Minggu, 15 Agustus 2021

Jagakali Art Festival: Merawat Lingkungan, Menjaga Seni Budaya demi Bumi yang Lestari

Sejak zaman dahulu, sungai memiliki peranan signifikan dalam peradaban umat manusia. Sungai Nil yang menjadi sumber peradaban Mesir, Mesopotamia, Sumeria, sungai Eufrat, dan sungai Indus di Pakistan-India. Di Indonesia sendiri, kerajaan-kerajaan maritim Nusantara zaman dahulu telah menggunakan sungai sebagai lalu lintas manusia, bahan baku hingga budaya. Tak heran peradaban besar di dunia bahkan di Indonesia pun lahir di tepi sungai. Sebut saja Sriwijaya, Batanghari, Musi hingga Batavia yang lahir, tumbuh, dan besar di tepi sungai.



Pada masa lalu, sungai punya peranan vital sebagai jalur perdagangan, migrasi, dan transportasi. Namun, saat ini sungai seperti tak ternilai lagi. Hal ini disebabkan oleh manusia yang mengalihfungsikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah raksasa. Alhasil sungai pun menjadi tak terawat, airnya tak sejernih dulu lagi, alamnya tak lestari. Pengetahuan yang masih kurang dan minimnya kepedulian merawat alam disinyalir menjadi faktor yang membuat hal ini terjadi. Desakan ekonomi dan pembangunan yang tak berkelanjutan pun telah menyebabkan kemiskinan dan datangnya bencana bagi manusia dan ekosistem di sekitarnya.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengkampanyekan kepedulian terhadap lingkungan dan edukasi pentingnya menjaga alam agar tetap lestari. Setiap dari kita bisa berperan dalam memberikan kontribusi nyata untuk lingkungan terlepas dari latar belakang kita. Dimulai dari kesadaran diri sendiri, menyadarkan orang di sekitar kita, sampai dengan menyadarkan masyarakat luas. Salah satu cara yang menarik adalah dengan mengadakan festival seni dan budaya yang mengangkat isu lingkungan. Seni dan budaya merupakan sesuatu yang indah dan lekat dengan kita, sehingga menyadarkan banyak orang mengenai isu lingkungan melalui seni dan budaya dinilai lebih efektif dan efesien.

Salah satu festival seni dan budaya bertemakan kelestarian lingkungan adalah “Jagakali Art Festival” yang digelar di kota Cirebon, Jawa Barat sejak 2006 silam. “Jagakali” bermakna “menjaga sungai”, sebuah konsep festival yang bertujuan untuk menyadarkan banyak orang tentang pentingnya sungai sebagai sumber kehidupan dan sumber peradaban sejak zaman dahulu. Namun, sungai pada saat ini telah tercemar dan jauh dari peradaban. Manusia yang tak bertanggungjawab telah mengubah sungai sedemikian tercemarnya sehingga sungai menjadi tempat sampah raksasa. Melihat keresahan ini, Mas Nico Broer selaku penggagas "Jagakali Art Festival” ingin mengampanyekan pentingnya menjaga lingkungan dan mengemasnya melalui seni dan budaya, sehingga diharapkan kita bisa merenungi tentang kondisi lingkungan saat ini yang sedang tidak baik-baik saja.





Jagakali Art Festival merupakan event tahunan yang terdiri dari banyak sekali rangkaian acaranya, dari mulai workshop pengolahan sampah, workshop seni rupa, mendongeng, beragam lomba, bersih-bersih sungai, menanam pohon sampai acara puncaknya yang berupa pertunjukkan berbagai macam seni. Tak heran acara ini pun digelar selama beberapa hari dan dihadiri oleh beragam komunitas, baik komunitas di Cirebon sendiri maupun dari luar kota. Dari mulai komunitas seni, budaya, musik, pecinta kucing, dan masih banyak lagi. Bahkan pada 2019 lalu, acara Jagakali Art Festival ini dihadiri juga oleh peserta dari berbagai negara loh, di antaranya adalah Algeria, Azerbaijan, Ekuador, Hungaria, Inggris, Iran, Malawi, Meksiko, Mesir, Rusia, Slovakia, Timor Leste, Tunisia, Timor Leste, dan masih banyak lagi. Hal ini membuat acara ini semakin banyak menyerap atensi masyarakat sehingga dibubuhkan kata tambahan pada event 2019 kemarin, yaitu menjadi “Jagakali International Art Festival” atas partisipasi berbagai negara yang menampilkan pertunjukkan seni dan workshop di event ini.

