Selasa, 15 Februari 2022

Absurditas dan Sisyphus


Pernahkah kamu berpikir bahwa hidup ini benar-benar absurd, penuh ketidakpastian, dan misteri. Lalu untuk apa kita menjalani hidup ini? untuk apa bekerja setiap hari? apa tujuan hidup? dan pertanyaan lainnya yang sering terlintas di benak kita. Terkadang kita juga pasti punya pemikiran bahwa segala sesuatu terjadi bukan karena kebetulan. Pasti ada alasan atas segala sesuatu yang terjadi. 




Aku pernah mempelajari tentang konsep absurditas dari pemikiran Albert Camus saat studi Prancis. Aku ingin membagikannya melalui tulisan ini karena menurutku ini sangat berguna, relate dengan kehidupan saat ini, dan semoga teman-teman yang membaca bisa memahaminya. Esai berjudul Le Mythe de Sisyphe (1942) adalah sebuah esai karya Albert Camus yang menguraikan pandangannya tentang absurditas. Absurditas sendiri merupakan keadaan ketika kita menyadari bahwa kita terjebak ke dalam rutinitas hidup (lahir, sekolah, kerja, makan, tidur, dewasa, mati). Esai ini merupakan sebuah alegori yang mencoba meyakinkan manusia bahwa kehidupan ini absurd dan tidak memiliki arti, tetapi terlepas dari itu semua manusia harus tetap menjalaninya sebagai tantangan dalam kehidupan.

Pada awal esainya, Camus menjelaskan tentang korelasi antara bunuh diri dan kematian.  Hidup yang dianggap « ne vaut pas la peine » atau tidak lagi layak untuk dijalani dapat diakhiri dengan kematian. Camus meminjam analogi Sisyphus (dalam Mitologi Yunani) yang merupakan representasi dari manusia dan hukuman yang dijalani Sisyphus melambangkan tantangan yang harus manusia jalani setiap hari di sepanjang kehidupan. Manusia yang bekerja tanpa henti dari hari ke hari untuk mencapai sesuatu, sama dengan Sisyphus yang terus-menerus mencoba mendorong bongkahan batu ke atas bukit sebagai hukumannya.  

Camus memilih Sisifus untuk menjelaskan konsep absurditasnya. Sisifus dihukum oleh dewa karena ia telah membocorkan rahasia Jupiter, tidak mau kembali ke dunia bawah, dan lain-lain. Hukuman yang harus diterima Sisifus adalah mendorong batu dari kaki gunung hingga ke puncak gunung. Ketika batu itu mencapai puncak, batu itu lalu menggelinding ke kaki gunung. Sisifus harus mendorong Kembali batu itu. Hukuman tersebut terus dijalani oleh Sisifus tanpa henti.

 

Camus menjelaskan bahwa Sisyphus yang terus menerus bekerja, tetapi merasa bahagia. Alegori yang menjelaskan Sisyphus sebagai representasi dari kebahagiaan terletak pada hukumannya. Hukuman yang diterima Sisyphus merupakan suatu hal yang membuatnya terus hidup. Sisyphus bahagia karena ia menerima hukuman yang diberikan kepadanya, dan ia pun memahami bahwa ia harus terus mendorong batu besar tersebut ke puncak demi mencapai tujuannya, yaitu kebahagiaan. 

Sisyphus yang tidak pernah menyerah untuk mendorong batu ke atas bukit dan kegigihannya dalam menjalankan hukuman merupakan bentuk dari kebahagiaan itu sendiri. Dengan adanya penggambaran kebahagiaan dalam kisah Sisyphus, Camus mengajarkan bahwa sesungguhnya manusia dapat menghadapi segala absurditas dalam kehidupan; ketika kita memahami absurditas itu, maka kita dapat mengatasinya; dan selanjutnya berjalan pada proses menuju kebahagiaan.

Dapat disimpulkan, Camus ingin mengatakan bahwa hidup ini memang absurd, kawan. Namun, karena kita telah dilahirkan di dunia ini maka berjuanglah untuk kehidupanmu, menjadi humanis, lakukan saja apa yang seharusnya kita lakukan, dan jalani kehidupan dengan penuh dignity sampai kematian menghampiri. Sebagai penutup, ada kutipan dari Camus yang bisa kita renungi. 



Moi, j’avais l’air d’avoir les mains vides. Mais j’étais sûr de moi, sûr de tout, plus sûr que lui, sûr de ma vie et de cette mort qui allait venir. Oui, je n’avais que cela. Mais du moins, je tenais cette vérité autant qu’elle me tenait. J’avais eu raison, j’avais encore raison, j’avais toujours raison! - Albert Camus


I looked like I was empty handed. But I was sure of myself, sure of everything, more sure than him, sure of my life and of this death that was to come. Yes, I only had that. But at least I held this truth as much as it held me. I was right, I was still right, I was always right! - Albert Camus 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar