, kali ini aku mau bahas salah satu kuliner otentik dari Cirebon, Jawa Barat, yaitu nasi Jamblang. Kamu sudah pernah mendengarnya? Atau bahkan makanan ini terdengar asing bagimu? Tenang, di tulisan ini aku akan membahas kuliner khas Cirebon ini. Baca sampai habis ya! Enjoy!

 

Sekilas Sejarah Nasi Jamblang

Nasi Jamblang atau disebut juga Sega Jamblang merupakan nasi yang disajikan dengan beragam lauk-pauk yang bisa kita pilih sesuai selera. Hal yang menjadikannya khas adalah nasi ini dibungkus dengan daun jati. Digunakannya daun jati sebagai alas atau pembungkus membuat nasi ini memiliki aroma sedap, rasanya menjadi semakin gurih, dan membuat nasi tak cepat basi. Oiya, kata "Jamblang" sendiri merujuk pada daerah Jamblang (Desa Jamblang) yang terletak di sebelah barat Kabupaten Cirebon, loh. Jadi, istilah Jamblang tidak berkaitan dengan buah jamblang alias duwet (Syzygium cumini). Nasi Jamblang biasanya dijajakan secara prasmanan dengan beragam menu lauk pauk, yang di antaranya adalah daging, telur dadar/goreng/bulat, perkedel, cumi, tahu, tempe, berbagai jenis ikan, sambal goreng, dan masih banyak lagi.

 


Lalu sebenarnya asal-usul nasi Jamblang itu bagaimana ya? Melansir dari Indonesia Kaya, ada banyak versi tentang asal usul nasi Jamblang. Namun, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa nasi Jamblang tercipta pada masa penjajahan Belanda, tepatnya saat ada proyek pembangunan jalan Anyer – Panarukan yang juga melewati Cirebon. Pembangunan Jalan Raya Pos tersebut menerapkan sistem kerja paksa, sehingga para pekerja tidak diberi upah maupun makanan. Terciptalah nasi yang dibungkus dengan daun jati yang bertujuan agar nasi bisa bertahan lebih lama saat dibawa sebagai bekal untuk bekerja. Itulah mengapa nasi Jamblang sebenarnya seperti nasi pada umumnya dengan berbagai lauk rumahan. Namun yang membuatnya berbeda adalah daun jatinya yang membuatnya memiliki aroma khas dan menjadikan cita rasanya semakin gurih.

 

Nasi Jamblang Mang Dul yang Melegendaris

Setelah sekian lama, nasi jamblang pun diperjualbelikan dengan cara keliling atau di kedai sendiri. Ada banyak juga pilihan tempat yang menjajakan nasi Jamblang dengan beragam lauk pauk yang istimewa. Salah satunya adalah Nasi Jamblang Mang Dul yang sudah berdiri sejak tahun 1970. Tak heran jika tempat ini selalu ramai dikunjungi banyak orang. Letaknya di tengah kota semakin membuat tempat ini mudah dijangkau. Tepatnya di Jalan DR. Cipto Mangunkusumo No.8, Pekiringan, Kec. Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat.



Dari banyaknya tempat yang menjual nasi jamblang, tetapi Nasi Jamblang Mang Dul selalu menjadi primadona. Hal ini disebabkan oleh cita rasanya yang tetap terjaga kelezatannya sejak berdiri hingga kini dikelola oleh generasi kedua. Selain itu, di sini juga menawarkan lebih dari 20 lauk pauk yang bisa kita pilih sesuka hati, dari mulai berbagai telor, tahu, tempe, balakutak, cumi, berbagai jenis ikan, pepes, sambal goreng, dan masih banyak lagi. Karena tetap mempertahankan keontetikannya, Nasi Jamblang Mang Dul telah menjadi langganan Mantan Presiden loh, yaitu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.

Jadi penasaran kan seenak apa sih nasi Jamblang? Nah, buat kamu yang berkesempatan mengunjungi Cirebon jangan lupa ya mampir untuk mencicipi kuliner khas Cirebon yang satu ini. Harganya juga cukup terjangkau karena disesuaikan dengan lauk yang kita pilih loh. Oiya, nasi Jamblang juga bisa ditake-away menggunakan daun jati yang merupakan ciri khasnya loh, jadi bisa untuk oleh-oleh untuk dibawa pulang juga. Super duper yummy & simple!

Baca Selengkapnya

Minggu, 15 Agustus 2021

Jagakali Art Festival: Merawat Lingkungan, Menjaga Seni Budaya demi Bumi yang Lestari

Sejak zaman dahulu, sungai memiliki peranan signifikan dalam peradaban umat manusia. Sungai Nil yang menjadi sumber peradaban Mesir, Mesopotamia, Sumeria, sungai Eufrat, dan sungai Indus di Pakistan-India. Di Indonesia sendiri, kerajaan-kerajaan maritim Nusantara zaman dahulu telah menggunakan sungai sebagai lalu lintas manusia, bahan baku hingga budaya. Tak heran peradaban besar di dunia bahkan di Indonesia pun lahir di tepi sungai. Sebut saja Sriwijaya, Batanghari, Musi hingga Batavia yang lahir, tumbuh, dan besar di tepi sungai.



Pada masa lalu, sungai punya peranan vital sebagai jalur perdagangan, migrasi, dan transportasi. Namun, saat ini sungai seperti tak ternilai lagi. Hal ini disebabkan oleh manusia yang mengalihfungsikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah raksasa. Alhasil sungai pun menjadi tak terawat, airnya tak sejernih dulu lagi, alamnya tak lestari. Pengetahuan yang masih kurang dan minimnya kepedulian merawat alam disinyalir menjadi faktor yang membuat hal ini terjadi. Desakan ekonomi dan pembangunan yang tak berkelanjutan pun telah menyebabkan kemiskinan dan datangnya bencana bagi manusia dan ekosistem di sekitarnya.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengkampanyekan kepedulian terhadap lingkungan dan edukasi pentingnya menjaga alam agar tetap lestari. Setiap dari kita bisa berperan dalam memberikan kontribusi nyata untuk lingkungan terlepas dari latar belakang kita. Dimulai dari kesadaran diri sendiri, menyadarkan orang di sekitar kita, sampai dengan menyadarkan masyarakat luas. Salah satu cara yang menarik adalah dengan mengadakan festival seni dan budaya yang mengangkat isu lingkungan. Seni dan budaya merupakan sesuatu yang indah dan lekat dengan kita, sehingga menyadarkan banyak orang mengenai isu lingkungan melalui seni dan budaya dinilai lebih efektif dan efesien.

Salah satu festival seni dan budaya bertemakan kelestarian lingkungan adalah “Jagakali Art Festival” yang digelar di kota Cirebon, Jawa Barat sejak 2006 silam. “Jagakali” bermakna “menjaga sungai”, sebuah konsep festival yang bertujuan untuk menyadarkan banyak orang tentang pentingnya sungai sebagai sumber kehidupan dan sumber peradaban sejak zaman dahulu. Namun, sungai pada saat ini telah tercemar dan jauh dari peradaban. Manusia yang tak bertanggungjawab telah mengubah sungai sedemikian tercemarnya sehingga sungai menjadi tempat sampah raksasa. Melihat keresahan ini, Mas Nico Broer selaku penggagas "Jagakali Art Festival” ingin mengampanyekan pentingnya menjaga lingkungan dan mengemasnya melalui seni dan budaya, sehingga diharapkan kita bisa merenungi tentang kondisi lingkungan saat ini yang sedang tidak baik-baik saja.





Jagakali Art Festival merupakan event tahunan yang terdiri dari banyak sekali rangkaian acaranya, dari mulai workshop pengolahan sampah, workshop seni rupa, mendongeng, beragam lomba, bersih-bersih sungai, menanam pohon sampai acara puncaknya yang berupa pertunjukkan berbagai macam seni. Tak heran acara ini pun digelar selama beberapa hari dan dihadiri oleh beragam komunitas, baik komunitas di Cirebon sendiri maupun dari luar kota. Dari mulai komunitas seni, budaya, musik, pecinta kucing, dan masih banyak lagi. Bahkan pada 2019 lalu, acara Jagakali Art Festival ini dihadiri juga oleh peserta dari berbagai negara loh, di antaranya adalah Algeria, Azerbaijan, Ekuador, Hungaria, Inggris, Iran, Malawi, Meksiko, Mesir, Rusia, Slovakia, Timor Leste, Tunisia, Timor Leste, dan masih banyak lagi. Hal ini membuat acara ini semakin banyak menyerap atensi masyarakat sehingga dibubuhkan kata tambahan pada event 2019 kemarin, yaitu menjadi “Jagakali International Art Festival” atas partisipasi berbagai negara yang menampilkan pertunjukkan seni dan workshop di event ini.

Setiap tahunnya, Jagakali Art Festival mengangkat tema yang berbeda. Pada tahun 2019, yang merupakan event pertama berskala Internasional dan sekaligus acara terakhir sebelum pandemi Covid-19 melanda, mengangkat tema “Cinta Sejati.” Tema tersebut dipilih karena ketua pelaksana melihat bahwa pada 2019 lalu terdapat banyak isu yang terjadi di Indonesia, dari mulai politik hingga lingkungan. Kita dihadapkan pada berbagai isu perselisihan antar manusia, polemik antar agama, isu rasial, dan kerusakan lingkungan yang terus terjadi membuat manusia yang seharusnya berperan sebagai khalifah di bumi kehilangan tujuannya untuk menyeimbangkan ekosistem lingkungan. Jika ditarik kesimpulan, sebenarnya isu tersebut mencuat karena kurangnya rasa cinta kepada Tuhan, cinta pada sesama, dan cinta pada lingkungan. Jika kita mampu mencintai Tuhan seutuhnya, maka kita juga akan mencintai makhluk ciptaan-Nya.

Pada event tahun 2019 diselenggarakan di Cadas Ngampar, Kopiluhur, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Lokasi tersebut merupakan dataran tertinggi di Kota Cirebon dan sekaligus berdekatan dengan Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Kopi Luhur. Sebagai informasi, TPA Kopi Luhur menampung seluruh sampah dari kota Cirebon dan terus bertambah setiap tahunnya. Menurut Kompas, jumlah sampah yang terus meningkat membuat TPA Kopi Luhur diperkirakan penuh tiga tahun lagi. Jika tanpa pengelolaan sampah di masyarakat, maka TPA tersebut tidak akan digunakan lagi. Oleh karena itu, pelaksana memutuskan event Jagakali Art Festival pun digelar di tempat tersebut yang diharapkan dapat mengedukasi masyarakat sekitar dan mencari solusi bagi permasalahan lingkungan yang tengah terjadi. 



Dari festival ini, kita bisa melihat bahwa ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk membangkitkan kepedulian kita terhadap lingkungan. Seni dan budaya adalah media yang bisa menarik banyak atensi publik. Kita semua memiliki irisan kepentingan yang sama untuk menjaga bumi terlepas dari apapun latar belakang kita. Selain itu, dengan adanya pertunjukkan beragam seni dan budaya, maka kita juga turut menjaga kelestariannya. Melestarikan budaya artinya ikut menjaga lingkungan.

Seniman memiliki rasa dan kepekaan tersendiri, terutama tentang alam dan lingkungan karena alam adalah sumber inspirasi. Seniman dan alam saling berkaitan erat. Kampanye menjaga lingkungan melalui festival oleh seniman dinilai efektif dalam membangkitkan kesadaran masyarakat tentang kondisi lingkungan yang sedang tidak baik-baik saja, sehingga diharapkan semakin banyak yang peduli lagi dan mau berkontribusi dalam menjaga bumi.

Untukmu bumiku, demi bumi yang lestari.


Referensi:

About Cirebon. (2019). Jagakali Internasional Art Festival, Kampanyekan Lingkungan Hidup Melalui Seni Budaya. Diakses melalui https://aboutcirebon.id/jagakali-internasional-art-festival-kampanyekan-lingkungan-hidup-melalui-seni-budaya/ pada 15 Agustus 2021

Ashri, Abdullah Fikri. (2021). Tanpa Pengelolaan Sampah, Usia TPA Cirebon Tersisa Tiga Tahun. Diakses melalui https://www.kompas.id/baca/nusantara/2021/06/07/tanpa-pengelolaan-sampah-usia-tpa-kota-cirebon-tersisa-tiga-tahun pada 15 Agustus 2021

Cirebon Kota. (2021). Tentang Cirebon. Diakses melalui https://www.cirebonkota.go.id/tentang-cirebon/geografis/ pada 15 Agustus 2021

Jagakali Art Festival [@jagakaliartfest]. 30 Oktober 2019. Dokumentasi Jagakali Art Festival 2019 [Foto Instagram]. Diakses melalui https://www.instagram.com/p/B4PgvegDC3V/?utm_medium=copy_link pada 01 Agustus 2021.


Baca Selengkapnya

Minggu, 08 Agustus 2021

5 Alasan Pentingnya Lahan Gambut yang Jarang disebut

Halo teman-teman apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan sehat ya di situasi pandemi yang tidak pasti ini. Kali ini aku mau sharing tentang keseruan online gathering Eco Blogger Squad di bulan Agustus ini. Pada gathering kali ini mengangkat topik "Lindungi Lahan Gambut, Lindungi Fauna Indonesia", keren banget kan topiknya walaupun acara sebelumnya juga tidak kalah keren hehehe. 