Setiap tahunnya, Jagakali Art Festival mengangkat tema yang berbeda. Pada tahun 2019, yang merupakan event pertama berskala Internasional dan sekaligus acara terakhir sebelum pandemi Covid-19 melanda, mengangkat tema “Cinta Sejati.” Tema tersebut dipilih karena ketua pelaksana melihat bahwa pada 2019 lalu terdapat banyak isu yang terjadi di Indonesia, dari mulai politik hingga lingkungan. Kita dihadapkan pada berbagai isu perselisihan antar manusia, polemik antar agama, isu rasial, dan kerusakan lingkungan yang terus terjadi membuat manusia yang seharusnya berperan sebagai khalifah di bumi kehilangan tujuannya untuk menyeimbangkan ekosistem lingkungan. Jika ditarik kesimpulan, sebenarnya isu tersebut mencuat karena kurangnya rasa cinta kepada Tuhan, cinta pada sesama, dan cinta pada lingkungan. Jika kita mampu mencintai Tuhan seutuhnya, maka kita juga akan mencintai makhluk ciptaan-Nya.

Pada event tahun 2019 diselenggarakan di Cadas Ngampar, Kopiluhur, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Lokasi tersebut merupakan dataran tertinggi di Kota Cirebon dan sekaligus berdekatan dengan Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Kopi Luhur. Sebagai informasi, TPA Kopi Luhur menampung seluruh sampah dari kota Cirebon dan terus bertambah setiap tahunnya. Menurut Kompas, jumlah sampah yang terus meningkat membuat TPA Kopi Luhur diperkirakan penuh tiga tahun lagi. Jika tanpa pengelolaan sampah di masyarakat, maka TPA tersebut tidak akan digunakan lagi. Oleh karena itu, pelaksana memutuskan event Jagakali Art Festival pun digelar di tempat tersebut yang diharapkan dapat mengedukasi masyarakat sekitar dan mencari solusi bagi permasalahan lingkungan yang tengah terjadi. 



Dari festival ini, kita bisa melihat bahwa ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk membangkitkan kepedulian kita terhadap lingkungan. Seni dan budaya adalah media yang bisa menarik banyak atensi publik. Kita semua memiliki irisan kepentingan yang sama untuk menjaga bumi terlepas dari apapun latar belakang kita. Selain itu, dengan adanya pertunjukkan beragam seni dan budaya, maka kita juga turut menjaga kelestariannya. Melestarikan budaya artinya ikut menjaga lingkungan.

Seniman memiliki rasa dan kepekaan tersendiri, terutama tentang alam dan lingkungan karena alam adalah sumber inspirasi. Seniman dan alam saling berkaitan erat. Kampanye menjaga lingkungan melalui festival oleh seniman dinilai efektif dalam membangkitkan kesadaran masyarakat tentang kondisi lingkungan yang sedang tidak baik-baik saja, sehingga diharapkan semakin banyak yang peduli lagi dan mau berkontribusi dalam menjaga bumi.

Untukmu bumiku, demi bumi yang lestari.


Referensi:

About Cirebon. (2019). Jagakali Internasional Art Festival, Kampanyekan Lingkungan Hidup Melalui Seni Budaya. Diakses melalui https://aboutcirebon.id/jagakali-internasional-art-festival-kampanyekan-lingkungan-hidup-melalui-seni-budaya/ pada 15 Agustus 2021

Ashri, Abdullah Fikri. (2021). Tanpa Pengelolaan Sampah, Usia TPA Cirebon Tersisa Tiga Tahun. Diakses melalui https://www.kompas.id/baca/nusantara/2021/06/07/tanpa-pengelolaan-sampah-usia-tpa-kota-cirebon-tersisa-tiga-tahun pada 15 Agustus 2021

Cirebon Kota. (2021). Tentang Cirebon. Diakses melalui https://www.cirebonkota.go.id/tentang-cirebon/geografis/ pada 15 Agustus 2021

Jagakali Art Festival [@jagakaliartfest]. 30 Oktober 2019. Dokumentasi Jagakali Art Festival 2019 [Foto Instagram]. Diakses melalui https://www.instagram.com/p/B4PgvegDC3V/?utm_medium=copy_link pada 01 Agustus 2021.


8 komentar:

  1. Akhirnya tulisan yang ditunggu-tunggu keluar juga 😘💯👏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi makasih sudah menunggu 😘❤️❤️

      Hapus
  2. Memang selalu edukatif tulisannya 🥰😍❤️💞

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah, terima kasih🥰❤️❤️

      Hapus
  3. Menarik sekali acaranya, kita bisa menikmati seni & budaya serta edukasi tentang lingkungan. Semoga acara seperti ini semakin banyak ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, semoga semakin banyak acara seperti ini ya biar banyak yg semakin peduli dengan lingkungan 😊

      Hapus
  4. Menarik acaranya semoga pandemi usai dan bisa diadakan kembali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, karena pandemi acaranya jadi virtual

      Hapus