Kamis, 10 Juni 2021

Cara Mudah Mencegah Karhutla dan Pandemi, Kira-Kira Bagaimana ya?

Halo teman-teman... Apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan sehat ya dan semoga masih semangat mencintai bumi. 😊

Ngomong-ngomong soal bumi nih, bulan Juni ada hari penting loh terkait bumi. Apa itu? Nah, tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia! Kenapa ya Hari Lingkungan Hidup harus diperingati? Ok terlepas dari sejarahnya, dari dulu memang sudah ada kesadaran negara-negara untuk berkomitmen menjaga lingkungan agar tetap lestari. Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi trigger bagi kita untuk merenungi lagi dan menyadari tentang pentingnya menjaga alam dan lingkungan. Keseimbangan ekosistem alam dan lingkungan harus dijaga karena di sinilah kita menumpang hidup. Mengingat fakta bahwa sampai saat ini bumilah yang menjadi planet ideal untuk ditempati manusia, berarti sebagai konsekuensinya kita harus bertanggung jawab terhadap kelestariannya karena hanya ada satu bumi.

Menurut UN Environment Program, tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini adalah  Restorasi Ekosistem. Apa aja sih bentuk restorasi ekosistem itu?

Di antaranya adalah reboisasi, menanam pohon, menghijaukan kota, mengubah pola makan, membersihkan sungai dan pantai. Tujuan restorasi ekosistem adalah membentuk generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan berdamai dengan alam.

Restorasi ekosistem itu penting loh karena seperti sudah kita tahu bahwa beberapa tahun ini kebakaran hutan dan lahan kian masif terjadi dan dilakukan. Selain itu, banyak bencana alam yang terjadi akibat ulah tangan manusia, termasuk pandemi Covid-19 yang tengah melanda dunia juga erat kaitannya disebabkan oleh perubahan tatanam ekosistem akibat kebakaran hutan loh!

Pada hari Jumat 4 Juni, aku mengikuti acara Eco Blogger Squad Online Gathering dengan tema “Cegah Karhutla, Cegah Pandemi” dalam rangka menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Tentunya acara ini sangat seru dan materinya “daging” banget, tidak kalah seru dengan online gathering sebelumnya. Apalagi pada gathering kali ini mengundang pembicara yang kompeten di bidangnya, yaitu Dedy Sukmara selaku Direktur Informasi dan Data Auriga Nusantara yang kali ini membahas tentang bencana tahunan kebakaran hutan dan lahan, serta ada dokter Alvi Muldani selaku Direktur Klinik di Yayasan Asri (Alam Sehat Lestari). Acara ini semakin seru karena dipandu oleh kak Fransiska Soraya dari Blogger Perempuan Network.



Bencana Karhutla yang Terus Melanda Indonesia Setiap Tahunnya

Selama dua dekade terakhir, bencana karhutla yang paling mengkhawatirkan terjadi pada dua tahun lalu atau pada tahun 2019 yang menyebabkan 1,6 hektar hutan dan lahan hangus dilalap api. Asap dari kebakaran hutan selalu memicu berbagai penyakit dan masalah, bahkan memanaskan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara tetangga. Tak heran jika bencana karhutla yang sering melanda menyebabkan Indonesia masuk ke dalam penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.

Pemicu karhutla sering dituding karena pengaruh kemarau panjang (El Nino) yang terjadi tiap tahunnya. Namun faktanya, karhutla terus terjadi bahkan di tahun-tahun tanpa kemarau panjang. Oleh karena itu, ada faktor lain yang dituding sebagai pemicu karhutla, yaitu ulah tangan manusia baik karena disengaja atau karena lalai. Kebakaran hutan dan lahan terus terjadi tiap tahunnya sehingga bencana ini menyebabkan Indonesia berkontribusi dalam kenaikan karbon yang signifikan secara global. Provinsi api yang sering terjadi karhutla dan menyumbang terjadinya kabut asap adalah Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, dan Papua. 

Lalu, sebenarnya apa saja sih yang menyebabkan terjadinya karhutla?

Ada beberapa faktor penyebab karhutla yang bisa dibagi dua, yaitu faktor alami dan faktor tangan manusia. Faktor alami yang terjadi karena petir, aktivitas vulkanis, dan ground fire. Sementara itu, faktor tangan manusia terjadi karena adanya pembukaan lahan secara masif dengan cara membakar, perburuan, penggembalaan, konflik lahan, dan aktivitas lainnya. Faktanya adalah karhutla di Indonesia hanya satu persennya saja yang terjadi karena faktor alami loh, sedangkan 99% disebabkan oleh ulah tangan manusia, baik disengaja atau memang lalai. Miris sekali bukan?



