Kamis, 18 November 2021

Mengenal Lebih Jauh tentang Biofuel

Halo teman-teman, apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan baik ya 😊

Aku mau sharing tentang materi Eco Blogger Gathering minggu lalu (12/11/2021) nih hehehe. Di gathering kemarin membicarakan seputar mengenal lebih jaul tentang biofuel, loh. Cukup berat bahasannya bagiku karena banyak istilah asing yang sebelumnya tidak kuketahui, tapi secara keseluruhan materinya daging banget. Hal ini tidak diragukan lagi karena pada gathering ini mengundang pembicara yang mumpuni di bidangnya, yaitu kak Ricky dari Traction Energy Asia dan kak Kukuh dari Madani Berkelanjutan. Tentu saja acara ini semakin menarik dan seru karena dipandu oleh kak Fransiska Soraya dan bertemu dengan teman-teman blogger lainnya yang menambah insight baru seputar biofuel. Nah langsung saja aku bahas ya, baca sampai akhir!



Sebagai orang Indonesia, tentu saja kita tidak asing dengan makanan yang digoreng. Makanan Indonesia memang didominasi oleh sesuatu yang digoreng, seperti nasi goreng, ayam goreng, bahkan gorengan yang banyak jenisnya. Makanan ini tentu saja nikmat dan membuat kita ketagihan. Namun, tahukah kamu minyak bekas makanan yang digoreng punya potensi untuk dimanfaatkan untuk program biofuel?

Sebelumnya, biofuel merupakan bahan bakar nabati (BBN) yang berasal dari bahan-bahan nabati atau dihasilkan dari bahan-bahan organik lain. Jenis bahan bakar nabati yang sering dikenal adalah biodiesel dan etanol. Bahan bakar nabati digunakan untuk mengganti bahan bakar fosil karena bahan bakar nabati termasuk ramah lingkungan dibandingkan dengan bahan bakar fosil yang berdampak pada kerusakan lingkungan hingga memicu krisis iklim.

Pemerintah Indonesia sendiri telah mencanangkan peraturan pengganti bahan bakar fosil melalui pengembangan bahan bakar nabati berbasis sawit, seperti biodiesel. Mengapa bahan bakar nabati harus dikembangkan? Hal ini dilakukan karena bahan bakar nabati hanya menghasilkan seperempat dari karbondioksida (CO2) yang dihasilkan dari bahan bakar fosil. Selain itu, minyak sawit juga merupakan tanaman penghasil minyak nabati terproduktif dan paling ekonomis.

Meskipun begitu, penggunaan minyak sawit untuk bahan bakar nabati menimbulkan kontroversi karena minyak sawit sering dikaitkan dengan deforestasi. Hal ini karena perkebunan kelapa sawit ilegal sering membuka lahan hutan sehingga menimbulkan punahnya beragam keanekaragaman hayati dan memicu terjadinya krisis iklim. Selain itu, sektor ini merupakan penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di Indonesia karena pembukaan lahan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Dari hal ini, kita bisa melihat bahwa penggunaan kelapa sawit sebagai bahan bakar nabati sangat dilematis. Oleh karena itu, dibutuhkan keselarasan kebijakan bahan bakar nabati dengan komitmen iklim. Pada praktiknya, deforestasi merupakan dampak dari pengggunaan kebijakan bahan bakar nabati. Namun, melarang penggunaan bahan baku sawit pun bukan solusi. Diperlukan peraturan penggunaan sawit secara berkelanjutan sebagai solusi untuk mengatasi dilema sawit di Indonesia.

Bahan bakar nabati merupakan masa depan penggunaan bahan bakar yang potensial karena berperan penting sebagai energi terbarukan dan alternatif yang akan memberikan dampak luar biasa untuk manusia dan lingkungan, sehingga perlu dimanfaatkan secara bijaksana dan berkelanjutan. Perkebunan sawit mandiri pun perlu dilibatkan dalam rantai pasok biodiesel mengingat bahwa 40% lahan sawit didominasi oleh perkebunan sawit mandiri. Memasukkan mereka ke dalam rantai pasok biodiesel akan berdampak pada kesejahteraan para petani sawit, mengurangi deforestasi, dan menjaga hutan alam yang tersisa. 

Nah, seperti yang disinggung di awal bahwa minyak goreng sisa pun bisa dimanfaatkan sebagai biodiesel loh! Menurut data dari Traction Energy Asia, konsumsi minyak goreng di Indonesia (2019) mencapai 13 juta ton atau 16,2 juta kilo liter. Hanya kurang dari 18, 5% sisa konsumsi minyak goreng yang dapat dikumpulkan sebagai bahan baku minyak jelantah. Lalu kemana mengalirnya minyak sisa yang telah digunakan? Jadi, dari total 3 juta KL minyak jelantah, hanya kurang dari 570 ribu KL yang dimanfaatkan sebagai biodisel maupun kebutuhan lainnya. Sebagian besarnya digunakan untuk minyak goreng daur ulang dan ekspor. Jika minyak jelantah dikelola dengan baik, maka berpotensi untuk memenuhi 32% kebutuhan biodiesel nasional, loh! Selain itu, dapat berkontribusi dalam mengurangi 91,7% emisi karbondioksida. Wah banyak juga ya manfaatnya!

Nah itu tadi seputar biofuel dan beragam manfaatnya. Semoga sedikit yang aku tulis bisa menambah pengetahuan teman-teman ya! sampai jumpa ditulisan berikutnya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar