Minggu, 18 April 2021

Alasan Mengapa Hari Bumi Harus diperingati

Halo teman-teman, kali ini aku mau nulis tentang konten acara Eco Blogger Gathering yang diselenggarakan pada Rabu, 14 April 2021. Eits tunggu, Eco Blogger Gathering itu apa? Jadi, Eco Blogger Gathering itu acara yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network bekerjasama dengan Walhi, Lingkar Temu Kabupaten Lestari, dan Hutan Itu Indonesia. Terus kok aku bisa ikutan gathering ini? Nah, jadi aku terpilih menjadi bagian dari Eco Blogger Squad.

Duh apaan lagi sih itu Eco Blogger Squad? Eco Blogger Squad adalah komunitas yang beranggotakan para blogger yang memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan hidup, terutama perubahan iklim dan perlindungan hutan. Di komunitas ini, para blogger bisa saling belajar tentang isu lingkungan hidup, meningkatkan berbagai keterampilan, berjejaring dengan blogger lainnya, dan tentunya bersenang-senang.

Pada gathering kali ini menghadirkan tiga pembicara yang keren-keren, ada siapa aja sih? Pertama ada Pak Yuyun Harmono selaku manajer kampanye keadilan iklim Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), kak Gita Syahrani selaku kepala sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), dan kak Christian Natalie selaku manajer program Hutan Itu Indonesia. Acara ini semakin seru karena dipandu oleh kak Fransiska Soraya dari Blogger Perempuan Network.

Eco Blogger Gathering pertama ini mengangkat topik “Hutan Indonesia sebagai Solusi dalam Mitigasi Iklim.” Acara ini diselenggarakan dalam rangka menyambut hari bumi, acara tahunan yang jatuh pada tanggal 22 April dan dirayakan di seluruh dunia. Lalu, mengapa hari bumi penting untuk dirayakan? Simak tulisan ini sampai akhir ya!

“Hari bumi itu dirayakan bukan tentang menyelamatkan bumi, tetapi tentang menyelamatkan manusia.” Kak Gita Syahrani – Kepala sekretariat  Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL)

Dokumentasi Acara Eco Blogger Gathering 

Pak Yuyun Harmono: Perubahan Iklim dan Peran Hutan Indonesia

Perubahan iklim yang terjadi saat ini tak lepas dari perilaku kita sebagai manusia yang merupakan salah satu penghuni planet hijau ini. Perilaku kita sebagai individu atau ekonomi, sosial, model produksi atau konsumsi telah berperan penting pada kondisi bumi. Terjadinya perubahan iklim, pemanasan global, sampai dengan kebakaran hutan tak lepas dari ulah tangan manusia yang katanya adalah khalifah. Dari sini kita bisa melihat bahwa apa yang kita lakukan tidak hanya berpengaruh pada diri kita sendiri atau lingkungan sekitar kita, tetapi juga pada bumi kita.

Pak Yuyun Harmono menyinggung tentang seorang scientist di UK yang menyatakan bahwa perubahan suhu bumi telah meningkat drastis, yakni sudah naik hingga akan mendekati 1,5°C. Penting bagi kita untuk melihat konteks iklim dengan rata-rata suhu bumi karena dampaknya sangat luar biasa. Pada 2017 saja suhu bumi sudah mencapai 1°C loh! Lalu, apa yang akan terjadi apabila suhu bumi sudah menyentuh 1,5°C? Simak gambar di bawah ini untuk mengetahui info lengkapnya ya!

Dampak Pemanasan Global

Dari gambar di atas kita bisa melihat bahwa perubahan iklim akan mengancam eksistensi kita sebagai manusia di bumi tempat tinggal kita. Kemudian, pemanasan global juga mengancam biodiversitas/ekosistem. Oleh karena itu, membatasi pemanasan suhu hingga 1,5 °C akan secara signifikan mengurangi risiko dampak yang ditimbulkan oleh iklim terhadap keanekaragam hayati dan ekosistem, termasuk hilangnya spesies dan kepunahan. Apa saja sih keuntungan lain yang bisa didapatkan ketika kita bisa menekan laju kenaikan suhu bumi?