Ada beberapa dampak yang terjadi akibat karhutla, di antaranya adalah dari segi biodiversitas menyebabkan hilangnya habitat dan penuruan populasi tumbuhan dan hewan. Selain itu, karhutla juga berdampak pada kesehatan, pendidikan, dan transportasi karena karhutla memicu adanya bencana kabut asap yang berpengaruh pada aspek kesehatan, sekolah yang terpaksa harus diliburkan, dan jarak pandang terganggu sehingga mempengaruhi transportasi. Karhutla juga berkontribusi pada cepatnya perubahan iklim dan pemanasan global. Aspek ekonomi juga ikut terdampak karena akibat karhutla sepanjang 2019, Indonesia mengalami kerugian sebanyak Rp72, 95 triliun.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah karhutla? Cara mudah yang bisa kita sebagai individu mencegah karhutlah adalah jangan membeli produk dari perusahaan yang melakukan kejahatan lingkungan, seperti melakukan praktik kebakaran hutan, merusak alam, dan aktivitas lain yang merusak hutan.

1. Membeli produk yang terdapat eco/green lable

2. Menanam pohon

Beberapa hal yang harus kita lakukan untuk menanggulangi karhutla.

1. Memperluas moratorium hutan dan gambut

2. Meningkatkan penegakkan hukum

3. Restorasi hutan dan gambut terdegredasi

4. Mendukung komunitas pemadam kebakaran dan kapabilitas pemantauan

5. Membangun infrastruktur hidrologis dan mendorong kapasitas respon dini

6. Memberi insentif ekonomi untuk tidak membakar.

Kaitan antara Karhutla dan Pandemi yang Melanda Dunia

Kebakaran hutan juga berkaitan dengan deforestasi. Keduanya saling berkorelasi dan berpengaruh pada kesehatan karena manusia dan lingkungan itu saring berkait erat. Masalah kesehatan yang timbul akibat dari kerusakan lingkungan itu sangat banyak loh! Salah satunya pandemi Covid-19 yang tengah melanda dunia.  Pandemi Covid-19 sendiri dipercaya dipicu oleh transmisi virus dari hewan ke manusia. Hewan terpaksa meninggalkan habitat aslinya karena meningkatnya kerusakan lingkungan.

Faktor penyebab pandemi:

Pandemi disebabkan oleh organisme spesifik dan telah berada bersamaan dalam beberapa ribu tahun, tetapi tidak menyebabkan penyakit. Kemudian, terjadilah kontak makhluk liar dengan manusia melalui domestikasi (harusnya hewan liar ada di alam), habitat liar terganggu, dan perdagangan hewan liar. Hal tersebut dipercepat dengan perjalanan udara, urbanisasi, dan perubahan iklim sehingga wabah pun menyebar dengan cepat.

Apa sih penyakit zoonosis itu?

Zoonosis adalah penyakit atau infeksi yang secara alami bisa ditransmisikan dari vertebrata ke manusia. Ada lebih dari 200 penyakit zoonosis, di antaranya ada rabies, HIV, ebola, salmonellosis, dan Covid-19.

Pencegahan dan kontrol:

1. Guideline yang aman dan sesuai dalam perawatan hewan di sektor agrikultur.

2. Kampanye mencuci tangan yang benar.

3. Menjaga hutan dan lingkungan

Deforestasi dan fragmentasi habitat

-         Sekitar 1,6 milyar manusia menggantungkan hidupnya pada hutan sehingga resiko bertemu kehidupan liar lebih tinggi.

-         Penebangan pohon mengubah lingkungan, ekosistem, dan mempengaruhi kemunculan penyakit dan transmisinya (Taylor, 1997).

 

Dari sini bisa kita pahami bahwa ada kaitan erat antara fragmentasi dan deforestasi dengan terjadinya pandemi. Kerusakan lingkungan menyebabkan ekosistem tidak lagi seimbang sehingga habitat hewan dan tanaman pun ikut terancam. Ketika hal ini terjadi maka hewan dengan mudah bermigrasi ke lingkungan manusia, maka penularan virus pun terjadi dan wabah lebih cepat menyebar.

Kita tahu bahwa saat ini bumi sedang tidak baik-baik saja. Sebagai manusia yang menumpang hidup di bumi, maka sudah selayaknya kita menghormati makhluk hidup lainnya. Kita harus memiliki akhlak yang baik terhadap alam dan belajar bahwa ada entitas lain yang berada di sekitar kita yang hidup dan perlu dihormati.

Sebagai generasi restorasi, mari kita berkontribusi dalam mengobati bumi yang sedang sakit dengan cara menjaga alam dan lingkungan. Karena sejatinya, menjaga bumi sama dengan menjaga keselamatan kita semua sebagai manusia. Maka biarkanlah hutan tetap hijau tanpa karhutla dan biarkanlah langit tetap membiru tanpa kabut asap! Salam lestari kawan! 


Baca Selengkapnya