Aku juga sangat tertarik dengan topik kali ini karena aku selama ini selalu penasaran dengan gambut dan mengapa sering terjadi kebakaran di lahan gambut. Setelah mengikuti gathering, aku mendapat insight dan pengetahuan baru tentang seluk beluk gambut yang jarang tersebut. Acara ini tentunya menghadirkan pembicara yang expert di bidangnya, yaitu Iola Abas selaku Koordinator Nasional Pantau Gambut dan Dr. Herlina Agustin selaku Peneliti Pusat Studi Komunikasi Lingkungan Fakultas Komunikasi Universitas Padjadjaran, serta acara ini semakin seru karena dipandu oleh kak Ocha (Fransiska Soraya). Nah, aku mau share di sini pengetahuan tentang gambut yang aku dapatkan sehingga harapannya semakin banyak orang yang tercerahkan tentang pentingnya gambut yang jarang disebut. 😊


Apa itu gambut dan bagaimana proses terbentuknya?

Menurut Pantau Gambut, gambut adalah lahan basah yang terbentuk dari timbunan materi organik yang berasal dari sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut, dan jasad hewan yang membusuk. Timbunan tersebut menumpuk dan dibutuhkan waktu ribuan tahun loh hingga membentuk endapan yang tebal yang disebut lahan gambut. Pada umumnya, gambut ditemukan di area genangan air, seperti rawa, cekungan antara sungai, maupun daerah pesisir.



Gambut memegang peranan penting dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Gambut juga merupakan rumah bagi cadangan karbon dunia yang tersimpan di dalam tanah dan tempat bagi ekosistem yang sangat kaya. Lalu, apa saja sih sebenarnya peran penting gambut untuk kehidupan kita? Nah, untuk lebih lengkapnya simak penjelasannya di bawah ini!


1. Indonesia memiliki lahan gambut terbesar kedua di dunia

Secara keseluruhan, lahan gambut Indonesia menempati peringkat keempat terbesar di dunia dengan luar sekitar 15 – 20 juta Ha. Sementara itu berdasarkan parameter lahan gambut tropis, Indonesia menempati peringkat terbesar kedua di dunia setelah lahan gambut Amazon di Brazil. Lahan gambut tersebar di Sumatera, Kalimantan, hingga Papua. Sayangnya, lahan gambut Indonesia sedang terancam karena kerusakan yang sangat masif dilakukan. Hal ini dipicu karena banyak orang yang menganggap bahwa lahan gambut seperti lahan terbuang yang dapat dikeringkan dan dialihfungsikan.

Penebangan skala besar untuk mengosongkan lahan pun terus menerus dilakukan untuk kepentingan pertanian dan perkebunan. Dampaknya, lahan gambut pun semakin mongering sehingga keseimbangan air dan karbon pun terus terancam. Hal tersebut yang akan memicu punahnya lahan gambut dan  jika terus-menerus dikeringkan, maka akan memicu kebakaran. Keadaan gambut yang mengenaskan membuat kita harus bisa melakukan restorasi karena sebagai salah satu pemegang lahan gambut terluas, Indonesia punya peran penting dalam menjaga keseimbangan iklim. Lahan gambut Indonesia mempunyai karakteristik unik, yaitu mampu menyimpan karbon 20 kali lipat lebih banyak daripada hutan hujan tropis atau tanah yang bermineral dan 90% di antaranya tersimpan di dalam tanah.   


2. Gambut sebagai pencegah dampak banjir dan kemarau

Lahan gambut memiliki daya serap yang tinggi sehingga berfungsi sebagai tandon air. Gambut seperti spons, yang mampu menyerap dan menampung air sebesar 480 – 850 persen dari bobot keringnya. Hal inilah yang membuat gambut berperan dalam mengurangi dampak bencana banjir dan kemarau. Ketika musim kemarau tiba, gambut memiliki cadangan air sehingga mencegah terjadinya kekeringan. Sebaliknya, ketika musim hujan pun gambut dapat menyerap air sehingga mencegah terjadinya banjir. Ketika gambut dikeringkan dan dialihfungsikan, maka gambut kehilangan daya serapnya. Oleh karena itu, tak heran jika kita melihat bahwa bencana banjir terjadi di daerah yang seharusnya bisa dicegah dengan adanya lahan gambut, contohnya bencana banjir di Kalimantan Selatan pada awal tahun 2021 ini yang diperparah oleh rusaknya ekosistem gambut. Banjir tersebut tercatat sebagai banjir yang terparah di Kalimantan Selatan. Gambut yang seharusnya berfungsi sebagai penyerap air menjadi tidak optimal karena ekosistemnya dirusak dan terjadi alih fungsi lahan, sungguh ironis bukan?

