Minggu, 17 Oktober 2021

5 Hal yang Bisa Kita Lakukan dalam Menghadapi Pemanasan Global

Halo teman-teman, apa kabar? Semoga dalam keadaan baik-baik saja ya. Di tulisan kali ini aku mau membahas tentang konten Eco Blogger Gathering kemarin (15/10/2021). Pada gathering Eco Blogger Squad kemarin mengangkat tema “Bumi Semakin Panas, Kode Merah Bagi Kemanusiaan” dengan pembicara kak Anggi dari Madani Berkelanjutan dengan dipandu oleh kak Fransiska Soraya seperti biasa. Acaranya seru sekali dan tentu saja materinya pun “daging” banget. Selain itu, kita juga bisa bertukar pikiran dan pendapat antar blogger, sehingga kitab isa saling mendapatkan insight baru.



Kamu merasa nggak sih saat ini cuaca sangat panas sekali? Tapi kadang-kadang tiba-tiba hujan deras terus tiba-tiba panas lagi. Kira-kira kenapa ya? Mungkin Sebagian dari kita sadar bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja, yah betul this is the red code for humanity! Menurut Laporan dari IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), suhu permukaan global 1,09C lebih tinggi dalam sepuluh tahun antara 2011 – 2020 dan lima tahun terakhir ini adalah suhu terpanas dalam sejarah sejak 1850, loh! Menurut Paris Agreement seharusnya pemanasan global tak melebihi 1,5 derajat celcius.

Selain itu, ternyata pengaruh manusia sangat mungkin menjadi alasan utama dalam terjadinya krisis iklim. Indonesia juga merupakan yang “highly vulnerable” terhadap dampak krisis iklim. Namun sayangnya, Indonesia sendiri merupakan negara ter-denial dalam hal ketidakpercayaan bahwa pemanasan global dipicu oleh manusia (Berdasarkan survey yang dilakukan oleh YouGove, perusahaan analitik data di Inggris, sebagai bagian dari Proyek Globalisme YouGove-Cambridge dan The Guardian pada 2019). Lalu, sebagai generasi muda, apa yang bisa kita lakukan? Simak tulisan ini sampai habis ya!

1. Eat less meat

Pasti kamu sudah tidak asing lagi dengan pernyataan bahwa salah satu cara menekan pemanasan global adalah dengan mengurangi makan daging. Yup, hal ini senada dengan laporan IPCC bahwa memerangi pemanasan global bisa dimulai dengan urusan kita dalam memilih makanan, loh! Menurut Food and Algiculture Organization, daging merupakan salah satu produk pangan dengan emisi terbesar, misalnya daging sapi per kilogramnya bisa menghasilkan 26,5 kilogram gas emisi.

Faktor penyebabnya antara lain karena produksi pangan sapi, kotoran ternak, distribusi daging, pembukaan lahan untuk peternakan. Ketika lahan makin berkurang, populasi semakin bertambah, dibungkus dengan iklim yang semakin memanas, maka ini merupakan kombinasi yang mengkhawatirkan.

Namun masalahnya adalah di negara yang masih berkembang seperti di Indonesia sendiri masyarakatnya masih kekurangan dalam mengonsumsi daging. Sementara itu, di negara maju masyarakatnya terlalu banyak makan daging. Hal ini menunjukkan bahwa kelas menengah ke atas masih terlalu banyak mengonsumsi daging, sedangkan kalangan kelas bawah masih kekurangan. Oleh karena itu dibutuhkan terlebih dahulu kesadaran tentang hal ini. Berita baiknya saat ini tren vegan dan vegetarian meningkat secara signifikan, banyak orang yang mulai sadar tentang gaya hidup ini, dan banyak juga restoran yang mulai menyediakan menu atau berkonsep vegan dan vegetarian, loh. Semoga semakin banyak lagi orang yang sadar akan korelasi antara konsumsi daging dengan pemanasan global, sehingga kita semua sebagai penduduk bumi bisa menekan pemanasan global.

2. Say no to plastic bags

Di keseharian kita pasti kerap menemukan plastik, baik dalam bentuk kantong plastik maupun botol hingga sedotan. Tahukah kamu bahwa plastik mengandung metana dan etilena yang merupakan senyawa berbahaya. Hal inilah yang berkontribusi dalam pemanasan global karena senyawa tersebut menghasilkan gas rumah kaca. Belum lagi plastik sangat amat sulit terurai, karena dibutuhkan waktu ratusan hingga ribuan tahun. Apalagi pernah ada penemuan sebuah tumpukan besar plastik di Samudera Pasifik. Sampah plastik tersebut sangat berpotensi mengganggu dan mencemari keseimbangan ekosistem laut. Contohnya pernah ada Paus yang mati dan terdampar di Wakatobi yang ternyata di dalam perutnya penuh dengan sampah plastik. Sangat mengenaskan bukan?