1. Membatasi pemanasan suhu hingga 1,5°C akan mencegah prediksi pengurangan 50% untuk tanaman dan vertebrata dan 66% untuk serangga. Sementara, jika suhu melebihi 1,5 °C akan berdampak pada beberapa spesies, ekosistem, fungsi ekologi, dan layanan mereka kepada manusia, bahkan jika pemanasan global akhirnya stabil pada suhu 1,5 °C di tahun 2100.

2. Membatasi pemanasan hingga 1,5°C akan mengurangi  kasus kelangkaan air, seperti yang melanda kawasan Mediterania, Afrika Selatan, dan banyak negara kepulauan kecil yang mengalami kekurangan air bersih.

3. Pemanasan global pun mempengaruhi bahan pangan kita, yakni banyaknya kasus gagal panen atau kekurangan pangan. Menurut laporan IPCC, membatasi pemanasan global hingga 1,5°C dibandingkan dengan 2 °C akan mengurangi risiko gagal panen, berkurangnya kandungan nutrisi pangan, dan risiko yang lebih rendah terhadap produksi tanaman di Afrika Sub-Sahara, Asia Tenggara, Amerika Tengah dan Selatan.

4. Pada bidang kesehatan, IPCC menjelaskan bahwa setiap peningkatan pemanasan lobal akan berdampak pada kesehatan manusia, khususnya di daerah perkotaan, karena daerah perkotaan lebih hangat daripada daerah pedesaan sekitarnya. Hal ini akan menyebabkan peningkatan risiko beberapa penyakit yang ditularkan melalui vektor, seperti malaria dan demam berdarah. Namun, risiko penyakit terkait panas dan kematian berkurang pada suhu 1,5 °C dibandingkan dengan 2 °C. Bahkan Covid-19 yang terjadi pun dapat dikaitkan dengan kerusakan lingkungan karena akibat ruang hidup sampah yang awalnya inang virus tidak terjadi kemudian ekspan ke ruang hidup manusia.

Perubahan iklim juga menyebabkan terjadinya berbagai macam bencana. Tren bencana di Indonesia saat ini adalah 6 dari 10 bencana merupakan bencana hidrometereologi, seperti banjir, longsor, dan puting beliung yang dipicu oleh faktor perubahan iklim. Bencana hidrometereologi tersebut selama 10 tahun terakhir mengalami peningkatan. Beberapa kasus terakhir adalah di Kalimantan Selatan, di NTT, dan NTB. Dalam upaya melakukan mitigasi iklim, kita harus melihat prinsip energi  berkeadilan. Apa aja sih prinsip energi berkeadilan? Simak gambar di bawah ini ya.


Prinsip Energi Berkeadilan

Dalam konteks ini, WALHI melihat bahwa membangun energi berkeadilan itu berarti tidak ada yang ditinggalkan, termasuk buruh dan pekerja yang layak. Transisi berkeadilan itu berarti kedaulatan pangan dan melindungi hutan serta keanekaragaman hayati kita. Menjaga hutan akan berimbas pada keuntungan lainnya yang akan kita dapatkan.  

Ketika hutan dirusak akan berkontribusi pada perubahan iklim, tetapi ketika kelestariannya terjaga maka akan menjadi solusi atas krisis iklim yang terjadi. Penting bagi kita untuk terus menjaga hutan Indonesia agar tetap lestari dan terhindar dari ekspansi industri perkebunan skala besar (baik sawit, kayu, dan sebagainya) dan ekspansi pertambangan. Jadi menjaga hutan tetap lestari penting bagi upaya mitigasi iklim dan sekaligus pengakuan hak atas hutan kepada masyarakat adat dan masyarakat lokal. Ketika hutan lestari, maka akan mendukung ekonomi terjaga, karena hutan itu sumber pangan dan sumber energi.

Setelah kita mengetahui kondisi iklim global dan khususnya perubahan suhu yang terjadi di Indonesia, apa saja yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan bumi kita? Jawabannya tentu saja hutan Indonesia sebagai solusi untuk menyelamatkan bumi. Hutan bukan hanya dijaga, tetapi juga harus diselamatkan kelestariannya agar masyarakat adat/sosial menjadi sejahtera dan hutan juga bisa memberikan kontribusi yang baik bagi ekonomi kita. 

Kak Gita Syahrani: Visi Ekonomi Lestari Demi Mewujudkan Lingkungan yang Terjaga dan Masyarakat Sejahtera


Tahukah kamu bahwa transaksi e-commerce terus melonjak tajam hampir 80% yang berarti pola ekonomi Indonesia saat ini di dominasi oleh perdagangan online. Namun, mirisya mayoritas produk yang kita beli bukan produk buatan Indonesia. Padahal Indonesia memiliki komoditas lokal yang sangat menjanjikan. Hutan Indonesia menghasilkan banyak komoditas yang melimpah dan potensi pasarnya pun terbuka lebar. Kita harus membuka mata kita bahwa hasil hutan bukan hanya kayu saja, ataupun hanya bahan mentah yang belum diolah. Banyak sekali masyarakat adat ataupun UMKM yang mengolah hasil hutan menjadi produk berkelanjutan.

Konsep ekonomi lestari dapat diterapkan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan menyejahterakan masyarakat lokal. Dalam hal ini, ekonomi lestari menawarkan keseimbangan aspek lingkungan, sosial, ekonomi dalam kebijakan, perencanaan, dan program. Ekonomi lestari juga bertujuan untuk meningkatkan pendapatan daerah, mengurangi kemiskinan, dan pengangguran. Pada tahap selanjutnya akan menuju pada nol deforestasi dan degredasi hutan dan gambut. Dengan begitu, daya saing daerah pun akan meningkat karena memanfaatkan komoditas lokal yang akan diolah secara lestari dan memperhatikan aspek lingkungan. Dari sini terlihat bahwa visi ekonomi lestari ideal diterapkan untuk Indonesia yang mempunyai potensi komoditas lokal melimpah, dari mulai madu, tengkawang, damar, cendana, pegagan, kayu putih, kopi, daun kelor, dan masih banyak lagi. Jangan sampai hasil hutan hanya dikenal kayu saja atau bahan mentah yang belum diolah. Komoditas lokal dapat diolah menjadi produk berkelanjutan, baik untuk makanan, industri kecantikan, pakaian, kerajinan, dan lain-lain.


Doughnut Economy Kate Raworth

Konsep ekonomi lestari kurang lebih sejalan dengan teori ekonomi donat yang dikemukakan Kate Raworth (doughnut economy) pada tahun 2012. Dalam konsep ekonomi donat, Kate Raworth mempertimbangkan aspek kelestarian lingkungan yang terbatas dan eksistensi manusia di bumi yang akan terancam akibat terjadinya krisis iklim dan atau krisis sosial. Oleh karena itu, kita tidak bisa selamanya bergantung pada konsep ekonomi konvensional yang diperkenalkan oleh ekonom terkemuka, seperti Max Weber.

Konsep ekonomi donat berbentuk seperti donat, yakni terdiri dari dua lingkaran. Lingkaran dalam menggambarkan sumber daya yang cukup bagi manusia untuk memiliki kehidupan baik, seperti makanan, air bersih, tempat tinggal, sanitasi, dan sebagainya. Sementara itu, lingkaran luar menggambarkan batasan-batasan alam yang dimiliki bumi, seperti potensi terjadinya krisis iklim, polusi, penipisan ozon, gas rumah kaca, punahnya spesies, dan sebagainya. Lalu ada ruang yang berada di antara keduanya, nah di ruang ini manusia harus berjuang untuk dapat hidup sejahtera karena di sini merupakan ruang aman secara ekologis dan adil secara sosial.

Christian Natalie: Hutan adalah Jawaban untuk Menghentikan Krisis Iklim

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan dalam misi menyelamatkan hutan, salah satunya dengan kampanye. Mengapa kampanye hutan itu penting? Karena perspektif masyarakat perkotaan terhadap hutan itu sebagai sesuatu yang jauh (out of sight, out of mind), kemudian karena hutan terlalu jauh sehingga tidak terkoneksi, dan yang terakhir filtered information yang membuat informasi tentang hutan tidak selalu bisa kita lihat. Hal tersebut membuat obrolan tentang hutan harus dinaikkan agar semakin banyak orang yang “mengenal” hutan. Dalam hal ini Hutan Itu Indonesia (HII) sebagai gerakan terbuka yang percaya akan kekuatan pesan positif untuk memberikan cinta kepada hutan Indonesia yang berpengaruh pada kehidupan manusia, sehingga berusaha untuk mengkampanyekan hutan dalam rangka mendekatkan hutan dan menumbuhkan cinta. Wujud nyata kampanya HII tercermin dari beberapa program yang berupa kampanye jaga hutan, cerita dari hutan, adopsi pohon, produk hutan non-kayu, dan jalan-jalan ke hutan.


Hutan adalah jawaban

Sekali lagi dapat ditegaskan bahwa hasil hutan bukan hanya kayu karena hutan juga menghasilkan komoditas pangan (bahan baku dan olahan makanan, minuman), komoditas kerajinan (bahan olahan hasil hutan yang dibuat untuk aksesoris maupun digunakan untuk hasil sekunder lainnya), dan pengelola jasa lingkungan (komunitas masyarakat maupun individu di sekitar hutan dengan memperhatikan perlindungan biodiversitas, kekayaan budaya, dan pelestarian air, udara, dan lain-lain). Adapun hasil hutan kayu yang legal adalah dengan mencantumkan beberapa label atau sertifikasi eco label, seperti FSC, Forests for All Forever, Indonesian Legal Wood, Bangga Buatan Indonesia.

Momentum Hari Bumi memberikan trigger yang baik bagi kita. Dalam meningkatkan kampanye dan narasi tentang hutan dengan konsisten terlepas dari latar belakang kita, maka kita akan bisa menyelamatkan eksistensi kita sebagai manusia dan bumi sebagai tempat tinggal kita. Hutan itu bukan hanya pohon, tetapi hutan juga menyimpan flora, fauna, budaya, wisata, pangan sehingga jika hutan punah, maka akan sulit tergantikan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tetap menjaga kelestarian hutan Indonesia. 

Dapat disimpulkan bahwa hutan memiliki peranan penting dalam menyelamatkan bumi dari krisis iklim yang tengah terjadi. Perlu digarisbawahi juga perilaku kita sebagai manusia berkontribusi dalam menyumbang terjadinya krisis iklim ini. Kita bisa berkolaborasi untuk berkontribusi menjaga hutan Indonesia, kita memiliki irisan kepentingan yang kuat atas isu hutan terlepas dari apapun latar belakang kita.

Jika kita bisa berkontribusi dan berperan sesuai profesi kita masing-masing, maka narasi tentang pentingnya hutan dalam mitigasi perubahan iklim akan terdengar oleh lebih banyak orang. Dengan begitu, akan semakin banyak orang yang sadar bahwa kondisi bumi sekarang ini sedang tidak baik-baik saja. Ketika kita bisa memperlakukan hutan dengan baik, mengolah hasilnya secara lestari dan berkeadilan, maka lingkungan akan terjaga, kondisi bumi akan membaik, dan manusia akan sejahtera. Maka kembali lagi pada pernyataan awal bahwa sejatinya merayakan hari bumi itu untuk menyelamatkan manusia karena pada dasarnya bumi akan tetap baik-baik saja walaupun tanpa ada manusia di dalamnya.