3. Habitat keanekaragaman hayati

Lahan gambut telah menjadi rumah bagi berbagai macam flora dan fauna. Hal ini dipengaruhi oleh karakteristik lahan gambut yang merupakan ekosistem unik dengan pH asam, miskin hara, bahan organik yang tebal, dan selalu terendam air. Dengan demikian, hanya flora dan fauna tertentu yang mampu beradaptasi dalam kondisi tersebut. Gambut merupakan rumah bagi pohon-pohon kayu besar dan tumbuhan bawah yang lebat. Jenis flora yang dapat ditemukan di lahan gambut di antaranya adalah ramin (Gonystylus Bancanus), jelutung rawa (Dyera Costulata), punak (Tetramerista Glabra), bungur (Lagerstroemia Speciosa), dan meranti rawa (Shorea Pauciflora).

Gambut juga merupakan habitat dari fauna asli yang hidup di darat dan di laut. Berdasarkan data WWF pada tahun 2009 yang dipublikasikan CIFOR.org, tercatat sebanyak 35 spesies mamalia, 150 spesies burung, dan 34 spesies ikan ditemukan di lahan gambut. Beberapa fauna tergolong ke dalam spesies endemik dan dilindungi, seperti halnya buaya sinyulong, langur, orangutan, harimau Sumatera, dan beruang madu.

4. Penunjang ekonomi masyarakat lokal

Seperti yang sudah disebut di poin sebelumnya bahwa lahan gambut menyimpan keanekaragaman hayati yang sangat kaya. Berbagai flora dan fauna yang habitatnya di lahan gambut dapat menjadi sumber pangan dan menunjang ekonomi masyarakat lokal. Mereka bergantung pada lahan gambut karena kekayaannya dapat dimanfaatkan untuk beternak, budidaya ikan, dan bertani bagi masyarakat yang tinggal di wilayah gambut. Ekosistem gambut cocok untuk dikembangbiakan berbagai jenis ikan dan ditumbuhi berbagai jenis tanaman. Namun, ketika gambut terdegradasi maka akan berdampak juga pada ekonomi masyarakat lokal. Misalnya, masyarakat Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, yang terdampak pengeringan gambut oleh perusahaan perkebunan. Masyarakat tersebut yang dahulunya menanam padi dan beternak ikan menjadi terpengaruh karena air gambut menyebabkan bencana banjir sehingga mereka tidak bisa lagi bertani dan berternak. Dengan begitu, perekonomian mereka pun terancam.

5. Mencegah perubahan iklim

Seperti yang sudah disebutkan bahwa lahan gambut kaya akan karbon. Cadangan karbon yang disimpan di lahan gambut mencapai angka dua kali lebih banyak dari hutan yang ada di seluruh dunia. Oleh karena itu,  ketika lahan gambut dikeringkan, diganggu, dan dialihfungsikan, maka cadangan karbon tersebut akan terlepas ke udara dan menjadi sumber utama gas rumah kaca.

 

Nah, itu dia alasan penting peran gambut untuk kehidupan kita dan entitas lainnya yang berada di sekitar gambut. Seperti yang sudah disebutkan bahwa ternyata gambut sedang terancam karena dialihfungsikan dan dikeringkan. Jika situasi ini terus berlanjut, maka akan mengancam kehidupan kita dan memperparah krisis iklim yang tengah melanda. Oleh karena itu, dibutuhkan restorasi gambut untuk mengembalikan fungsi ekologinya dan untuk kesejahteraan ekosistem dan kita semua.

 

Dibutuhkan waktu ribuan tahun untuk membentuk lahan gambut, tapi ironisnya hanya butuh waktu sesaat untuk merusaknya. Ayo semangat menebarkan dan mengedukasi orang-orang tentang pentingnya gambut yang jarang disebut!

Salam lestari generasi restorasi! πŸ’š


Referensi:

https://www.pantaugambut.id/

https://www2.cifor.org/ipn-toolbox/wp-content/uploads/pdf/C1.pdf

Baca Selengkapnya