Nah, jadi yuk mulai kebiasaan diet plastik, misalnya dengan selalu membawa kantong belanjaan sendiri dan membawa botol sendiri. Jika kita terpaksa menggunakan plastik, maka jangan langsung membuangnya, tetapi simpan dan gunakan lagi untuk nanti. Memang sulit untuk memulai kebiasaan baik dan simple ini, tetapi kalau tidak mulai sekarang kapan lagi? Bahkan kalau kita tidak melakukan tindakan pencegahan pun pemanasan global akan tetap terjadi.

 

3. Stop food waste

Hayo siapa di sini yang kalau makan sering nggak habis? Hehehe aku adalah salah satunya. Tahukah kamu bahwa ternyata menyisakan makanan dan membuangnya begitu saja ternyata berdampak besar buat lingkungan, mengapa begitu? Mari kita lihat data! Menurut The Economist Intelligece unit, sepertiga dari seluruh makanan di dunia (1,3 juta ton makanan) terbuang sia-sia. Kemudian, setiap orang di Indonesia ternyata menghasilkan 300 kg sampah makanan per tahunnya, loh. Sangat banyak ya?!

Lalu apa kaitannya dengan pemanasan global? Jadi, ternyata makanan yang terbuang sia-sia dan tertimbun di tanah akan terurai dan menghasilkan metana yang merupakan gas rumah kaca. Hal inilah yang menyebabkan naiknya suhu bumi, karena faktanya gas metana 25 kali lebih kuat dalam memerangkap panas matahari dibandingkan dengan karbondioksida. Belun lagi dalam proses pembuatan pangan pun berarti harus terbuang sia-sia karena makanan yang tersisa.

Sungguh memprihatinkan juga karena ternyata kita sebagai individu yang masih bisa makan dengan mudah tetapi masih juga membuang-buang makanan. Sementara itu, di luar sana masih banyak orang yang kurang beruntung dan bahkan kekurangan gizi. Oleh karena itu, kita harus lebih peduli dan sadar tentang dampak dari kebiasaan food waste ini. Yuk mulai perubahan kecil dari diri sendiri!

4. Thrift the clothes 

Tahukah kamu bahwa ternyata thrifting bukan cuma ramah di kantong, tetapi thrifting juga punya manfaat lainnya buat lingkungan, loh. Apalagi saat ini tren belanja baju bekas sedang melonjak tinggi di kalangan anak muda dan semakin populer di kalangan masyarakat luas. Lalu sebenarnya apa peran thrifthing buat lingkungan? Hal ini karena industri fashion seringkali mengeluarkan banyak desain baru dalam waktu singkat, sehingga membuat masyarakat lebih konsumtif dalam membelanjakan pakaian agar selalu mengikuti tren. Sementara itu, industri fashion juga menyumbang limbah yang banyak dan sulit terurai, misalnya dalam membuat satu celana jeans saja dibutuhkan beberapa ratus air galon. Oleh karena itu, membeli pakaian bekas alias thrifting sama saja membuat kita berperan dalam mengurangi pencemaran limbah dan menjaga lingkungan.

5. Speak up! 

Cara yang paling mudah adalah speak up! Sering-seringlah menyuarakan tentang isu lingkungan, krisis iklim, dan pemanasan global kepada orang di sekitar tentang betapa mendesak dan pentingnya isu ini. Kamu juga bisa mengikuti beragam komunitas yang peduli terhadap isu lingkungan, baik di sekolah, kampus, atau di manapun. Dengan menyuarakan ini, maka akan berdampak pada tumbuhnya kesadaran orang-orang di sekitarmu yang belum paham akan isu lingkungan dan pemanasan global. Yuk jadikan isu lingkungan sebagai bahan obrolan di tongkrongan!

 

Nah, itu dia lima hal sederhana yang bis akita lakukan dalam menghadapi pemanasan global. Semoga bermanfaat ya teman-teman! 😊

Salam generasi restorasi, untukmu bumiku! πŸ’š

 

10 komentar:

  1. Keren fay, thanks insightnya!!! keep shining!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah membaca πŸ˜ŠπŸ™

      Hapus
  2. Wah menarik ya, insightful πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kak sudah membaca πŸ˜„

      Hapus
  3. Very insightful! Bahasanya dikemas dengan apik dan padet banget daging. Semoga banyak yg tersadarkan akan pentingnya menjaga bumi dan mencegah global warming ya. Sukses trs author^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaaah terima kasih Intan RosΓ© ❤️❤️

      Hapus
  4. Satu kata buat insight baru ini; menyegarkan. Biasanya isu global warming tampil sangat menyeramkan, (brp tahun lgi usia bumi dst) tulisan ini keluar dari citra menyeramkan itu. Sebuah kampanye alternatif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah membaca 😊 sebuah komentar yang luar biasa, berasa baca review buku πŸ˜„

      Hapus
  5. Setuju sekali Fay, yuk kita peduli terhadap lingkungan!

    BalasHapus