Sampai di sini catatan Eco Blogger Gathering pertama dalam rangka memperingati Hari Bumi. Terima kasih ya sudah membaca tulisanku, semoga bermanfat dan jangan lupa bagikan tentang informasi ini agar semakin banyak orang yang tahu tentang mengapa kita perlu menjaga hutan dan alasan mengapa hari bumi diperingati. Selamat Hari Bumi!😊

 


Baca Selengkapnya

Minggu, 11 April 2021

Pentingnya Memilih Produk Skincare Ramah Lingkungan dan Ramah Sosial

Halo semuanya, apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan sehat ya 😊 

Kali ini aku mau nulis tentang konten acara #LestarikanCantikmu online blogger gathering yang diselenggarakan pada hari Jumat, 09 April 2021. Eits tunggu… ini acara apa sih? Kalian pasti tahu kan kemarin aku ikutan kompetisi blog #LestarikanCantikmu yang ini nih  tulisanku. Acara tersebut diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network, Kabupaten Lestari, dan Madani Berkelanjutan. Nah, Alhamdulillah aku menjadi salah satu yang terpilih buat ikut Online Gathering tersebut.

Di acara online blogger gathering ini, selain mengumumkan pemenang kompetisi blog #LestarikanCantikmu, juga menghadirkan pembicara yang keren-keren. Siapa aja sih emang pembicaranya? Yang pertama ada kak Danang Wisnu yang merupakan seorang skincare creator yang vokal membahas bahan baku kosmetik yang ramah lingkungan. Yang kedua ada kak Gita Syahrani yang merupakan kepala sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL). Yang terakhir ada Mbak Christine, perwakilan dari Segara Naturals, pegiat produk beauty and wellness yang memanfaatkan komoditas lokal Indonesia sebagai bahan baku utama. Acara ini tambah seru lagi karena dipandu oleh kak Fransika Soraya yang tentu saja membagikan seputar sustainable beauty and wellness.

Acara dibuka dengan games tebak kata yang membuat suasana jadi cair dan seru.  Tentunya games-nya juga masih berhubungan dengan tema acara ini, yaitu hubungan kecantikan dengan alam. Kemudian dilanjut dengan pemutaran video dari LTKL tentang pendapat 17 orang berusia 21 – 30 tahun yang berdomisili di Jakarta terhadap produk kecantikan yang ramah lingkungan dan ramah sosial. Ternyata tren penggunaan dan pembelian produk berbasis alam kian meningkat, termasuk di sektor kecantikan. Salah satu pemicunya adalah kondisi lingkungan saat ini yang memprihatinkan (Amberg dan Fogarassy, 2019). Dalam video ini juga dijelaskan bahwa suatu produk disebut ramah lingkungan dan ramah sosial jika keseluruhan proses produksinya, mulai dari pengambilan bahan baku, formulasi, konsumsi, daur ulang kemasan hingga sistem pembuangan sampah mengikuti prinsip ramah lingkungan dan ramah sosial.

“Produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial dapat menyejahterakan masyarakat, menjaga lingkungan, dan membantu pembangunan ekonomi negara.” (Tolnay, dkk., 2018).

Berikut merupakan kesimpulan talk session dari ketiga pembicara

Kak Danang Wisnu: Pentingnya Mengetahui Bahan Baku Produk Skincare yang Kita Pakai

Perbincangan pertama dibuka oleh kak Danang Wisnu, bahwa kita penting memperhatikan bahan baku dalam produk skincare. Pada dasarnya karena saat kita memilih untuk memakai suatu produk skincare, maka seharusnya kita sudah tahu apa tujuannya. Oleh karena itu sebelum memilih produknya, maka kita harus mengetahui dan mengerti bahan-bahan dalam produk skincare tersebut sehingga dapat memberikan hasil yang efektif dan mengetahui cara kerjanya. Kita sebagai konsumen harus cerdas dalam mengetahui kandungan produk skincare yang kita pilih agar bisa mengerti cara kerjanya di tubuh kita dan memberikan hasil yang sesuai ekspektasi.


Kemudian, kak Danang juga menjelaskan bahwa ada kaitan antara bahan baku yang ramah lingkungan dengan kesehatan kulit kita. Bahan baku skincare yang aman itu standarnya sudah bersertifikasi BPOM. Sebagai konsumen kita harus jeli dan teliti. Bahwa memperhatikan bahan skincare yang kita pakai itu penting banget, jangan sampai hanya tergiur iklan dan iming-iming belaka. Bahan baku yang ramah lingkungan itu sangat berkaitan dengan kesehatan kulit. Dewasa ini, sudah mulai ada tren dan ketertarikan untuk memilih produk skincare dan kecantikan yang ramah lingkungan.

“Pakai skincare itu harus bikin kita senang, pake make up itu harus bikin kita bahagia. Ketika produk yang kita pakai itu diproses dengan bagus, dari sumber yang bagus, bahkan kita bisa saling menolong sesama, maka hal itu semakin membuat kita bahagia.” Danang Wisnu – Skincare content creator C Channel Class Vol.5 “Be an expert for your skin” (5 Desember 2020). 

Kak Gita Syahrani: Brand Kecantikan Harus Bercerita Tentang Komoditas yang Mereka Pakai

Saat ini sudah ada kesadaran konsumen memilih produk skincare yang ramah lingkungan. Studi konsumen dari LTKL, Madani, dan C. Channel tentang pertimbangan konsumen saat membeli produk kecantikan itu ada beberapa hal, yaitu kualitas produk, harga produk sesuai budget, bahan dalam produk, kemasan dan promosi, sertifikasi halal, dan review dari influencer. Dari enam hal tersebut, banyak yang peduli terhadap bahan dalam produk skincare. Apa yang membuat mereka peduli dan sadar? Ternyata ada concern besar terkait polusi dan bagaimana produk yang mereka pilih akan memperparah polusi, bagaimana dari produk itu dibuat sampai dikemas itu seperti apa.



Ada tiga aspek utama produk ramah lingkungan dan ramah sosial, yaitu menjaga fungsi alam tanpa bencana (menjaga ekosistem), petani/pekebun/pekerja sejahtera, energi dan limbah produksi terjaga. Beberapa potensi komoditas ramah lingkungan dan ramah sosial di Indonesia, di antaranya adalah beras, nanas, tengkawang, bunga telang, asam maram, kunyit, ekstrak albumin ikan gabus, kelapa sawit, kopi, cokelat, lidah buaya, pegagan, madu, coconut oil. Komoditas lokal itu tidak serta merta ramah lingkungan dan ramah sosial karena kita juga harus melihat aspek produksinya dari awal, ditanamnya seperti apa, siapa saja yang terlibat, apakah petaninya sejahtera, apakah menggunakan praktik pertanian yang baik, apakah UMKM-nya mendapat harga yang layak atau tidak. Kemudian apakah saat diproduksi, produknya bisa mempertanggungjawabkan energi dan limbah yang dihasilkan.

6 langkah yang bisa kita lakukan: baca label, kenali bahan, pahami komoditas asal, apa dampaknya?, pilih yang lestari, berbagi cerita kamu!

Yang berarti: baca dulu labelnya, kenali apa aja sih bahannya, komoditasnya apa sih yang terlibat, apa dampaknya sih komoditasnya itu (riset dulu), pilih aja yang lestari, dan berbagilah tentang pengalamanmu memilih produk tersebut.

Pilihlah produk yang “bercerita”, dari mana produk berasal, dibeli dari mana, bagaimana cara komoditas diproses. Semakin brand bercerita, semakin membuat konsumen lebih gampang dan paham.

Salah satu komoditas lokal yang ramah lingkungan adalah kelapa sawit. Kalau kelapa sawit yang sustainable itu ada standar RSPO-nya dan ISPO, tapi tidak semua label mencantumkannya! Jadi sebaiknya brand harus bercerita nih! Konsumen akan lebih senang karena bisa lebih paham apa saja kandungannya. Kalau pun tidak ada label standarnya, cari saja brand yang bercerita biar kita yakin sama kandungannya. Brand harus berinovasi dan punya semangat memberitahu pada konsumen tentang komoditas apa dalam produknya sehingga menjadi brand yang bagus, bukan hanya untuk tubuh kita, tetapi juga untuk jiwa kita.



Mbak Christine: Segara Naturals sebagai Pilihan Produk Skincare yang Memanfaatkan Komoditas Lokal Indonesia

Segara Naturals merupakan pegiat produk beauty and wellness mengusung produk yang ramah lingkungan. Berawal dari kegelisahan Mbak Christine melihat indahnya Indonesia, tetapi hutannya banyak yang gundul dan lautnya banyak mengandung sampah. Mbak Christine mencari solusi agar gampang bertraveling tanpa merusak alam dan menyumbang sampah ke lingkungan. Oleh karena itu, ia mulai menciptakan produk Segara Naturals yang mencoba memberikan solusi atas masalah ini sehingga diharapkan produknya bisa ramah lingkungan. Mbak Christine memandang bahwa kita sebagai konsumen banyak sekali dibombardir oleh informasi. Oleh karena itu, kita sebagai konsumen harus bisa mengedukasi diri kita sendiri.



Segara Naturals juga memanfaatkan komoditas lokal yang ramah lingkungan dalam formulasi produk-produknya. Mbak Christine melihat bahwa Indonesia punya banyak potensi komoditas lokal untuk dimanfaatkan dalam produk kecantikan. Ramah lingkungan dalam hal ini proses dari hulu ke hilir harus transparan tanpa merusak alam. Singkatnya, Segara memiliki prinsip kesinambungan hulu – hilir karena mengingat jumlah sampah plastik dari industri kecantikan mencapai 120 miliar.  Segara Naturals juga meminimalisir zero waste yang terlihat dari kemasannya yang dirancang menggunakan bahan kaleng aluminium. Segara menghitung berapa besar sampah yang mereka hasilkan dan berapa yang bisa didaur ulang. Dalam hal bahan baku pun mereka menjelaskan sejelas mungkin sehingga diharapkan konsumen bisa memahami apa saja komoditas yang mereka pakai dalam produknya. Hal ini terlihat di label produknya yang “bercerita”. Secara singkat, Segara Naturals mengusung konsep minim sampah, anti tumpah, kulit sehat alami.

Nah, itulah ilmu yang aku dapatkan dari online blogger gathering #LestarikanCantikmu. Kalau boleh aku simpulkan, kita sebagai konsumen harus bisa mengedukasi diri sendiri sebelum memilih produk skincare yang kita pakai. Produk skincare yang ramah sosial dan ramah lingkungan itu adalah yang menggunakan komoditas lokal berkelanjutan dan mempertimbangkan aspek sosial dari mulai proses produksinya hingga menjadi produk siap pakai (dari hulu ke hilir). Indonesia menawarkan beragam komoditas lokal yang bisa dimanfaatkan oleh industri kecantikan. Nah, kita tinggal memilih produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial. Ketika kita bisa memilih produk kecantikan yang ramah lingkungan dan ramah sosial, maka kita pun telah berkontribusi melindungi bumi dan menyejahterakan masyarakat. Lingkungan pun akan terjaga, dengan begitu masyarakat pun ikut sejahtera.

Aku senang sekali bisa mengikuti acara ini karena banyak hal baru yang bisa aku pelajari dan bisa aku tulis di sini. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisanku. Semoga informasi ini bisa berguna buat kalian semua dan aku akan terus membagikan hal baik yang kudapatkan melalui tulisanku. Semoga kalian suka ya, au revoir! 😊




Baca Selengkapnya